PADANG, METRO–Anggota DPR RI Lisda Hendrajoni menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) film Suamiku Lukaku bersama ratusan warga Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan di Cinema XXI Transmart Padang, Selasa hingga Rabu (9-10/6).
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 500 peserta dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta pentingnya membangun keluarga yang sehat dan harmonis.
Film Suamiku Lukaku merupakan drama karya sutradara Sharad Sharaan dan Viva Westi yang mengangkat kisah Amina, seorang perempuan yang harus menjalani kehidupan rumah tangga penuh tekanan dan kekerasan dari sang suami. Film ini dibintangi sejumlah aktor dan aktris ternama seperti Acha Septriasa, Baim Wong, Raline Shah, Ayu Azhari, dan Mathias Muchus.
Dalam kesempatan itu, Lisda Hendrajoni mengatakan film tersebut menyajikan banyak pelajaran berharga, terutama terkait pola asuh anak, hubungan dalam keluarga, dan dampak kekerasan yang dapat diwariskan antargenerasi.
“Banyak yang dapat kita pelajari dari film ini. Kita melihat bagaimana parenting seorang bapak dalam mendidik anaknya hingga membentuk karakter. Ternyata ada kesalahan yang berdampak pada kondisi psikologis anak,” ujar Lisda.
Menurutnya, film tersebut juga menjadi pengingat bahwa kasus KDRT masih banyak terjadi di tengah masyarakat, meskipun tidak semua korban berani mengungkapkan apa yang mereka alami.
“Harapan kita jangan terjadi KDRT di setiap rumah tangga. Namun kenyataannya, data menunjukkan masih banyak korban yang memilih diam karena rasa malu dan takut. Karena itu kita mengajak perempuan untuk berani menyampaikan dan melaporkan apa yang dialaminya. Perempuan berhak hidup bahagia,” katanya.
Lisda berharap film tersebut dapat ditonton oleh lebih banyak kalangan karena sarat dengan pesan edukatif yang mampu mendorong perempuan untuk lebih berani membela diri dan memperjuangkan hak-haknya.
“Kita nonton bareng ini bersama warga Kota Padang dan Pesisir Selatan dengan jumlah sekitar lima ratus orang,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu pemeran film, Ayu Azhari, menyampaikan apresiasi kepada Lisda Hendrajoni yang telah menginisiasi kegiatan nobar tersebut.
“Terima kasih kepada Uni Lisda yang sudah mengundang kami ke sini. Terima kasih juga kepada ibu-ibu yang telah berkenan hadir menonton film ini. Mudah-mudahan banyak pelajaran yang bisa dipetik, mulai dari parenting hingga bagaimana menjadi istri yang bahagia,” ujar Ayu.
Menurut Ayu, menjadi istri yang baik bukan berarti selalu menuruti dan menerima semua keadaan, tetapi juga berani menyampaikan pendapat dan mengambil sikap demi kebaikan diri sendiri dan keluarga.
“Istri yang baik itu bukan sekadar nurut dan menerima, tetapi harus berani bicara, berani menentukan sikap, dan berani memperjuangkan kebahagiaannya,” tegasnya.
Ia menilai film Suamiku Lukaku dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai hak dan kewajiban dalam rumah tangga yang harus dijalankan secara seimbang.
Lebih lanjut, Ayu menjelaskan bahwa film tersebut terinspirasi dari berbagai fenomena yang kerap terjadi di lingkungan sekitar, termasuk kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang sering muncul dalam pemberitaan.
Menurutnya, banyak perempuan yang belum memahami hak-haknya sehingga kerap menjadi korban pelampiasan emosi akibat berbagai tekanan yang dihadapi pasangan, mulai dari persoalan ekonomi hingga masalah kehidupan lainnya.
Film ini juga mengangkat pentingnya memutus rantai trauma yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Khususnya menurut saya, selain perempuan dan laki-laki, generasi muda atau Gen Z juga perlu menonton film ini. Ada pesan penting tentang keberanian memutus rantai trauma antargenerasi,” ungkap Ayu.
Ia menambahkan, komunikasi yang sehat antara suami dan istri menjadi kunci terciptanya keluarga yang harmonis tanpa tekanan maupun kekerasan.
“Di dalam rumah tangga harus ada komunikasi yang seimbang. Tidak boleh ada penelantaran, tekanan, maupun kekerasan,” katanya.
Dalam film tersebut, Ayu Azhari memerankan tokoh Fitria, seorang ibu sederhana yang juga menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Trauma yang dialaminya kemudian berulang pada putrinya, Amina, hingga akhirnya keluarga tersebut berusaha menghentikan siklus kekerasan yang terus terjadi.
Sementara itu, sutradara Sharad Sharaan mengatakan film Suamiku Lukaku dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadap tingginya kasus kekerasan dalam rumah tangga.
“Saya membuat film ini karena tidak ingin perempuan di Indonesia maupun di dunia menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga. Kita harus menciptakan rumah yang aman dan damai,” ujarnya.
Film berdurasi 92 menit tersebut mengisahkan perjuangan Amina yang menikah dengan Irfan, seorang pria yang tampak baik di hadapan publik namun menunjukkan sisi berbeda di dalam rumah. Konflik semakin memuncak ketika kondisi putri mereka, Nadia, memburuk dan nyawanya berada dalam ancaman, memaksa Amina menghadapi kenyataan pahit yang selama ini disembunyikan.
Melalui cerita tersebut, film Suamiku Lukaku diharapkan dapat menjadi media edukasi sekaligus kampanye sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghentikan kekerasan dalam rumah tangga dan membangun lingkungan keluarga yang aman bagi perempuan maupun anak-anak. (ped)






