BERITA UTAMA

Massa Demo Polda Sumbar, Desak Tuntaskan Kasus Afif, Kapolda Pastikan Korban Tidak Dianiaya atau Disiksa Polisi

×

Massa Demo Polda Sumbar, Desak Tuntaskan Kasus Afif, Kapolda Pastikan Korban Tidak Dianiaya atau Disiksa Polisi

Sebarkan artikel ini
Temui— Kapolda Sumbar Irjen Pol Suharyono memegang foto almarhum Afif Maulana saat menemui keluarga korban dan pendemo di depan Mapolda Sumbar.

PADANG, METRO–Massa dari beberapa organisasi kemahasiswaan dan LBH Padang yang mengatasnamakan Jaringan Pembela HAM Sumbar menggelar aksi unjuk rasa di Mapolda Sumbar, Rabu (26/6). Mereka mendesak Polisi menuntaskan misteri kasus tewasnya pelajar SMP bernama Afif Maulana (13) yang jasadnya ditemukan di bawah jembatan Kuranji.

Bahkan, kedua orang tua almarhum Afif Maulana, nenek dan adik kan­dung almarhum itu juga tampak ikut sambil membawa spanduk berisikan tuntutan keadilan. Terlihat, mereka membawa span­duk yang berisikan mendesak Polda Sumbar agar mengusut tuntas kasus kematian Afif Maulana. Kemudian spanduk itu juga berisikan bantahan per­nyataan Polisi yang me­nyebut korban melompat dari jembatan.

Dalam aksinya peserta unjuk rasa tampak melakukan orasi secara bergantian, membentangkan span­duk, serta membacakan puisi di depan Kantor Polda Sumbar. Aksi unjuk rasa ini sempat membuat kema­cetan di Jalan Sudirman dan mendapatkan penga­walan dari pihak Kepolisian. Bahkan, massa juga meminta Kapolda agar turun dan menemui menemui yang telah menunggu diluar Mapolda Sumbar.

“Mana kapolda. Turun kapolda. Keluarga korban sudah di sini. Ucapan belasungkawa jangan berani hanya di media saja,” kata Direktur LBH Padang, Indira Suryani saat menyampaikan orasi.

“Koordinator Jaringan Pembela HAM Sumbar, Elvin Mahendra, mengatakan, pihaknya akan gencar terkait korban-korban yang diduga mendapat penyiksaan oleh oknum kepolisian. Sebelum itu, pihak­nya sangat miris dengan kasus yang menimpa Afif Maulana yang penuh luka dan tak pantas diterima oleh anak umur 13 tahun.

“Kami melihat anak ini tidak ada melakukan tawuran, namun ditemukan dia dalam kondisi meninggal dengan luka lebam. Keadilan itu harus tegak,” kata Elvin.

Ditemui Kapolda Sumbar

Sementara, Kapolda Sumbar Irjen Pol Suhar­yono mendatangi para pen­demo yang melakukan unjuk rasa di depan Mapolda Sumbar.  Setiba di sana, jenderal bintang dua itu menciumi foto almarhum Afif Maulana.

“Ini wujud saya cinta dia. Dia anak saya, dia adik saya. Kalau boleh nangis, saya nangis sekarang,” kata Irjen Pol Suharyono saat memberikan ketera­ngan di hadapan seluruh pendemo.

Irjen Pol Suharyono memastikan tidak ada tindakan kekerasan yang dialami Afif Maulana. Meski begituý, pihaknya me­nga­kui ada kesalahan pro­se­dur terhadap 18 remaja terduga pelaku tawuran saat dibawa ke Mapolsek Kuranji.

Baca Juga  Berperan Strategis dalam Tataran Pemerintahan, Gubernur Sumbar Beri Penghargaan kepada Camat Terbaik 2023  

“Dari 18 remaja itu, tidak ada Afif Maulana. Saya pernah kelas 1 SMP Muhammadiyah, saya ju­ga alumni Muhammadiyah, saya anggota IPM. Ini adik saya. Enggak mungkin sa­ya tega bunuh dia. Enggak mungkin, demi Allah,” ujar Suharyono.

Ditegaskan Irjen Pol Suharyono, apabila ada oknum Polisi yang menyimpang, dirinya siap bertanggungjawab.  “Saya tanggung jawab. Semua tanggung jawab. Kami yang tanggung jawab. Serahkan ke kami untuk mengusut kasus ini,” katanya.

