BERITA UTAMA

UNP Wisuda 1.896 Lulusan, Kalau Ingin Maju Harus Melahirkan Inovasi

×

UNP Wisuda 1.896 Lulusan, Kalau Ingin Maju Harus Melahirkan Inovasi

Sebarkan artikel ini
WISUDA— Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Dr. M Fauzan Aziman S.T., M. Eng bersama Rektor UNP Ir. Krismadinata, ST, MT, Ph.D, Civitas Akademika dan Wisudawan/ti UNP, pada wisuda ke-143, Selasa, 30 Juni 2026.

PADANG, METRO– Universitas Negeri Padang (UNP) mewisuda 1.896 lulusannya, pada wisuda ke-143 yang berlangsung dua hari, Selasa, 30 Juni 2026 dan Rabu, 1 Juli 2026.

Wisuda tersebut rinciannya, wisuda 926 lulusan pada Selasa, dan 970 lulusan pada Rabu. Pada wisuda Selasa, Direktur Jenderal (Dirjen) Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Dr. M Fauzan Aziman S.T., M. Eng., Ph.D menyampaikan orasi ilmiah dengan tema “Membangun Masa Depan Bangsa melalui Riset, Inovasi dan Talenta Unggul.”

Pada kesempatan itu, M Fauzan menceritakan kisah suksesnya menjalani bisnis bidang industri teknologi dan juga sebagai akademisi di luar negeri. Di mana, M Fauzan telah menjadi diaspora selama 22 tahun, delapan  tahun di Jepang dan 14 tahun di Inggris.

Dari pengalamannya di luar negeri, M Fauzan menilai pendidikan di Indonesia sebenarnya tidak kalah dibandingkan di luar ne­geri, mesti dijalani saat ini dengan keterbatasan.

Diungkapkannya, berdasarkan pengalamannya berkecimpung di bisnis industri teknologi di luar negeri, ada lima strategi pembelajaran yang perlu dibangun untuk dapat sukses di dunia bisnis industri.

Perkembangan tek­no­no­gi menurut Dosen di Oxford University Inggris itu, saat ini sangat pesat dan tidak bisa dibendung. Hanya butuh waktu 1,5 tahun, perkembangan tek­nologi di bidang komputer dan AI bisa mencapai dua kali lipat.

“Ada hal yang penting menggunakan AI seperti ChatGPT yang masih diinput manusia. Pertama, de­ngan peran di bidang ke­pen­didikan dan non pendidikan, ide yang dibangun harus mampu menghasilkan sesuatu untuk ma­syarakat. Kedua, talenta. Dua hal ini perlu dibangun, agar kondisi sekarang bisa diantisipasi dan keluar jadi pemenang. Terutama dengan kondisi yang sangat disruptif dan perkembangan teknologi yang sulit diprediksi,” terangnya.

Menurutnya, semua hal berubah. Hanya satu hal yang konstan yaitu perubahan. Kecepatan ide bisa kalahkan teknologi itu sen­diri. “Jangan berhenti bangun ide. Karena ide tersebut menghasilkan,” tambahnya.

Indonesia menurutnya, sudah masuk negara dengan berpendapatan menengah atas sejak tahun 2023. Jika ingin jadi Negara Indonesia masuk negara maju pada tahun 2045 nanti, harus mempertahankan pertumbuhan ekonomi di atas 5,4 hingga 5,5 persen.

“Sekarang pertumbuhan ekonomi itu tercapai, agar tetap bertahan dan bisa mencapai target di angka 8 persen. Pertumbuhan ekonomi harus miliki efek domino,” ungkapnya.

M Fauzan mengingatkan, lulusan UNP yang tamat bisa saja jadi guru, pegawai di industri pariwisata, pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Tetapi juga bisa jadi pengusaha. “Melihat jumlah populasi dunia saat ini sekitar 7 miliar, seberapa banyak yang jadi pengusaha? Ada sekitar 400 juta orang, hanya 5 persen, sangat sedikit,” terangnya.

Baca Juga  Bantuan Sosial Pasca Bencan Banjir Galodo Dan Beasiswa

Jika jumlah pengusaha di Indonesia meningkat, maka Indonesia akan menjadi negara maju yang dapat mensejahterakan ma­sya­rakatnya. Untuk mewujudkannya ada total factor productivity. “Intinya kalau ingin maju tidak bisa lagi pakai otot, tetapi pakai otak. Yang dihasilkan otak itu teknologi dan inovasi. Kalau ingin maju harus melahirkan inovasi, menghasilkan yang baru dari ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujarnya.

Dari pengalamannya menggeluti bisnis di bidang industri, M Fauzan menyampaikan ada lima hal yang menjadi pelajaran. Pertama, step by step. Yakni, inovasi adalah perjalanan bukan tujuan. Di mana, tujuan inovasi mensejah­terakan masyarakat dan menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar.

“Misalnya kalau air ku­rang bersih di kampung, bagaimana kita bisa bikin air menjadi bersih, bisa dengan melakukan penelitian filterisasi. Atau bagai­mana tanah yang tidak subur, bisa menanam sesuatu yang bisa menghasilkan dan mensejahterakan. Ini­lah butuh inovasi, agar solusi bisa bertahan lama dan berkelanjutan,” terangnya.

