PEMERINTAH Kabupaten Agam melalui Dinas Pertanian terus melakukan percepatan proses pemulihan lahan persawahan yang terdampak bencana hidrometeorologi. Diantaranya melalui program Rehabilitasi Sawah dan program Optimasi Lahan yang dialokasikan Kementerian Pertanian agar lahan sawah yang terkena dampak bencana dapat kembali diolah dan ditanami.
“Khusus untuk kegiatan rehabilitasi sawah, dikerjakan secara swakelola oleh 29 kelompok tani, dengan luas lahan mencapai 311 hektar,” ujar Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Agam, Heri Prasetyo Wibowo.
Proses ini, kata Heri, telah melalui tahapan administrasi seperti pendataan dan verifikasi lahan terdampak, verifikasi calon petani dan calon lokasi (CP/CL), penyusunan rencana teknis, hingga pencairan bantuan kepada kelompok tani. “Kita juga sudah mengajukan usulan untuk penambahan rehabilitasi sawah seluas 94 hektar,” tambahnya.
Sedangkan melalui program Optimasi Lahan, difokuskan untuk perbaikan infrastruktur seperti irigasi perpompaan, irigasi tersier, dam parit, dan lain sebagainya yang mencakup luasan lahan sawah seluas 294 hektar. Optimasi Lahan juga dikerjakan secara swakelola yang melibatkan 20 kelompok tani.
Hal ini merupakan komitmen dari Pemerintah Kabupaten Agam untuk segera menyelesaikan seluruh proses perbaikan dan pemulihan lahan sawah, sebagai bagian dari upaya menjaga ekonomi masyarakat dan memantapkan ketahanan pangan.
Pemerintah Kabupaten Agam, lanjut Heri, mempercepat pemulihan sektor pertanian pasca bencana hidrometeorologi yang melanda daerah itu pada November 2025. Berbagai program rehabilitasi lahan, perbaikan irigasi, hingga peremajaan perkebunan dengan total dukungan mencapai puluhan miliar rupiah kini tengah digencarkan untuk mengembalikan produktivitas pertanian sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional.
Apalagi Bupati Agam Benni Warlis Dt Tan Batuah terus melakukan Rapat Koordinasi antar lintas sektoral mencarikan solusi bagi lahan yang pertanian yang rusak akibat bencana yang menghantam infrastruktur pertanian serta alat dan mesin pertanian yang menjadi penopang produksi masyarakat.
“Kerusakan ini berdampak langsung terhadap produksi pertanian dan kondisi ekonomi petani. Namun ini harus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi dalam membangkitkan kembali sektor pertanian Agam,” ujarnya.
Upaya pemulihan mendapat dukungan besar dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian. Kabupaten Agam memperoleh bantuan sekitar Rp 29 miliar melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi untuk berbagai program rehabilitasi dan optimasi lahan.
Dana tersebut digunakan untuk rehabilitasi lahan sawah seluas 311 hektare, optimasi lahan 387 hektare, pembangunan 35 dam parit, 53 unit irigasi perpompaan, 27 unit irigasi perpipaan, rehabilitasi dua jalan usaha tani, serta pemeliharaan 21 jaringan irigasi tersier.
Tak hanya itu, pemerintah pusat juga melanjutkan program optimasi lahan non rawa seluas 1.000 hektare dan menyetujui tambahan rehabilitasi sawah 250 hektar serta pemeliharaan 60 jaringan irigasi tersier.
Di sektor perkebunan, Agam juga menerima dukungan besar berupa bantuan bibit kayu manis, kopi, tebu, dan kelapa. Bahkan, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit mengalokasikan dana Rp 43 miliar untuk program peremajaan sawit rakyat seluas 250 hektar.
Sementara pada sektor tanaman pangan dan hortikultura, bantuan yang diterima meliputi benih padi, jagung, cabai merah, kentang, bawang, durian, hingga berbagai sarana dan prasarana pascapanen.
Heri mengungkapkan, keberhasilan program pemulihan tersebut sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten hingga penyuluh pertanian dan petani.
Ia juga mengingatkan pentingnya peran penyuluh pertanian sebagai ujung tombak pembangunan sektor pertanian, meski kini secara administrasi berada di bawah pemerintah pusat. “Status kepegawaian boleh berubah, tetapi pengabdian kepada petani Agam harus tetap menjadi prioritas bersama,” tegasnya.
Pemkab Agam berharap percepatan pemulihan pascabencana dapat berjalan optimal sehingga target swasembada pangan sekaligus peningkatan kesejahteraan petani dapat segera terwujud.
“Ini merupakan komitmen dari kita untuk segera menyelesaikan seluruh proses perbaikan dan pemulihan lahan sawah, sebagai bagian dari upaya menjaga ekonomi masyarakat dan memantapkan ketahanan pangan,” tegasnya.
Tim Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementan RI memberikan apresiasi atas capaian rehabilitasi lahan di Kabupaten Agam. Berkat koordinasi intensif Bupati Agam, Benni Warlis, Kabupaten Agam berhasil memperoleh total bantuan pusat senilai Rp 29 miliar.
Rehabilitasi Lahan (Tahap I): Dari total pagu Rp 28,3 miliar untuk 311 ha lahan rusak sedang, seluruhnya telah terkontrak 100% secara swakelola dengan kelompok tani. Saat ini, 180 ha di Tanjung Raya dan Palembayan telah dikerjakan, bahkan ada lahan sawah yang sudah ditanami padi berumur 1 bulan.
Perbaikan Infrastruktur Optimasi Lahan terdampak rusak ringan seluas 294 ha mendapat tambahan bantuan 95 ha (Rp 542 juta) pada 16 April 2026 ini. Selain itu juga tambahan 2 unit Jalan Usaha Tani senilai Rp 220 juta.Infrastruktur Pertanian, Pembangunan 35 unit Dam Parit, 53 unit Irigasi Perpompaan, dan puluhan unit irigasi lainnya kini dalam tahap perencanaan, dengan 3 unit irigasi tersier telah rampung.
Dampak Nyata Intervensi anggaran ini mampu memulihkan 1.604 hektar lahan sawah dari total 1.756,37 hektar yang terdampak bencana. Upaya ini menjadi langkah strategis Pemerintah Kabupaten Agam dalam mengembalikan stabilitas ekonomi dan kesejahteraan petani pascabencana.(***)






