BERITA UTAMA

Golkar Kecam Narasi Provokatif soal Seruan Gulingkan Prabowo

×

Golkar Kecam Narasi Provokatif soal Seruan Gulingkan Prabowo

Sebarkan artikel ini
Idrus Marham Wakil Ketua Umum Partai Golkar,

JAKARTA, METROWakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mengingatkan agar narasi politik tendensius dan bernuansa anti pe­merintahan Pre­si­den Prabowo Su­bian­to tidak ber­kem­bang liar hing­ga berpotensi me­ngganggu stabilitas na­sional.

Ia tidak me­ng­inginkan, terjadi ke­ga­duhan politik dari pernyataan tokoh publik yang tidak utuh atau mul­titaf­sir.

“Indonesia tidak boleh masuk ke je­bakan yang sama. Ki­ta harus belajar dari pengalaman glo­­bal bahwa in­sta­bi­litas sering berawal dari narasi kon­traproduktif yang tidak bertanggung jawab,” kata Idrus di kawasan Senayan, Jakarta, Senin (6/4).

Sorotan publik mencuat setelah pernyataan Islah Bahrawi yang menyebut adanya penurunan kapasitas kognitif Presiden Prabowo. Dalam pandangannya, kondisi kepemim­pinan nasional saat ini dini­lai menjadi sumber berbagai persoalan, termasuk munculnya rasa takut dan tekanan di tengah ma­sya­rakat. Ia pun menilai peru­ba­han ke­pe­mimpinan se­ba­gai solusi.

Di sisi lain, pernyataan Syaiful Mujani yang dianggap menyinggung isu pen­ja­­­tuhan presiden turut mem­­­perkeruh situasi. Mes­­ki Syaiful telah mem­ban­tah dan menyebut per­nyataannya dipotong dari konteks, perdebatan di publik telanjur melebar.

Karena itu, Idrus menekankan persoalan ini bukan sekadar perbedaan pandangan, melainkan menyangkut etika komunikasi politik di ruang publik. Ia menilai bahwa sebagai intelektual, setiap pernya­taan seharusnya mempertimbangkan dampak sosial dan politik yang lebih luas.

Baca Juga  Wiku Ingatkan, Pasbar dan Solok Masuk Zona Merah

Idrus menegaskan, de­mokrasi Indonesia memiliki mekanisme konstitusional yang jelas dalam proses pergantian kekuasaan. Karen itu, ia mengingatkan isu pemakzulan presiden tidak bisa dibangun dari opini atau spekulasi semata.

“Pemakzulan itu proses serius. Ada tahapan konstitusional yang panjang, melalui DPR, Mahkamah Konstitusi, hingga MPR. Tidak bisa digiring lewat opini publik atau narasi tidak utuh yang provokatif,” tegasnya.

Lebih lanjut, Idrus me­nyoroti realitas komunikasi publik saat ini, di mana informasi yang tidak utuh, dipotong, atau disampaikan secara provokatif dapat membentuk persepsi publik secara bias. Hal ini berpotensi mempercepat polarisasi dan merusak kepercayaan terhadap institusi demokrasi.

Ia juga menambahkan bahwa di banyak negara, krisis kepercayaan publik sering bermula dari erosi kredibilitas elite akibat pernyataan yang tidak akurat atau terkesan tendensius. Dalam situasi global yang penuh tekanan, mulai dari konflik geopolitik hing­ga ketidakpastian eko­nomi, stabilitas politik menjadi kebutuhan mendesak.

Baca Juga  Pengedar Narkoba Hilang Misterius di Danau Singkarak

“Ketika dunia sedang tidak pasti, yang dibutuhkan adalah kepemimpinan yang solid dan ruang publik yang sehat, bukan justru memperkeruh suasana dengan narasi yang memecah belah,” ujarnya.

Ia tak memungkiri, persepsi publik sangat mudah terbentuk hanya dari potongan informasi. Oleh karena itu, tanggung jawab moral seorang tokoh publik tidak hanya terletak pada substansi, tetapi juga pada cara penyampaian.

“Kalimat yang dipotong bisa mengubah makna. Di situlah awal dari disinformasi. Maka kehati-hatian adalah keharusan, bukan pilihan,” bebernya.

Idrus mengajak agar perbedaan sikap politik ti­dak berubah menjadi ke­tidak­adilan dalam berpikir dan bertindak. Sebaliknya, sikap kritis dan objektif memang diperlukan dalam demokrasi, namun bukan dalam bentuk provokasi subjektif yang berpotensi memperlebar polarisasi di tengah kompleksitas tantangan bangsa.

“Jangan karena kebencian terhadap seseorang, kita kehilangan objektivitas. Demokrasi tidak boleh dirusak oleh emosi dan prasangka. Demokrasi ha­rus dijaga dengan akal sehat, etika, kedewasaan sikap, dan tanggung ja­wab,” pungkasnya. (jpg)