MAGELANG, METRO — Cahaya senja perlahan menyelimuti kawasan Borobudur ketika Riyadh Salman berdiri di samping Nithalie Louisza. Di belakang keduanya, siluet Candi Borobudur menjadi latar sebuah awal baru.
Sabtu, 26 September 2026, bukan sekadar hari pernikahan bagi Riyadh. Di tengah kemegahan pesta di Pelataran Manohara Borobudur, ia membawa serta jejak keluarga dan identitas Minangkabau yang melekat pada dirinya sebagai putra Bally Saputra Datuak Jano Sati dan Lessy.
Pernikahan Riyadh dan Nithalie berlangsung dalam perpaduan budaya Nusantara dan kemewahan modern. Rangkaian acara digelar di The Manohara Hotel, kemudian berlanjut dalam perayaan outdoor di kawasan Manohara Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Pemilihan Borobudur menghadirkan perpaduan yang menarik. Warisan budaya Jawa menjadi latar, sementara keluarga mempelai pria membawa akar Minangkabau dari Sumatera Barat.
Nuansa Minangkabau menjadi bagian penting dalam rangkaian pernikahan tersebut. Tradisi keluarga hadir berdampingan dengan konsep modern, tata cahaya, dekorasi, serta instalasi videotron berukuran besar yang tetap mempertahankan pemandangan Candi Borobudur.
Riyadh membawa nama keluarganya dari Sumatera Barat ke tanah Jawa. Di tempat yang menjadi salah satu simbol warisan budaya Indonesia itu, ia memulai kisah barunya bersama Nithalie.
Sekitar 1.000 Undangan Hadir
Rangkaian acara dimulai sekitar pukul 16.30 WIB, saat para tamu diberi kesempatan menikmati suasana sore dan matahari terbenam di kawasan Borobudur. Prosesi utama kemudian dimulai sekitar pukul 18.45 WIB.
Menurut Bally Saputra Datuak Jano Sati, sekitar 1.000 undangan hadir dalam perayaan tersebut. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk keluarga, sahabat, perwakilan tamu, serta DPD REI dari berbagai wilayah.
“Alhamdulillah acara lancar di malam purnama di Hotel Manohara di halaman Candi Borobudur Magelang,” ujar Bally.
Kehadiran para undangan juga menjadikan pernikahan tersebut sebagai momentum silaturahmi antara keluarga dan kolega Bally dari berbagai daerah. Salah satu tokoh yang hadir adalah Ketua Umum DPP REI Joko Suranto.
Empat Jam dengan Adat Minang dan Kuliner Nusantara
Resepsi mengusung adat Minangkabau dan berlangsung sekitar empat jam. Para tamu tidak hanya menikmati rangkaian prosesi dan pertunjukan, tetapi juga disuguhi sekitar 20 stall makanan dan minuman.
Kuliner yang tersedia merupakan perpaduan sajian UMKM favorit dari Magelang, Yogyakarta, dan Minangkabau. Sejumlah hidangan khas Minang bahkan didatangkan khusus dari Padang dan Jakarta.
Suasana resepsi yang berlangsung berjam-jam membuat para tamu menikmati acara hingga malam. Bally mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran acara serta kepuasan para tamu, panitia, among tamu, dan keluarga.
Among tamu berada di bawah koordinasi P. Ridwan Hisjam, tokoh senior Golkar empat periode, bersama Nofrin, tokoh Pariwisata di Jakarta.
Dimeriahkan Katon Bagaskara hingga Ikang Fawzy
Suasana malam semakin meriah dengan penampilan sejumlah artis, di antaranya Katon Bagaskara, Eka Alexa, dan Ikang Fawzy, serta sejumlah penampil lainnya. Musik, kuliner, dan rangkaian adat berpadu dalam satu perayaan dengan latar Candi Borobudur dan suasana malam purnama.
Di tengah kemeriahan tersebut, ratusan karangan bunga juga memenuhi halaman hotel. Ucapan selamat datang dari berbagai tokoh, di antaranya Wakil Presiden Gibran, mantan Presiden Joko Widodo, hingga Ahmad Muzani dan lainnya.
Terima Kasih dan Mohon Doa Restu
Bally menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu yang telah datang jauh-jauh dari berbagai wilayah Indonesia.
Ia juga meminta maaf kepada sahabat dan kerabat yang tidak dapat diundang karena keterbatasan tempat di venue kawasan Candi Borobudur.
“Terima kasih kepada tamu-tamu undangan yang hadir jauh-jauh dari seluruh Indonesia dan mohon maaf bagi teman-teman, saudara-saudara yang tidak dapat diundang karena keterbatasan tempat di venue Candi Borobudur,” kata Bally, Rabu, (30/9/2026)
Ia berharap mereka yang tidak dapat hadir tetap memberikan doa dan restu bagi Riyadh dan Nithalie. “Mohon doa dan restunya saja,” ujarnya.
Pada akhirnya, malam purnama di Borobudur menjadi lebih dari sekadar pesta pernikahan. Tradisi Minangkabau dibawa ke tanah Jawa, bertemu dengan budaya Nusantara, kuliner dari berbagai daerah, musik, dan silaturahmi para tamu dari seluruh Indonesia.
Di bawah latar Candi Borobudur, Riyadh Salman dan Nithalie Louisza pun memulai perjalanan baru sebagai pasangan suami istri yang membawa serta doa keluarga dan jejak budaya yang menjadi bagian dari identitas mereka. **







