BERITA UTAMA

Percepat Rehab-Rekon Pascabencana, Pemprov Sumbar Kebut Realisasi Dana TKD

×

Percepat Rehab-Rekon Pascabencana, Pemprov Sumbar Kebut Realisasi Dana TKD

Sebarkan artikel ini
RAPAT— Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansharullah saat Rapat Monitoring dan Evaluasi Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Auditorium Gubernuran Sumbar, Selasa (21/7).

PADANG, METROPemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi (rehab-rekon) pascabencana dengan melakukan pemulihan infrastruktur, pelayanan publik, perekonomian masyarakat dan memperkuat mitigasi bencana di masa mendatang.

Percepatan rehab-rekon dengan “mengebut” realisasi penggunaan tambahan dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat. Diketahui, pemerintah pusat telah menuntaskan penyaluran tambahan TKD kepada daerah terdampak bencana di Pulau Sumatera. Secara nasional, anggaran yang dikucurkan mencapai Rp10,6 triliun.

Sumbar menerima alo­kasi sekitar Rp2,71 triliun yang telah disalurkan bertahap sejak Februari hingga April 2026. Kini seluruhnya berada di rekening kas Pemprov Sumbar maupun pemerintah kabupaten dan kota.

Khusus Pemprov Sumbar mendapatkan dana TKD Rp534 miliar yang dikerjakan 23 Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemprov Sumbar. Anggaran terbesar berada pada Dinas Bina Marga Cipta Ka­rya dan Tata Ruang (BMC­KTR) sebesar (Rp158 miliar), Dinas PSDA (Rp195 miliar), Dinas Pendidikan (Rp26 miliar), Dinas Sosial (Rp15 miliar), Dinas Pertanian (Rp15 miliar). TKD juga tersebar pada OPD lainnya.

Dana tersebut diharapkan segera direalisasikan, agar pemulihan pascabencana berjalan lebih cepat dan masyarakat dapat se­gera merasakan manfaatnya.

Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah menegaskan, tambahan anggaran TKD menjadi instrumen penting tidak hanya mempercepat pemulihan daerah, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat terdampak bencana.

“Percepatan alokasi ini bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program-program tepat sasaran. Karena itu seluruh daerah harus mem­percepat pelaksanaan kegiatan sehingga man­­faatnya segera dirasakan,” ujar Mahyeldi saat Rapat Monitoring dan Evaluasi (Monev) Percepatan Rehab-Rekon Pascabencana di Auditorium Gubernuran Sumbar, Selasa (21/7).

Rapat monev dihadiri jajaran Kementerian Da­lam Negeri (Kemendagri), kementerian dan lembaga terkait, serta kepala daerah dari kabupaten dan kota terdampak bencana.

Baca Juga  H Suherman Ziarah ke Makam Bung Hatta

Pada kesempatan itu, Mahyeldi meminta seluruh pemerintah daerah mengoptimalkan anggaran me­lalui perencanaan yang matang, pelaksanaan yang tepat sasaran, serta pengawasan berkelanjutan agar hasilnya segera dira­sa­kan masyarakat.

Pemprov Sumbar juga terus mendorong pemerintah kabupaten dan kota melakukan pemetaan kebutuhan secara menyeluruh, menyusun prioritas, serta mendokumentasikan setiap tahapan pelaksanaan sebagai bahan evaluasi berkala. “Kita ingin progresnya jelas. Dengan de­mikian, setiap persoalan dapat dipetakan dan diselesaikan bertahap, sehingga target pemulihan bisa tercapai lebih cepat,” katanya.

