BERITA UTAMA

Makam Siswi SD Diduga Korban Bullying Dibongkar, Jasadnya Diautopsi Tim Dokter Forensik, Polisi: Untuk Kepentingan Penyelidikan

×

Makam Siswi SD Diduga Korban Bullying Dibongkar, Jasadnya Diautopsi Tim Dokter Forensik, Polisi: Untuk Kepentingan Penyelidikan

Sebarkan artikel ini
EKSHUMASI— Proses ekshumasi makam siswi SD Negeri 33 Rawang, Kecamatan Padang Selatan, yang diduga menjadi korban perundungan.

PADANG,METRO–Penyidik Satreskrim Pol­­resta Padang bersama Tim Dokter Forensik Bi­dang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sumbar melakukan ekshumasi atau membongkar makam Nailah Abdillah (10), siswi SD Negeri 33 Rawang, Kecamatan Pa­dang Selatan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam, Senin (3/8).

Ekshumasi itu dilakukan atas permintaan orang tua korban dan sebagai bagian dari proses penyelidikan lantaran Nailah di­duga meninggal tak wajar akibat perundungan di sekolahnya. Ekhsumasi yang dimulai sekitar pukul 09.20 WIB, mendapatkan pengamanan ketat dari pihak Kepolisian.

Terlihat di atas makam telah berdiri tenda berwarna hitam berukuran sekitar 3×3 meter yang menutupi area ekshumasi. Di dalamnya, petugas juga ada ke­randa pemandian jenazah yang akan digunakan selama proses pemeriksaan forensik.

Petugas pun terlebih dahulu melakukan penggalian makam korban lalu mengeluarkan jasad korban yang sudah dimakamkan 11 hari yang lalu. Ekshumasi dilakukan Tim Dokter Forensik yang turut disaksikan keluarga, kuasa hukum dan para penyidik. Setelah dilakukan autopsi, jasad korban kembali dimakamkan seperti semula. Proses ini selesai dilaksanakan sekitar pukul 13.35 WIB.

Kuasa hukum keluarga korban, Muhammad Faisal, mengatakan keluarga mendukung pelaksanaan ekshumasi untuk mengetahui penyebab pasti kematian Nailah melalui pemeriksaan forensik dan autopsi.

“Yang kami cari adalah penyebab kematian korban. Karena sebelumnya muncul informasi yang menyatakan tidak ada indikasi perundungan. Kami justru melihat ada indikasi ke arah itu, sehingga perlu dibuktikan melalui proses hukum,” kata Faisal.

Baca Juga  Targetkan Curi Poin di Markas Laskar Sapeh Kerrab

Dijelaskan Fai­sal,­autop­si dinilai penting karena sebelum meninggal korban sempat mengeluhkan sakit pada bagian pinggang dan tangan. Keluarga juga menduga korban mengalami perundungan di ling­kungan sekolah.

“Hasil autopsi kami harapkan dapat menjelaskan penyebab kematian korban secara ilmiah. Itu juga akan menjadi bagian penting dalam proses penyidikan.

Menurut Faisal,korban sebelum meninggal, sempat menyebut dua nama. Laki-laki dan perempuan, sebagai orang yang mem-bully-nya. Atas pengakuan korban sebelum meninggal itulah, pihak keluarga meyakini kematian korban tak wajar akibat adanya perundungan atau bullying di sekolah.

“Kita tunggu proses hukumnya seperti apa nantinya. Yang jelas, kita cukup apreasiasi langkah Polresta Padang,” katanya menambahkan.

Sementara itu, ayah korban,Wahid Al Amin, tampak tak kuasa menahan kesedihan saat hadir di lokasi. Dengan mengenakan pakaian serba hitam dan peci putih, Wahid beberapa kali menyeka air mata menggunakan sapu tangan yang digenggamnya.

Pandangannya terus tertuju ke arah tenda tempat berlangsungnya proses ekshumasi atau pembongkaran makam putrinya.  Siswi SD Negeri 33 Rawang ini meninggal dunia, keluarga menduga adanya tindakan perundungan.

Sejumlah kerabat tampak mendampingi Wahid selama proses ekshumasi berlangsung. Mereka berusaha menenangkan ayah Nailah tersebut yang terlihat terpukul menyaksikan makam anaknya dibuka kembali. Sementara itu Ibu Nailah tidak hadir di lokasi. Menurut Wahid, sang istri memilih tidak datang karena tidak sanggup melihat proses pembongkaran makam putrinya.

Baca Juga  Pawai Alegoris HUT RI ke 74 Tahun, Sekretariat Tampilkan Miniatur Gedung DPRD Sumbar

“Ibunya tidak datang karena tidak sanggup melihat proses ini,” kata Wahid dengan suara lirih diwawancarai.

Kasat Reskrim Polresta Padang Kompol Muhammad Yasin mengatakan, ekshumasi dilakukan untuk mendukung proses penyelidikan dugaan penyebab kematian korban.

“Untuk mengetahui penyebab kematian secara ilmiah, hari ini kami  laksanakan ekshumasi dan autopsi. Kalau pemeriksaannya lebih detail dan organ-organ harus dianalisis di laboratorium, hasilnya diper­kira­kan keluar sekitar dua sampai tiga pekan,” kata Yasin kepada wartawan saat diwawancarai di lokasi.

Ditegaskan KompolYasin, penyidik akan berkoordinasi dengan dokter forensik setelah seluruh pemeriksaan selesai dilakukan dan meminta hasil pemeriksaannya sebagai ba­gian dari proses penyidikan.

“Sampai hari ini kami masih dalam tahap penyelidikan. Kami mengumpulkan seluruh alat bukti, termasuk keterangan pihak sekolah, orang tua, para pihak terkait, dan tunggu hasil autopsi. Jadi, kami belum bisa langsung menyimpulkan penyebab kematian korban,” ucapnya.

Diketahui, Nailah Abdillah sendiri meninggal pada Kamis, 23 Juli 2026, setelah sempat mengeluhkan sakit di bagian pinggang sepulang sekolah. Keluarga mendapati dugaan cedera fisik dan melaporkan indikasi perundungan ke pihak kepolisian. (*)