Bulan Ramadhan telah tiba dan umat Islam akan melakukan ibadah puasa selama sebulan penuh. Namun, pada hakikatnya puasa bukan hanya sekadar menahan makan dan minum tapi juga menahan diri dari nafsu dan godaan-godaan lainnya.
Puasa tak cukup hanya menahan makan dan minum. Jika dia tidak meninggalkan hal yang buruk dan keji, maka tidak ada gunanya dan Allah tidak membutuhkannya.
Dalam konteks kebangsaan dan keumatan saat ini, menahan diri di Bulan Ramadhan merupakan latihan untuk memperkuat integritas. Jika umat bisa menahan diri dari godaan di bulan puasa, maka akan menjadi orang yang mempunyai integritas tinggi.
Orang yang berintegritas itu adalah orang yang mampu menahan diri termasuk peduli kepada yang lain. Di antara juga menahan diri adalah manakala kita berkomitmen dengan apa yang diucapkan sama dengan apa yang kita perbuat.
Agar umat ingin bisa menahan diri di bulan puasa ini, maka salah satu caranya adalah dengan mengingat niat awal dalam melaksanakan ibadah puasa. Caranya untuk kita tentu menahan diri adalah ingat kepada niat awal dan kedua adalah komitmen dan sungguh-sungguh di dalam merealisasikan niat itu.
Menahan diri di bulan Ramadhan juga merupakan latihan untuk mencapai kesempunaan manusia. Hal itu bisa dicapai jika umat bisa menahan diri dari syahwat, amarah, dan mengontrol keburukan lainnya yang bersifat duniawi.
Selain itu, dalam konteks era digital ini puasa juga bisa berarti menahan diri dari sifat riya dan menahan diri untuk tidak menyakiti orang lain. Karena keduanya saat ini kerap muncul di media sosial. Karena itu menahan diri dalam konteks sekarang adalah bagaimana puasa itu menjadi kontrol dari riya.
Indikasi umat yang bisa menahan diri di bulan puasa salah satunya manakala mampu membaca segala situasi dan tidak larut dalam ego masing-masing. Kedua adalah tanda berhasil manakala dia mampu memberi jawaban terhadap kondisi kekinian. Ketiga, mana kala dia mampu memberi manfaat kepada yang lain sehingga tak hanya untuk kemauan diri.
Kami juga meminta semua masyarakat untuk mengendalikan diri dalam berbelanja selama bulan Ramadhan ini. Namun, masyarakat harus banyak menggunakan uang lebihnya untuk bersedekah.
Kenaikan harga ada tapi kecil. Persediaan sembilan bahan pokok juga jelang ramadan aman. Sekarang, tinggal masyarakat melakukan pengendalian dalam berkonsumsi.
Kami mengajak semua masyarakat yang memiliki dana lebih untuk mengarahkan pada pengeluaran sedekah. Jadi, walaupun ada uang belanja konsumsinya biasa-biasa saja dan tidak berlebihan.
Secara matematis biaya konsumsi di bulan Ramadhan ini harusnya kecil. Karena, pengeluaran seharusnya berkurang kalau tak ada snack atau cemilan. Beli yang butuh-butuh saja. Kelebihan anggaran, ditabung atau untuk fakir miskin.
Terkait masalah keamananan, Kami terus menerus berkoordinasi dengan semua jajaran yang ada di wilayah hukum Polresta Padang. Selama ramadan ini, ia otimistis akan aman. Kapolresta Padang mengatakan pihaknya akan mengantisipasi terjadinya aksi pencurian kendaraan bermotor dan pembobolan rumah tinggal milik warga yang melaksanakan salat tarawih di masjid dan musala. Pertugas kepolisian ditugaskan di semua tempat ibadah.
Upaya kepolisian ini tentunya harus kita dukung bersama. Tanpa dukungan masyarakat tugas kepolisian tidak akan berjalan dengan baik. Tidak bisa di pungkiri tindak kejahatan akan meningkat saat Ramadan seperti pencurian kendaraan bermotor dan pembobolan rumah tinggal. Selain itu, juga ada kejahatan yang dilakukan para pelaku saat warga melaksanakan salat tarawih.
Sebelum pergi salat tarawih, kunci pintu rumah dengan baik dan hati-hati dengan barang-barang berharga yang dimiliki, seperti dompet, HP, laptop, kendaraan bermotor dan lainnya.
Masyarakat jangan menggunakan perhiasan yang berlebihan ketika beraktivitas ke luar rumah, karena hal tersebut bisa memancing penjahat untuk melakukan kejahatan. Selain mengantisipasi tindak kejahatan selama bulan Ramadan, hal-hal yang akan merusak kenyamanan umat beribadah juga harus dicegah.
Seperti biasanya, dalam bulan Ramadhan banyak dijual petasan dan kembang api. Petasan atau mercon dengan ukuran kecil barangkali tidak apa-apa, tetapi petasan dengan ukuran besar harus dilarang. Selain mengganggu kenyamanan umat beribadah, petasan ini juga bisa menyebabkan ke-bakaran dan membahayakan bagi si penggunanya sendiri.
Kita imbau para orang tua di daerah ini agar melarang anaknya membeli dan bermain petasan, karena dapat mengganggu kenyamanan umat muslim yang sedang beribadah.
Bermain petasan lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Pihak kepolisian sendiri bisa dibuat bingung dengan adanya suara ledakan.
Sekali lagi Kami mengimbau mari kita jaga keamanan dan ketertiban selama bulan Ramadhan agar umat muslim yang menjalankan ibadah puasa dapat benar-benar menjalankan ibadahnya tanpa adanya rasa khawatir di dalam dirinya akan ancaman bahaya. (*)