Terakhir Suharyono me­ngucapkan belasungkawa secara langýsung kepada kedua orang tua Afif Maulana. Bahkan dirinya juga mendoakan almarhum. “Mohon maaf ma­nakala ada anggota kami kelakuannya kurang profesional, kami akan tindak tegas,” tutupnya.

Sebelumnya, Irjen Pol Suharyono menyebut bahwa pihaknya dalam pe­ngungkapan kasus kematian Afif Maulana (13) berdasarkan bukti dan fakta-fakta, bukan asumsi. Ia pun membantah jika korban Afif tewas akibat penyiksaan atau penganiayaan oleh oknum Polisi hingga ditemukan mengambang di Sungai Batang Kuranji pada Minggu (9/6) lalu.

“Pada intinya kami su­dah melaksanakan proses ini secara profesional dan proporsional. Pastinya kita tidak bicara dengan asumsi atau berandai-andai. Kami dari para penyidik sudah melaksanakan aktifitas selama tiga hari berturut-turut secara intensif berdasarkan fakta-fakta yang ada di lapangan,” kata Suharyono ditemui pada Selasa malam (25/6).

Irjen Pol Suharyono memastikan tidak pernah ada penganiayaan kepada Afif Maulana karena dari sisi video anggota yang kita dapatkan dan juga termasuk dari keterangan saksi A yang membonceng Afif Maulana. Di saat motor mereka itu terjatuh, sebut Kapolda, Afif sempat me­ngajak A untuk menceburkan diri ke sungai, dan me­lompat dari atas jembatan Kuranji. Tapi ajakan itu tidak dikuti oleh A, A lantas bilang menyerahkan diri saja ke polisi.

“Itu percakapan terakhir A dengan Afif Maulana. Sedangkan kesibukan A disaat yang bersamaan menengok ke belakang Afif sudah ada tidak ada di situ. Ini adalah momen yang sangat penting dari kete­rangan yang berulang kali kita lakukan kepada A,” ujarnya.

Baca Juga  3 Rumah Hancur Dihantam Gelombang Pasang

Sehingga, kata Irjen Pol Suharyono, kesimpulannya saat disandingkan dengan hasil visum et refertum dan hasil autopsi ada dua catatan penting.  Yang pertama adalah lebam mayat karena ketinggian itu tidak kurang dari 20 meter dan di bawah itu juga bebatuan. Maksudnya bukan su­ngai dalam, tepian sungai bebatuan.

Patut diduga, tambah Irjen Pol Suharyono, hantaman yang terkena pada tubuh Afif Maulana di bagian punggung sebelah kiri menyebabkan enam tulang rusuk patah. Lalu, patahan tulang diduga kiri belakang atas itu menusuk pada bagian paru-paru sebelah kiri Afif dengan luka sebelas sentimeter. Sementara, di Sungai Batang Kuranji terdapat bebatuan, dasar sungai yang keras, entah batu atau cadas, yang diduga terjadi benturan

“Itulah penyebab kematiannya, tetapi dipastikan juga oleh A, pada saat itu sudah menyampaikan ke Polisi yang menangkapnya. Karena Polisi yang menangkapnya adalah Po­lisi yang sudah melintas tapi tim penyapunya, jarak jatuhnya motor dengan tim penyapunya 800 meter yang hitungannya tidak lebih dari 20 detik. Itu saat A mencari handphone yang hilang menengok Afif saat tidak ada, diamankanlah A bersama motornya dibawa ke Polsek Kuranji,” ungkap Irjen Pol Suharyono.

Selain itu, kata Irjen Pol Suharyono, Polisi tidak pernah menemukan Afif yang baru diketahui setelah 9 jam kemudian pada Minggu (9/6) pukul 11.55 WIB dengan kondisi meninggal dunia di Batang Kuranji. Terkait kasus itu, ia pun sudah berkoordinasi dan konfirmasi ke dokter forensik bahwa orang yang su­dah meninggal lebih dari 9 jam itu akan muncul lebam mayat yang ada di sekujur tubuhnya.

“Sementara, luka lecet di tubuh jasad Afif, diduga karena terjatuh dari motornya. Jadi terpisah antara bagaimana cerita di Polsek Kuranji dengan apa yang terjadi di atas jembatan itu, karena kejadiannya Afif Maulana tidak pernah ada di antara 18 orang yang dibawa ke Polsek itu. Se­hingga perlu kami luruskan bahawa tidak ada korban dianiaya ataupun disiksa,” pungkasnya. (brm)