OLAHRAGA

Proyek ‘Disney’ Como Meledak!, Klub Milik Pengusaha Indonesia Menang 4-1 di Liga Champions

×

Proyek ‘Disney’ Como Meledak!, Klub Milik Pengusaha Indonesia Menang 4-1 di Liga Champions

Sebarkan artikel ini
TAMPIL DI UCL— Como memasuki musim ketiga di Serie A sekaligus tampil di Liga Champions, setelah klub milik Indonesia menang 4-1 atas RB Leipzig.

COMO mencatat kemenangan 4-1 atas RB Lei­pzig di Giuseppe Sinigaglia, Jumat (11/9/2026) dini hari WIB, sekaligus menjadi satu-satunya wakil Italia yang meraih tiga poin pada matchday pertama Liga Champions.

Hasil tersebut menjadi bukti terbaru proyek ambisius klub milik pengusaha Indonesia yang dalam tiga musim bersama Cesc Fabregas telah menjelma dari pendatang baru Serie A menjadi kekuatan Eropa.

Kemenangan atas RB Leipzig terasa semakin istimewa karena Como tam­pil meyakinkan di hadapan pendukung sendiri.

Martin Baturina dan Anastasios Douvikas mem­bawa Como unggul 2-0 pada babak pertama sebelum Assane Diao menambah gol ketiga, sementara Andrija Maksimovic sempat memperkecil skor menjadi 1-3. Maximo Perrone kemudian mengunci kemenangan 4-1 pada peng­hujung pertandingan.

Como pun membuka petualangan di kompetisi antarklub elite Eropa de­ngan cara yang sulit diabaikan, sekaligus memperlihatkan hasil dari pemba­­­n­gunan klub yang tidak ha­nya berorientasi pada se­pak bola.

Perjalanan Como me­nuju level ini memang berlangsung cepat. Memasuki musim ketiga bersama Fabregas di Serie A, klub tersebut kini tidak lagi sekadar berbicara soal bertahan di kasta tertinggi Italia, melainkan sudah menikmati panggung Liga Champions dengan skuad yang kompetitif dan identitas bisnis yang berbeda.

Fondasi perubahan itu bisa ditarik kembali ke 2019. Djarum Group, konglomerasi asal Indonesia yang dipimpin Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono, membeli Como melalui perusahaan berbasis London, SENT Entertainment, ketika klub tersebut masih jauh dari sorotan sepak bola Eropa.

Menurut Forbes, ke­kayaan gabungan Hartono bersaudara mencapai sekitar USD 48 miliar. Di Co­mo, Mirwan Suwarso menjadi sosok yang merepresentasikan kepemilikan dan ikut mengembangkan visi klub bersama jajaran manajemen.

Como sebenarnya memiliki modal geografis yang sangat kuat. Kota kecil di tepi Danau Como sudah lama menjadi destinasi wisata internasional dan semakin terkenal setelah sejumlah selebritas dunia, termasuk George Clooney, memiliki rumah di kawasan tersebut.

Nama-nama besar dari sepak bola juga punya hubungan dengan wilayah itu. Mantan kapten Inter Milan Javier Zanetti dan Jose Mourinho termasuk figur sepak bola terkenal yang pernah tinggal atau memiliki kedekatan de­ngan kawasan sekitar Co­mo, yang lokasinya tidak jauh dari pusat latihan Inter Milan.

Baca Juga  PS Pemda Agam Juara Wali Nagari Dalko Cup I, Sekda Sambut Tropi Bergilir

Masalahnya, potensi pariwisata tersebut selama bertahun-tahun tidak berjalan beriringan dengan kekuatan klub sepak bola lokal.

Como merupakan klub bersejarah, tetapi perjala­nan mereka sempat diwarnai kepemilikan tidak stabil dan beberapa kebangkrutan sebelum akhirnya mendapatkan arah baru setelah kedatangan pemilik asal Indonesia.

Salah satu keputusan penting berikutnya adalah membangun proyek sepak bola dengan Cesc Fabregas sebagai figur sentral.

Mantan pemain Arsenal, Barcelona, Chelsea, dan AS Monaco itu bergabung dengan Como pa­da musim 2022/2023, menjalani musim terakhir sebagai pemain profesional sebelum pensiun.

Fabregas kemudian dipercaya menangani tim U-23 sebelum naik ke tim utama.

Pada musim pertamanya sebagai caretaker, dia membawa Como promosi ke Serie A, lalu pada mu­sim penuh pertamanya membawa klub promosi tersebut finis di posisi ke-10.

