METRO NASIONAL

Hugua: Gaji Honorer di Bawah Tukang Becak, Kenapa Masih Didepak

×

Hugua: Gaji Honorer di Bawah Tukang Becak, Kenapa Masih Didepak

Sebarkan artikel ini
Hugua Anggota Komisi II DPR RI

JAKARTA, METRO–Anggota Komisi II DPR RI Hugua sangat menye­salkan langkah sejumlah pemerintah daerah (pem­da) yang mulai mem­ber­hentikan para tenaga honorer. Konon, berbagai ala­san digunakan pemda un­tuk menyingkirkan honorer K2 dan non-K2 tenaga tek­nis administrasi.  “Ke­pala daerah janganlah me­ng­­gunakan alasan ang­garan untuk member­hen­tikan honorer teknis ad­mi­nis­trasi,” kata Hugua ke­pada JPNN.com, Selasa (4/1).

Mantan Bupati Wa­ka­tobi dua periode itu menilai jika alasan anggaran yang digunakan untuk menying­kirkan honorer, itu sangat riskan. Sebab, Hugua tahu selama ini sebagian besar honorer digaji sangat tidak layak, bahkan lebih rendah dari tukang becak.

Baca Juga  PPP Ingatkan Larangan Bagi TNI-Polri Jadi Penjabat Kepala Daerah

Hugua menyebut honorer tidak digaji mahal. Mereka juga legawa ketika cuma diberi seragam dinas lantaran berharap suatu saat diangkat PNS.

Persoalannya, kata Hu­gua, para honorer kini su­dah terjebak karena status PNS yang diharapkan tidak ada lagi dan mereka di­giring ke PPPK. “Apa para kepala daerah tidak punya hati nurani melihat kondisi tersebut. Usia honorer menua seiring dengan ma­sa pengabdiannya. Jadi, jangan pemda main PHK saja,” kritiknya.

Hugua menyebut jika pemda keberatan meng­angkat para honorer Itu menjadi ASN PNS maupun PPPK, dia menyarankan kepala daerah mem­be­rikan gaji yang layak.

Baca Juga  Operasi Aman Nusa II Berakhir, Polri Jamin tak Kendur Menjaga Kamtibmas selama Pandemi

Dia meyakini tidak se­mua orang yang akan ta­han bertahun-tahun men­jadi honorer dengan gaji Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per bulan. “Daripada mem­bangun infrastruktur, tetapi banyak peng­ang­gu­ran lebih baik tidak mem­bangun. Kepala da­erah harus kreatif seperti guber­nur Sulawesi Teng­gara,” ucapnya.

Gubernur Sultra, kata politikus PDIP itu, bisa menaikkan gaji honorer teknis administrasi. Kebi­jakan itu diambil karena melihat belum ada kebi­jakan PPPK untuk teknis administrasi.

“Gubernur Sultra me­milih memberikan subsidi kepada honorer K2 dan non-K2 sebagai salah satu cara menyelamatkan ke­lom­pok masyarakat miskin rentan,” ucap Hugua. (esy/fat/jpnn)