SOLOK, METRO – Kabupaten Solok layak berbangga. Di tengah dominasi nama Brebes sebagai ikon bawang merah nasional, daerah di Sumatera Barat ini memiliki keunggulan yang jarang disadari publik. Jika berbicara tentang produksi yang lahir langsung dari hamparan lahan pertanian dalam satu wilayah kabupaten, Solok tampil sebagai salah satu sentra bawang merah paling produktif di Indonesia.
Dengan produksi mencapai 216.148 ton per tahun, sebagian besar ditopang oleh tiga kecamatan, yakni Lembah Gumanti, Lembang Jaya dan Danau Kembar, Solok tidak hanya menjadi yang terbesar di Sumatra, bahkan nusantara dan menjadi kekuatan penting dalam menjaga pasokan bawang merah nasional.
Di tengah berbagai tantangan sektor pertanian nasional, Kabupaten Solok diam-diam menjelma menjadi salah satu pusat produksi bawang merah paling strategis di Indonesia. Dari kawasan dataran tinggi yang berhawa sejuk, ribuan petani setiap hari menggerakkan roda ekonomi yang nilainya diperkirakan mencapai lebih dari Rp6 triliun per tahun.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pertanian tahun 2023, produksi bawang merah Kabupaten Solok mencapai 216.148 ton. Angka tersebut menempatkan Solok sebagai produsen bawang merah terbesar di Sumatra dan bahkan secara nasional produktivitas tertinggi dalam satu kabupaten tanpa disangga oleh daerah lain.
Namun ada fakta menarik di balik capaian tersebut. Sebagian besar produksi itu berasal dari tiga kecamatan utama, yakni Lembah Gumanti dan Danau Kembar dan Lembang Jaya terutama kawasan Alahan Panjang yang telah lama dikenal sebagai jantung produksi bawang merah Sumatera Barat.
Jika menggunakan asumsi harga rata-rata Rp30.000 per kilogram, maka produksi bawang merah Solok menghasilkan nilai ekonomi lebih dari Rp6 triliun setiap tahun. Nilai tersebut bukan dinikmati oleh satu atau dua perusahaan besar, melainkan tersebar langsung ke tengah masyarakat melalui aktivitas petani, buruh tani, pedagang, jasa transportasi, toko sarana produksi pertanian, hingga pelaku usaha kecil lainnya.
Besarnya nilai ekonomi bawang merah Solok menjadi semakin menarik jika dilihat dari perspektif pembangunan daerah.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai proyek investasi bernilai hingga Rp8 triliun di Sumbar menjadi perhatian publik karena diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun investasi berskala besar umumnya membutuhkan waktu panjang, mulai dari tahap perencanaan, pembangunan hingga operasional sebelum manfaat ekonominya benar-benar dirasakan masyarakat.
Sementara itu, petani bawang merah Solok telah menghadirkan perputaran ekonomi sekitar Rp6 triliun setiap tahun secara nyata dan berkelanjutan.
Tentu keduanya tidak dapat dibandingkan secara langsung karena memiliki karakteristik berbeda. Namun fakta ini menunjukkan bahwa sektor pertanian rakyat merupakan kekuatan ekonomi yang sudah bekerja hari ini, menghasilkan nilai tambah, membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi masyarakat secara langsung.
Dengan kata lain, jika investasi besar adalah harapan ekonomi masa depan, maka petani bawang merah Solok adalah mesin ekonomi yang sudah berjalan saat ini.
Keberhasilan Solok tidak lahir begitu saja. Kabupaten yang berada di kawasan pegunungan Bukit Barisan ini memiliki keunggulan alam yang tidak dimiliki banyak daerah lain.
Kawasan Alahan Panjang dan sekitarnya memiliki iklim mikro dataran tinggi yang sejuk, tanah vulkanis yang subur, serta kontur lahan berlereng dengan sistem drainase alami yang baik. Kondisi tersebut memungkinkan petani menanam dan memanen bawang merah hampir sepanjang tahun.
Kemampuan produksi sepanjang tahun atau all year round inilah yang menjadi salah satu kekuatan utama Solok.
Ketika sejumlah sentra bawang merah nasional mengalami penurunan produksi akibat cuaca ekstrem atau banjir, Solok tetap mampu menjaga pasokan. Karena itu, daerah ini kerap menjadi penyangga kebutuhan bawang merah nasional, terutama menjelang Idulfitri dan Iduladha saat permintaan meningkat tajam.
