BERITA UTAMA

Sepuluh Terakhir Ramadan

×

Sepuluh Terakhir Ramadan

Sebarkan artikel ini
Heri Surikno ( Wakil Sekretaris Tarbiyah-PERTI Sumbar).

Secara lahiriah tidak ada perbedaan antara satu waktu dengan waktu yang lain. Antara satu hari dengan hari yang lain atau bulan dan tahun. Perputaran waktunya sama dan mungkin aktivi­tas­nya juga tidak jauh berbeda.

Begitu juga tempat. Tidak ada istimewanya antara satu tempat de­ngan tempat yang lain. Se­bab suatu tempat se­cara lahiriah memiliki un­sur bangunan yang sama dan bahan yang digunakan juga sama. Ada batu bata­nya, ada semen dan lain-lain.

Tapi dalam pandangan Islam, ternyata ada hari yang dianggap istimewa. Senin umpamanya. Harinya menjadi lebih istimewa dari hari lainnya sebab pada hari itu Nabi Muhammad SAW dilahirkan, hari itu juga wahyu pertama beliau terima, hari Senin juga terjadinya Isra’ dan Mi’raj dan pada hari Senin pula beliau wafat. Itu (puasa Senin) hari itu aku dilahirkan, aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku. (H.R Muslim)

Ada juga hari Jum’at. Pada hari itu, Allah SWT menciptakan Nabi Adam a.s diciptakan dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari Jum’at pula Nabi Adam wafat. Pada hari itu permintaan hamba dipenuhi oleh Allah SWT. Pada hari itu pula nanti akan terjadi kiamat. (Imam Syafi’i dan Imam Ahmad). Sehingga hari Jum’at disebut sebagai rajanya hari (sayyidal-ayyam).

Itulah sebabnya Sayyid Muhammad bin Alawi al-Makki al-Maliki al-Hasani menyebutkan bahwa suatu waktu bisa menjadi istimewa disebabkan oleh peristiwa yang terjadi pada hari itu. Akan semakin tinggi keistimewaan suatu waktu dengan istimewanya peristiwa yang terjadi. Muhammad bin Alawi: 6)

Baca Juga  Murid SLB Tewas Dalam Kolam Ikan

Begitu juga dengan se­puluh terakhir Ramadan. Waktu dan rupa ibadah pada hari itu sama saja dengan sepuluh pertama dan sepuluh kedua Ramadan tetapi pada sepuluh terakhir itu, kesungguhan (mujahadah) ibadah Nabi SAW melebihi kesungguhan beliau beribadah di luar hari itu. (H.R Muslim).

Kesungguhan ibadah di sepuluh terakhir Ramadan yang dicontohkan oleh Na­bi, bukanlah sebagai rutinitas yang berlebih dan berbeda saja, tetapi ada hikmah dan pesan penting dibaliknya.

Pada sepuluh terakhir Ramadan terjadi peristiwa lailatulqadar yang ke­uta­maan­nya melebihi seribu bulan yang sama dengan 83 tahun 4 bulan. Ke­uta­maan­nya melebihi umur mayoritas manusia hari ini. Artinya jika seseorang mem­perolehnya, karunia Allah kepadanya melebihi dari dosa-dosa yang pernah diperbuat semasa umur­­nya.

Mujahadah Ramadan

Semenjak sebelum masuk Ramadan dan setelah menjalani ibadah dalam bentuk riyadhah (latihan) saat Ramadan, kaum shai­min telah melalui prosesi melatih diri agar tetap te­gak lurus, tidak mudah beralih kepada selain Allah. Dalam praktik ibadah berupaya agar batinnya selalu bersama Allah sesuai dengan tuntunan syari’at.

Idealnya, setelah itu, ia mesti masuk pada jalan mujahadah (kesungguhan) sebagai usaha yang dilakukan sebelum mendapat petunjuk dalam prosesi latihan itu. Ujungnya adalah memperoleh maqam­taqwa dengan berbagai pengalaman batin (ahwal) yang meliputinya.

Baca Juga  Oknum Pegawai Telkom jadi Pengedar Sabu, Diciduk Bersama Rekannya

Idealitasmujahadah da­lam sepuluh terakhir Ra­madan dapat dipedomani dari pesan Nabi Muhammad SAW. Carilah lailatul­q­a­dar itu di malam-ma­lam ganjil pada sepuluh terakhir Ramadan (H.R Bukhari dan Muslim).

Lebih spesifik, ada tiga amalan yang dikerjakan Nabi SAW untuk memuliakan sepuluh terakhir Ramadan dalam rangka menyambut lailatulqadar. Apabila memasuki sepuluh akhir (dari bulan Ramadan, Nabi SAW mengencangkan sarungnya, menghi­dupkan malam-malamnya dan membangunkan keluarganya (H.R Bukhari dan Muslim)

Pertama mengencangkan sarungnya. Sebagai tanda mujahadahnya Nabi SAW beribadah, maka di­ken­cangkan ikatan sarungnya. Ini dapat dimaknai secara metafor, bahwa beliau tidak menggauli istrinya di sepuluh terakhir, karena khusuk dalam ketersambungan batinnya kepada Allah SWT.

Kedua, menghidupkan malam. Pada sepuluh akhir Ramadan, Nabi SAW membalikkan logika umum yang menyebutkan malam sebagai waktu istirahat. Justru pada malam-malam itu, Nabi selalu bangun untuk memperbanyak ibadah, mulai dari shalat, zikir, baca al-Qur’an dan ibadah lainnya.

Ketiga, membangunkan keluarganya. Sebagai wujud tanggung jawab pe­mimpin keluarga, Nabi SAW tidak hanya mementingkan dirinya, tetapi mem­bawa keluarga untuk ber­sama-sama mengambil waktu istimewa di akhir Ramadan untuk memperbanyak ibadah. untuk sa­ma-sama meningkatkan ibadah.

Akhirnya, proses riyadhah dan mujahadah ini­lah mengantarkan kaum shaimin untuk memperoleh maqamtaqwa dalam pandangan Allah SWT. “Sia­­pa yang mendirikan lai­latulqadar karena iman dan keikhlasan, akan diampuni dosa-dosanya yang te­lah berlalu,” (H.R Bu­khari). (**)