PAYAKUMBUH/50 KOTA

Lestarikan Adat Minangkabau, Pemko Perkuat Wisata Budaya melalui Pergelaran Baadok-Adok

×

Lestarikan Adat Minangkabau, Pemko Perkuat Wisata Budaya melalui Pergelaran Baadok-Adok

Sebarkan artikel ini
SAMBUT—Wakil Wali Kota Payakumbuh Elzadaswarman disambut panitia di Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto Nan Gadang, Minggu 28/6).

PAYAKUMBUH, METROPemerintah Kota Pa­yakumbuh terus memper­kuat pelestarian adat dan budaya Minangkabau me­lalui pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal. Di bawah ke­pe­mim­pinan Wali Kota Zulmaeta, upaya tersebut diwujudkan melalui program Satu Iven Satu Nagari yang mengangkat tradisi lokal menjadi atraksi wisata sekaligus sarana pe­warisan nilai-nilai adat kepada generasi muda.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembukaan kegiatan Mambangkit Tradisi Adat Salingka Nagari Koto Nan Gadang: Pergelaran Baadok-Adok oleh Wakil Wali Kota Pa­yakumbuh Elzadaswarman di Kantor Kerapatan Adat Nagari (KAN) Koto Nan Gadang, Minggu 28/6).

Mewakili Wali Kota Zulmaeta, Elzadaswarman menghadiri pergelaran yang telah ditetapkan sebagai bagian dari Ka­lender Iven Pariwisata Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Payakumbuh. Pergelaran Baadok-Adok menjadi salah satu agenda unggulan dalam program Satu Iven Satu Nagari, sebuah inovasi yang mendorong setiap nagari menampilkan kekhasan budayanya sebagai daya tarik wisata sekaligus mem­­buka peluang pe­ning­­katan ekonomi ma­syarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Turut hadir Ketua DP­RD Kota Payakumbuh Wir­­­man Putra, Ketua LK­AAM Kota Payakumbuh Dt. Parmato Alam, Dt. Mantiko Alam, jajaran KAN Koto Nan Gadang, Bundo Kanduang, niniak mamak, tokoh ma­sya­rakat, serta jajaran Disparpora Kota Payakumbuh.

Baca Juga  Sekolah Tatap Muka, Jumlah Siswa Hadir tak Boleh Lebih 50 Persen

Dalam sambutannya, Elzadaswarman mengatakan Pemerintah Kota Payakumbuh terus mendorong setiap nagari meng­gali, menjaga, dan mempromosikan ke­ka­yaan tradisi yang dimiliki agar menjadi destinasi wisata budaya yang bernilai edukatif sekaligus mampu meningkatkan ke­sejahteraan masyarakat.

“Melalui program Satu Iven Satu Nagari, kita tidak hanya menjaga wa­risan tradisi seperti pro­sesi Baadok-Adok agar te­tap lestari, tetapi juga menjadikannya sebagai daya tarik wisata yang mampu menggerakkan perekonomian ma­sya­rakat,” katanya.

Ia mengapresiasi sinergi camat, LKAAM, KAN, Bundo Kanduang, niniak mamak, dan seluruh ma­syarakat Koto Nan Gadang yang terus berkomitmen menjaga keberlangsungan adat di tengah pesatnya perubahan sosial.

Menurut Elzadaswarman, posisi Kota Payakumbuh sebagai daerah perlintasan menyebabkan arus perubahan berlangsung sangat cepat. Karena itu, adat istiadat harus tetap menjadi benteng moral sekaligus penyaring bagi generasi muda agar mampu menyikapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri budaya.

Untuk memperkuat u­pa­ya tersebut, ia mendorong penyusunan regulasi atau aturan adat di tingkat nagari sebagai dasar perlindungan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. “Aturan itu bukan untuk membatasi, melainkan menjadi payung yang melindungi kelestarian adat agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi be­rikutnya,” ujarnya.

Baca Juga  Dukung Penuh Kegiatan GenRe, Bupati Safaruddin Bersama Ketua TP PKK Terima Penghargaan Ayah dan Bunda GenRe Pengayom Sumatera Barat

Ia juga menilai keterlibatan generasi muda men­jadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan adat. Menurutnya, pemuda, termasuk Ka­rang Taruna, perlu dilibatkan secara aktif dalam setiap kegiatan adat agar nilai-nilai budaya tetap tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat. “Kalau generasi muda tidak dilibatkan sejak se­karang, kita khawatir budaya yang diwariskan pa­ra leluhur perlahan akan ditinggalkan,” katanya.

Elzadaswarman menegaskan pengembangan wisata budaya memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, LKAAM, KAN, niniak mamak, Bundo Kan­duang, hingga ma­sya­rakat, dengan tetap berlandaskan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Pergelaran Baadok-Adok berlangsung semarak dengan menampilkan beragam kesenian tradisional Minangkabau. Setelah pembacaan ayat suci Al-Qur’an, para tamu disuguhi penampilan talempong pacik oleh Bundo Kanduang. Selanjutnya, prosesi Baadok-Adok diperagakan langsung oleh niniak mamak Koto Nan Gadang. Prosesi tersebut memperlihatkan tata cara adat perkawinan salingka nagari yang hingga kini tetap terpelihara sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat. (uus)