Petani Solok juga mengembangkan varietas unggulan lokal SS Sakato (Solok Sumbar Sakato) atau yang dikenal sebagai bawang merah Birma Alahan Panjang. Varietas ini dikenal memiliki daya adaptasi tinggi terhadap kondisi dataran tinggi basah serta produktivitas yang stabil.
Menjadi Tanah Harapan Ribuan Pekerja
Besarnya aktivitas pertanian bawang merah telah menciptakan efek ekonomi yang luas.
Tidak sedikit tenaga kerja dari luar Sumatera Barat, termasuk dari Jawa Barat, datang ke Solok untuk bekerja di sektor pertanian. Mereka terlibat dalam berbagai aktivitas mulai dari pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman hingga panen.
Kehadiran para pekerja tersebut menunjukkan bahwa sektor bawang merah tidak hanya menghasilkan komoditas, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi ribuan keluarga.
Fenomena lain yang cukup menarik terlihat di kalangan generasi muda. Di sejumlah sentra produksi, banyak lulusan SMA memilih langsung terjun ke sektor pertanian dibanding mencari pekerjaan ke kota besar.
Mereka melihat pertanian bawang merah sebagai sektor yang menjanjikan dan mampu memberikan peluang ekonomi yang nyata. Dengan pengelolaan lahan yang baik, hasil usaha tani bawang merah dinilai mampu memberikan pendapatan yang kompetitif dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Seorang petani bawang merah di Alahan Panjang mengatakan bahwa Kabupaten Solok memiliki peran penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, petani Solok telah lama menjadi bagian dari rantai pasok bawang merah nasional, terutama ketika sejumlah daerah sentra produksi lain mengalami gangguan akibat faktor cuaca.
“Ketika daerah lain terkendala produksi, petani Solok tetap berusaha menjaga pasokan. Kami merasa ikut berperan menjaga kebutuhan pangan masyarakat,” ujarnya.
Peran tersebut menjadi semakin penting seiring upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Harapan Petani: Infrastruktur untuk Memperkuat Produktivitas
Di balik capaian produksi yang mencapai ratusan ribu ton per tahun, para petani masih menyimpan harapan besar terhadap peningkatan infrastruktur pendukung pertanian.
Salah satu yang paling sering disampaikan adalah kebutuhan akan akses jalan yang lebih baik menuju kawasan sentra produksi.
Bagi petani, jalan bukan sekadar sarana transportasi. Jalan merupakan urat nadi distribusi yang menghubungkan aktivitas pertanian dari proses pengolahan lahan, distribusi pupuk dan benih, hingga pengangkutan hasil panen menuju pasar.
Dengan volume produksi yang mencapai ratusan ribu ton setiap tahun, kondisi jalan yang baik akan membantu menekan biaya logistik, mempercepat distribusi, serta menjaga kualitas hasil panen saat sampai ke tangan konsumen.
“Kalau akses jalan semakin baik, biaya angkut lebih ringan dan hasil panen bisa lebih cepat sampai ke pasar. Dampaknya tentu langsung dirasakan petani,” kata seorang petani di Alahan Panjang, Kamis, (11/6/2026).
Saatnya Petani Mendapat Perhatian Lebih Besar
Dari dua kecamatan di dataran tinggi Kabupaten Solok, lahir produksi bawang merah yang menggerakkan ekonomi lebih dari Rp6 triliun setiap tahun. Angka tersebut tidak hanya mencerminkan keberhasilan sektor pertanian, tetapi juga menunjukkan betapa besarnya kontribusi petani terhadap pembangunan daerah dan ketahanan pangan nasional.
Karena itu, banyak pihak menilai sudah saatnya sektor pertanian mendapatkan perhatian yang sebanding dengan kontribusinya. Sebab dari tangan para petani inilah lahir kekuatan ekonomi rakyat yang nyata, membuka lapangan kerja, menghidupi ribuan keluarga, dan menjaga pasokan pangan bagi Indonesia.
Di lereng-lereng sejuk Lembah Gumanti dan Danau Kembar, para petani tidak sekadar menanam bawang merah. Mereka sedang menanam kesejahteraan, menggerakkan ekonomi daerah, dan menjaga ketahanan pangan bangsa. ***