Kini, memasuki musim ketiganya di Serie A, Fabregas membawa Como ke level yang jauh berbeda.

Klub tidak lagi hanya dipandang sebagai tim promosi dengan kisah menarik, tetapi mulai diperhitungkan untuk bersaing di kompetisi Eropa, bahkan telah membuktikannya lewat kemenangan 4-1 atas RB Leipzig.

Salah satu pemain yang menjadi simbol proyek tersebut adalah Nico Paz.

Como memadukan pemain muda bertalenta de­ngan sosok berpengalaman, sementara investasi besar dilakukan untuk mem­bangun skuad yang mampu berkembang da­lam jangka panjang.

Pada musim panas 2025 saja, Como menggelontorkan lebih dari USD 100 juta untuk mendatangkan pemain berpengalaman se­kaligus talenta muda.

Investasi tersebut men­jadi bagian dari strategi lebih besar untuk menciptakan klub yang punya daya saing di lapangan sekaligus memiliki sumber pendapatan di luar hak siar televisi.

Di sinilah konsep yang disebut Suwarso sebagai “Disney model” menjadi menarik.

Kepada BBC, Suwarso menjelaskan, “Como adalah kota yang sangat kecil. Bagaimana mungkin sebuah tim yang hanya memiliki stadion berkapasitas 12.000 penonton dapat mem­pertahankan tim sepak bola yang kompetitif?”

Menurut Suwarso, Co­mo harus mengembangkan sumber pendapatan lain melalui hospitality, merchandise, dan retail. Strategi itu diperlukan ka­rena klub tidak ingin se­penuhnya bergantung pa­da pemasukan dari hak siar televisi.

Konsep Disney kemudian digunakan sebagai me­tafora untuk menjelaskan visi tersebut.

Baca Juga  Gantikan Ruud van Nistelrooy, Marti Cifuentes Resmi jadi PelatihBaruLeicesterCity

“Kami ingin membangun merek seperti Disney. Disney hanyalah sebuah metafora,” kata Suwarso.

Danau Como diposisikan seperti taman hiburan tempat wisatawan berinteraksi langsung dengan produk dan merek Como.

Artinya, Como ingin menjual lebih dari sekadar pertandingan sepak bola.

Mereka mengembangkan divisi merchandise, fashion, dan retail dengan produk yang tidak semuanya berkaitan langsung de­ngan klub, tetapi juga mengangkat gaya hidup Danau Como atau “lago lifestyle”.

Model tersebut membuat Como berusaha mengubah jutaan wisatawan menjadi bagian dari ekosistem klub.

“Sepak bola merupakan bagian dari gambaran yang lebih luas. Tujuan utama kami adalah menjadi destinasi wisata olahraga, khususnya wisata sepak bola kelas dunia yang premium,” ujar Suwarso.

Daya tarik tersebut ikut terlihat dari deretan selebritas yang hadir menyaksikan pertandingan Como dalam dua tahun terakhir.

Andrew Garfield, Benedict Cumberbatch, Michael Fassbender, Chris Pine, dan Hugh Grant termasuk nama terkenal yang pernah menonton laga klub tersebut.

Namun, proyek Como tetap memiliki tantangan besar.

Musim wisata Danau Como mencapai puncaknya ketika kompetisi Serie A justru memasuki masa je­da musim panas, sehingga klub harus mencari cara agar aktivitas ekonomi tetap berjalan ketika sepak bola sedang tidak dimainkan.

Salah satu jawabannya adalah menggelar ber­bagai event olahraga.

Pada musim panas 20­25, Como menjadi tuan rumah Como Cup yang meng­hadirkan Al-Ahli, Cel­tic, dan Ajax, sekaligus membuka peluang klub menjangkau suporter dari berbagai negara.

Kini hasil dari strategi tersebut mulai terlihat di panggung paling tinggi.

Kemenangan 4-1 atas RB Leipzig pada debut Liga Champions bukan hanya soal tiga poin, melainkan menjadi etalase terbaru dari proyek Como yang ingin menjadikan sepak bola sebagai bagian dari industri pariwisata, hiburan, ga­ya hidup, dan olahraga.

Dengan dukungan pemilik asal Indonesia, stadion yang berada hanya beberapa meter dari Danau Como, investasi besar, serta Fabregas sebagai wajah proyek sepak bola, Como sedang mencoba membuktikan satu hal.

Klub kecil tidak harus berpikir kecil, dan proyek “Disney” mereka kini su­dah sampai ke Liga Champions. (jpg)