Mahyeldi juga meminta pemerintah daerah memperkuat komunikasi publik. Menurutnya, setiap capaian pembangunan perlu dipublikasikan secara terbuka, agar masyarakat mengetahui perkembangan proses pemulihan. “Seluruh pekerjaan pemerintah perlu dipublikasikan sehingga masyarakat me­nge­tahui proses pemulihan terus berjalan. Keterbukaan informasi menjadi ba­gian penting dalam mem­­bangun kepercayaan publik,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Bi­dang Keuangan bersama Ka­subdit Perencanaan Ke­­uangan Daerah Kemendagri, Fernando Siagian memastikan pemerintah pusat telah menyelesaikan seluruh penyaluran tambahan TKD kepada pemerintah daerah terdampak bencana.

Ia menjelaskan tambahan TKD berbeda dengan Dana Alokasi Umum (DAU). Dana tersebut disalurkan tanpa persyaratan, sehingga dapat segera dimanfaatkan pemerintah daerah untuk mempercepat rehab-rekon.

“Januari ditetapkan, Februari mulai ditransfer, Maret berlanjut, dan pada April seluruh dana sudah berada di rekening kas daerah. Artinya, pemerintah pusat telah menyelesaikan kewajibannya,” katanya.

Fernando meminta pemerintah daerah merealisasikan anggaran tersebut agar proses pemulihan tidak tertunda. “Kami memahami ada tahapan perencanaan dan pengadaan. Tetapi harapan kami, dana ini segera dibelanjakan. Jangan menunggu terlalu lama, karena masyarakat membutuhkan hasil nyata,” tegasnya.

Ia menegaskan tambahan TKD hanya diguna­kan untuk percepatan rehab-rekon pascabencana, pemulihan ekonomi ma­sya­rakat, serta penguatan mitigasi bencana. Hal ini sesuai Surat Edaran Men­dagri Nomor 900 Tahun 2026. Dana tersebut tidak boleh dialihkan untuk kegiatan di luar penanganan kebencanaan.

Baca Juga  Truk Tangki BBM Seruduk 6 Kendaraan dan Warung Kebab, Dua Orang Luka-luka

Fernando juga mengingatkan pemerintah daerah mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana berikutnya, termasuk dampak musim kemarau dan fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya pada September mendatang. “Mitigasi harus mulai disiapkan sejak sekarang. Penanganan bencana tidak boleh lagi bersifat reaktif, tetapi harus direncanakan sejak dini,” ujarnya.

Staf Khusus Mendagri Bidang Politik dan Media, Kastorius Sinaga meng­apresiasi capaian Sumbar dalam percepatan rehab-rekon pascabencana. Berdasarkan hasil monitoring Satgas Nasional Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Sumbar satu dari tiga provinsi dengan progres pemulihan tercepat di Indonesia.

Sebanyak 13 dari 16 kabupaten dan kota terdampak telah kembali men­jalankan aktivitas pemerintahan dan kema­sya­rakatan secara normal. Kabupaten Tanah Datar sedang menuju kondisi normal, sedangkan Kabupaten Agam dan Padang Pariaman masih memerlukan perhatian khusus.

“Kami mengapresiasi capaian Sumatera Barat. Berbagai indikator menunjukkan hasil yang sangat baik, terutama pada sektor pertanian yang menjadi salah satu kinerja terbaik secara nasional,” katanya.

Ia menyebut rehabilitasi lahan sawah di Sumbar telah mencapai sekitar 98 persen. Sebagian besar lahan yang diperbaiki, bahkan telah kembali memasuki musim tanam. Keberhasilan tersebut menunjukkan kuatnya kolaborasi pemerintah daerah, ma­syarakat, kelompok tani, dan pemerintah pusat da­lam mempercepat pemulihan pascabencana.

Meski demikian, pemerintah pusat tetap mendorong percepatan pembangunan hunian tetap, penyelesaian penyaluran jatah hidup (jadup), serta normalisasi sungai sebagai bagian penting dari proses rehabilitasi. “Kami berharap seluruh proses rehabilitasi terus dipercepat sehingga masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya. Pemerintah pusat akan terus mendampingi dan memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah agar seluruh program berjalan selaras,” ujarnya. (fan/adv)