PADANG, METRO—Universitas Negeri Padang (UNP) mewisuda 1.681 lulusannya pada Wisuda Periode ke-142 yang berlangsung dua hari, Minggu dan Senin (5-6/4) di Auditorium UNP.
Wisuda hari pertama Minggu, UNP mewisuda 836 lulusan. Sementara pada hari kedua diwisuda sebanyak 843 lulusan. Pada hari pertama wisuda, dihadiri Dr. Beny Bandanadjaja, S.T, M.T, Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi RI, yang berkesempatan memberikan orasi ilmiah.
Rektor UNP, Krismadinata, Ph.D mengucapkan selamat dan sukses kepada wisudawan wisudawati. Pada wisuda hari kedua, Krismadinata tidak kuasa menahan tangis saat menyampaikan pidato di hadapan ratusan wisudawan-wisudawati dan orang tua yang hadir. Sekali-sekali ia mengusap matanya saat menyampaikan pesan terkait pengorbanan orang tua dalam memperjuangkan anaknya, hingga menyelesaikan kuliahnya sampai wisuda.
“Ada satu golongan yang mulia yang layak berada di tempat lebih tinggi, yakni orang tua kita yang hadir di kursi tamu. Hari ini dipulangkannya doa orang tua dengan cara yang sangat indah,” ungkap Krismadinata.
“Mungkin hari ini yang tampak berdiri anak anak-anak. Tapi yang ikut berdiri tapi jerih payah bapak dan ibu. Yang diwisuda hari ini buah dari sabar bapak dan ibu. Yang ikut menerima kehormatan hari ini buah cinta bapak dan ibu yang bertahun tahun tidak pernah putus, mesti sering dipendam dalam bentuk pengorbanan” ucap Krismadinata yang membuat suasana hening di ruangan itu.
“Barangkali pagi ini tampak ada ayah yang duduk tegak tenang seolah biasa saja. Tetapi sesungguhnya di dalam dadanya ada gelombang yang sulit dijelaskan. Seorang ayah tidak pandai menangis di depan banyak orang. Dia memilih diam, kuat menyimpan haru di dalam dada. Tapi Allah tahu betapa banyak beban yang pernah ia pikul, agar anaknya bisa belajar,” ungkap Krismadinata dengan suara mulai serak.
“Betapa banyak letih yang ditahan, agar anaknya tidak perlu tahu. Betapa sempit keadaan saat itu, betapa banyak kuatiran agar putra putrinya berjalan percaya diri,” tambahnya sambil mengusap air matanya, yang disambut tepuk tangan seisi ruangan.
“Barangkalai ada ibu yang pagi ini tersenyum, merapikan baju membetulkan jilbab atau memandang panggung dengan wajah tenang. Tetapi di matanya ada lautan kenangan sedang pasang. Ibu mana yang tidak ingat anaknya, ketika pertama kali berangkat ke kampus,” tambah Krismadinata haru.
“Ibu mana yang tidak ingat, masa-masa ketika anaknya sakit, lelah pulang larut malam, bingung dengan tugas, cemas dengan masa depan atau hampir putus asa, jika ada skripsi dan tesis tidak kunjung selesai. Seorang ibu sering kali tidak punya kata kata besar, tetapi doanya adalah langit yang tidak pernah berhenti menaungi anak-anaknya,” ujar Krimasdinata.
Tidak hanya Krismadinata saja yang tidak kuasa menahan tangis, pidato yang disampaikannya juga membuat suasana di ruangan itu penuh haru. Para orang tua dan wisudawan-wisudawati yang hadir di ruangan itu juga ikut menangis.
Melanjutkan pidatonya, Krismadinata menyampaikan pesan penting kepada wisudawan, ada pengorbanan yang cukup besar dari orang tua. Kepada wisudwan wisudawati, jangan pernah lupa kepada orang tua yang telah mengantarkan mereka sampai pada saat ini, melalui pengorbanan tenaga, waktu, perasaan dan doa mereka.
Krismadinata juga mengingatkan tantangan kepada wisudawan-wisudawati, bahwa hari ini wisuda digelar di zaman yang tidak biasa. Dunia yang dihadapi bergerak sangat cepat. Saat ini hidup di masa konflik global berdampak gangguan energi. Ketika iklim memberikan dampak nyata, kecerdasan buatan artificial intelegence (AI) telah masuk ke semua lini kehidupan.
“Dunia ke depan bukanlah dunia yang ramah, yang menguji daya lenting, daya tahan, dan daya belajar kita. Yang menentukan nasib kalian bukanlah seberapa gemilang IPK kalian, tetapi seberapa kuat karakter kalian. Bukan hanya pengetahuan yang kalian hafal, tetapi ketangguhan yang kalian praktikkan. Bukan sekadar kecerdasan otak, tetapi kerendahan hati untuk terus tumbuh,” tegasnya.
Karena itu, kami ingin kalian mengingat satu kalimat ini, dan simpan dalam-dalam di hati: Wisuda bukan garis finis. Wisuda deklarasi bahwa kalian baru saja meninggalkan dermaga, dan lautan luas terbentang di depan mata,” ingatnya
Kepada para wisudawan dan wisudawati, Krismadinata juga mengingatkan agar berani tidak takut pada perubahan. Jangan melihat AI sebagai monster yang akan memakan pekerjaanmu. Lihatlah ia sebagai alat, dan kau adalah pengendalinya. Manusia yang paling relevan bukan yang paling keras menolak teknologi, tetapi yang paling cepat belajar memanfaatkannya untuk kebaikan.
Krismadinata juga mengingatkan, agar wisudawan wisudawati berani mengambil kesempatan, sekecil apa pun. Karena masa depan tidak datang dua kali. UNP menurutnya tidak hanya ingin meluluskan sarjana, tetapi ingin melahirkan insan pembelajar, pemimpin masa depan, inovator lapangan, dan penggerak perubahan.
“Alumni UNP yang hadir bukan hanya sebagai pencari kerja, tetapi sebagai pencipta solusi. Bukan sekadar pemakai teknologi, tetapi pembuat etika teknologi. Bukan hanya penikmat perubahan, tetapi pengarah perubahan,” tegasnya.
Hadir pada Wisuda ke-142 UNP hari itu, Ketua, Sekretaris dan Anggota Majelis Wali Amanat UNP, Ketua, Sekretaris dan Anggota Senat Akademik UNP, Senior Eksekutif UNP, Wakil Rektor, Sekretaris, Dekan, Direktur Sekolah Pascasarjana dan Sekolah Vokasi se-Lingkungan UNP, serta Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNP.
Juga hadir Forkopimda Sumbar, Kepala Badan Penjamin Mutu Internal, Kepala Satuan Pengawas Internal, Kepala UPT, Kepala Pusat, Kepala Kantor dan Kepala Devisi yang ada di UNP. Termasuk juga Pimpinan Bank Nagari, Bank BTN, Bank BNI, Bank BRI, dan Bank Syariah Indonesia, serta mitra UNP lainnya.(fan/adv)