Inovasi bagian dari pe­ngem­bangan karir.  Karena itu perlu memahami kondisi masyarakat dengan mulai sering mendengarkan. Jika berjalan di rumah dan lokasi lainnya, seperti gunung dan pantai, banyak hal yang bisa dilihat amati dan cermati. Sehingga munculah ide. “Jangan berhenti berproses untuk terus berpikir bela­jar,mencermati kondisi sekeliling kita,” ajaknya.

Menurutnya, pendidikanlah yang bisa merubah nasib seseorang. Kesulitan yang dihadapi selama hi­dup, harus dijadikan momentum kebangkitan. “Kesulitan hidup di Indonesia jangan menjadi alasan, tetapi menjadi bahan tonggak untuk maju,” harapnya.

Pelajaran kedua, target oriented, yakni harus punya target. Manusia itu tidak punya arah. “Kadang kita lupa mau ke mana. Target oriented ini harus lebih bagus, jika ingin sukses,” ucapnya.

M Fauzan menambahkan, inovasi menjadi sangat penting ketika diga­bungkan dengan bidang lain. Namun, bagi yang mengambil jalur pengusaha, investasi terhadap orang itu, sangat penting.

M Fauzan sudah membuktikannya. Dirinya telah melahirkan berbagai inovasi teknologi industri, baik itu pesawat, bidang otomotif seperti motor listrik, bahkan satelit dan hasil inovasi dan lainnya. Bahkan dirinya telah masuk melahirkan inovasi otomotif F1, biomedical. Termasuk sekarang industri pro­duk konsumen bernilai ting­gi.

M Fauzan bahkan seka­rang memimpin perusahaan dengan berbagai warga negara. Jumlah pegawai permanen 200 orang yang berpusat di Inggris dan memiliki cabang di Amerika Serikat dan Je­pang.

Pelajaran ketiga yakni open mainded. Menurutnya, diperlukan intervensi teknologi transfer office, merubah ide-ide menjadi bisnis. Tetapi bisnis juga harus memberikan manfaat terhadap lingkungan.

Baca Juga  Kemkomdigi Berencana Batasi Akses Media Sosial Berdasar Usia

Oxfor University menurutnya, memperhatikan peluang bisnis tetapi juga telah memberikan manfaat banyak terhadap ling­kungannya. Karena itu, UNP harusnya juga perlu melihat lingkungan. UNP jika bermanfaat di lingkungannya maka juga bermanfaat di dunia.

Pelajaran keempat, realistic atau realistis. “Kalau perlu modal dalam menjalankan bisnis, juga harus perlu berhitung modal itu kapan dikembalikan. Tapi kalau mengembangkan teknologi perlu orang. Ka­rena itu harus tahu orang itu digaji. Realistis menjadi penting,” terangnya.

Pendidikan tinggi itu ada non formal yang jauh lebih penting. Karena itu  menguasai AI dan digital di bidang apa saja sangat penting. Belajarlah AI dan digital, karena akan menjadi kebutuhan umum.

Pelajaran kelima, you atau kamu, kita semua. “Kita semua menjadi penting, perlu membangun energi dalam diri kita. Coba dulu. Kita ini paling kunci. SDM kita yang paling penting,” terangnya.

Rektor UNP, Ir. Krismadinata, ST, MT, Ph.D berpesan kepada wisudawan-wisudawati hari itu, agar jangan berhenti pada gelar yang diraih. Lulusan UNP menurutnya agar tumbuh menjadi insan pembelajar, pemimpin masa depan, inovator yang membumi dan pengerak perubahan yang tidak tercerabut dari nilai-nilai kemanusiaan.

“Kami berharap di ma­na­­pun saudara berada, orang akan melihat lulusan UNP adalah lulusan yang cerdas pikirannya, baik budi pekertinya, tangguh langkahnya dan luas manfaatnya,” harapnya.

Krismadinata juga berpesan kepada lulusan UNP agar jangan takut menatap masa depan. “Kepada lulusan, hidup memang tidak selalu memberikan sekaligus. Kadang Allah hanya menunjukkan satu langkah pertama, agar belajar percaya. kadang jalan tidak segera tampak agar kita belajar sabar. Kadang hasil belum datang agar kita belajar ikhlas,” ungkapnya.

“Tetapi selama saudara terus menjaga niat baik, terus berikhtiar, belajar dan melangkah, insya Allah masa depan akan datang menyambut dengan caranya sendiri,” ha­rap­nya.

Wisuda ke-143 UNP dihadiri, Ketua, Sekretaris dan Anggota Majelis Wali Amanat UNP, Ketua, Sekretaris dan Anggota Senat Akademik UNP, Senior Eksekutif UNP, Wakil Rektor, Sekretaris, Dekan, Direktur Sekolah Pascasarjana dan Sekolah Vokasi se-Lingkungan UNP, serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNP.

Juga hadir Forkopimda Sumbar, Kepala Badan Pen­jamin Mutu Internal, Kepala Satuan Pengawas Internal, Kepala UPT, Kepala Pusat, Kepala Kantor dan Kepala Divisi di UNP. Termasuk juga Pimpinan Bank Nagari, BTN, BNI, BRI, dan Bank Syariah Indonesia, serta mitra UNP lainnya. (fan/adv)