AGAM, METRO–Puskesmas Muaro Putus, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam, terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat melalui berbagai inovasi. Salah satunya adalah program Kurma Sejiwa atau Kunjungan Rumah Sehatkan Jiwa, sebuah layanan yang dikhususkan bagi Orang dengan Gangguan Jiwa Berat (ODGJB) melalui pendekatan kunjungan langsung ke rumah pasien.
Program yang telah berjalan selama dua tahun terakhir tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen Puskesmas Muaro Putus dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Melalui layanan ini, tenaga kesehatan tidak hanya menunggu pasien datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga aktif mendatangi rumah pasien untuk memastikan proses pengobatan berjalan dengan baik.
Dalam setiap kunjungan, petugas melakukan pemantauan kondisi kesehatan jiwa pasien, memastikan kepatuhan dalam mengonsumsi obat, memberikan edukasi kepada keluarga, serta mendampingi pasien agar memperoleh perawatan yang berkelanjutan.
Pendekatan berbasis kunjungan rumah dinilai efektif dalam meningkatkan kepatuhan berobat sekaligus memperkuat peran keluarga sebagai pendamping utama pasien. Selain itu, program ini juga menjadi sarana untuk mengurangi stigma yang masih melekat terhadap penyandang gangguan jiwa di tengah masyarakat.
Kepala Puskesmas Muaro Putus, dr. Ibnu Syamsu, didampingi tenaga kesehatan Nelfi Putri Piliang, Amd.Gz., menjelaskan bahwa inovasi Kurma Sejiwa lahir dari keinginan menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih humanis, responsif, dan menjangkau kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.
“Melalui Kurma Sejiwa, kami ingin memastikan bahwa pasien ODGJB tidak hanya mendapatkan pelayanan saat datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga memperoleh pendampingan langsung di lingkungan tempat tinggalnya. Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pasien,” ujar dr. Ibnu saat ditemui di Muaro Putus, Rabu (15/7).
Selain memantau perkembangan kondisi pasien, tenaga kesehatan juga memanfaatkan setiap kunjungan untuk memberikan penyuluhan kepada keluarga. Edukasi tersebut mencakup pentingnya kepatuhan menjalani pengobatan, cara merawat pasien dengan benar, hingga membangun pemahaman bahwa penyandang gangguan jiwa membutuhkan dukungan, bukan diskriminasi.
Selama dua tahun pelaksanaannya, program Kurma Sejiwa dinilai telah memberikan dampak positif. Kepatuhan pasien dalam menjalani terapi meningkat, keterlibatan keluarga dalam proses perawatan semakin baik, dan hubungan antara tenaga kesehatan dengan masyarakat pun menjadi lebih erat.
Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan jiwa tidak hanya bergantung pada fasilitas medis, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang menyentuh langsung kehidupan pasien dan keluarganya. Dengan dukungan lingkungan sekitar, proses pemulihan dapat berlangsung lebih optimal.
Puskesmas Muaro Putus berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi Kurma Sejiwa sebagai bagian dari peningkatan mutu pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya. Pendekatan aktif melalui kunjungan rumah diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup penyandang gangguan jiwa sekaligus membangun lingkungan yang lebih peduli, inklusif, dan mendukung proses pemulihan mereka.
“Ke depan, Puskesmas Muaro Putus berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi Kurma Sejiwa sebagai bagian dari peningkatan mutu pelayanan kesehatan. Melalui pelayanan yang aktif, menyentuh langsung masyarakat, dan berkelanjutan, diharapkan kualitas hidup ODGJB semakin meningkat serta tercipta lingkungan yang lebih peduli, inklusif, dan mendukung proses pemulihan pasien,” tutup dr. Ibnu. (pry)






