BERITA UTAMA

Dibiayai TKD, Jembatan Bailey Rampung, Akses Tanah Datar-Sijunjung Lancar, Ekonomi Pulih

×

Dibiayai TKD, Jembatan Bailey Rampung, Akses Tanah Datar-Sijunjung Lancar, Ekonomi Pulih

Sebarkan artikel ini
RAMPUNG— Arus kendaraan kembali ramai melintasi Jembatan Bailey di ruas Setangkai–Tanjung Ampalu, perbatasan Tanahdatar-Sijunjung, yang mulai difungsikan sejak 9 Juli 2026.

TANAHDATAR, METROPemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) melalui Dinas Bina Marga Cipta Karya Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumbar akhirnya menuntaskan pembangunan jembatan bailey yang menghubungkan akses jalan Setangkai-Tanjung Ampalu, perbatasan Kabupaten Tanah Datar dengan Kabupaten Sijunjung,

Terlihat di lokasi jembatan, Selasa (28/7) dua alat berat melakukan penguatan tebing jembatan. Terlihat juga batu-batu bronjong sudah terpasang di bagian kedua ujung tebing samping jembatan lama. Batu bronjong tersebut nantinya menjadi pondasi untuk jembatan bailey nan­tinya.

Sementara jembatan bailey yang sudah terpasang di atas sungai Batang Tampo, untuk sementara waktu dipasang di atas jembatan permanen lama yang sudah rusak. Sehingga jembatan bailey tersebut sudah bisa difungsikan.

Arus kendaraan kini kembali ramai melintasi jembatan bailey tersebut. Bus penumpang, truk ekspedisi, pengangkut bahan kebutuhan pelaku UMKM, truk pengangkut karet, mo­bil pikap bermuatan ba­rang hingga kendaraan roda dua silih berganti melintas. Sejumlah pelajar juga tampak kembali menggunakan jalur tersebut saat pulang sekolah.

Pembangunan jemba­tan bailey yang dibiayai dana transfer ke daerah (TKD) itu, dilakukan karena jembatan yang telah berdiri sejak zaman Belanda itu rusak parah 21 Mei 2026, akibat banjir bandang yang terjadi sejak 12 Mei 2026 lalu.

Hanya butuh waktu em­pat hari memasang jembatan bailey itu sejak dimulai 6 hingga 9 Juli 2026. Ini berkat instruksi Gubernur Sumbar Mahyeldi Ansha­rullah dan Wakil Gubernur (Wagub) Vasko Ruseimy yang mendorong percepatan realisasi dana TKD pascabencana.

Terhubungnya jemba­tan tersebut, berdampak cukup besar bagi ekonomi masyarakat. Pasalnya, terputusnya akses jembatan tersebut melumpuhkan aktivitas ekonomi, pendidikan, dan mobilitas warga.

Putusnya jembatan mem­­buat masyarakat ha­rus­ memutar sejauh 19 hing­ga 20 kilometer dengan waktu tempuh sekitar satu jam melalui jalur Kumani-Tanjung Bonai Aua- Koto Panjang-Tigo Jangko-Pangian Lintau.

Baca Juga  Pengoplos Gas Subsidi Telah Setahun Beraksi, Raup Untung Rp50 Ribu Per Tabung

Dampak lainnya terganggunya aktivitas pelajar dan mahasiswa asal Sijunjung yang menempuh pendidikan di Tanah Datar. Mereka terpaksa menempuh perjalanan berkali lipat lebih jauh dibanding biasanya.

Selain itu, para petani, pedagang, pelaku UMKM hingga pelaku usaha lainnya juga ikut terdampak. Terputusnya jembatan ber­­dampak distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok menjadi terhambat, sehingga roda perekonomian masyarakat lumpuh.

Kepala UPTD Workshop dan Peralatan Dinas BMCKTR Sumbar, Mitra Hengki, mengatakan, pembangunan jembatan bailey dilakukan sebagai bagian dari percepatan penanganan dampak bencana.

Total anggaran pembangunan jembatan bailey beserta pemasangannya mencapai Rp4,9 miliar. “Pembangunan ini tindak lanjut dari atensi Gubernur Mahyeldi Ansharullah, dan Wakil Gubernur Vasko Ru­sei­my yang ingin mem­per­cepat pemanfaatan dana TKD untuk penanganan bencana di Sumatera Barat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pekerjaan yang paling memakan waktu justru berada pada pembangunan struktur penopang jembatan. Pembuatan pondasi tersebut menghabiskan anggaran sekitar Rp800 juta dan dikerjakan secara swakelola, sedangkan konstruksi jembatan bailey menelan anggaran sekitar Rp4 miliar.

“Perakitan jembatan kami mulai 6 Juli, kemudian tiga hari setelahnya atau 9 Juli sudah bisa dilalui masyarakat. Yang paling lama pengerjaannya adalah pembuatan tapak jembatan,” katanya.

Mitra Hengki menambahkan jembatan ini panjangnya 42 meter dan lebarnya 4,2 meter. Jembatan bailey dibangun untuk me­ngembalikan fungsi akses transportasi secepat mungkin, sembari menunggu pembangunan jembatan permanen.

Ia menyebutkan, pembangunan jembatan permanen diperkirakan membutuhkan anggaran Rp25 miliar.

“Meski bersifat sementara, jembatan bailey ini memiliki ketahanan cukup lama. Bahkan bisa digu­na­kan bertahun-tahun dengan kemampuan menahan beban kendaraan hingga 25 sampai 30 ton,” jelasnya.

Ia menambahkan, pe­nger­jaan cepat jembatan ini bentuk komitmen Pemprov Sumbar menjemput dan menindaklajuti aspirasi masyarakat ke bawah, terkhusus yang bersifat urgen. “Ini bukti Pemprov Sumbar selalu ada dan bergerak cepat untuk ma­syarakat,” pungkasnya.

Baca Juga  Adu Kambing dengan Motor Polisi di Kota Padang, Pengendara Yamaha Mio Tewas di Tempat

Sementara itu, Wali Nagari Taluk, Pendi Aswil, mengatakan, putusnya jem­­­batan membuat ma­sya­rakat benar-benar terisolasi selama satu setengah bulan. Seluruh aktivitas harus dialihkan melalui jalur memutar ruas jalan ke­wenangan Pemprov Sum­bar.

Menurutnya, sebagian besar masyarakat di wila­yah tersebut menggantungkan hidup dari sektor perkebunan, terutama komoditas karet. Selain itu terdapat peternak ayam petelur yang selama akses terputus kesulitan mendistribusikan hasil panen ke daerah tujuan.

“Selama akses terputus, perekonomian masya­rakat lumpuh total. Banyak pelaku UMKM memilih me­nutup usahanya karena tidak ada aktivitas eko­nomi. Sekarang setelah jembatan bailey dibangun, masyarakat mulai kembali membuka usahanya. Dengan begini ekonomi ma­sya­rakat kembali bergerak,” ujar Pendi.

Ia mengaku bersyukur dan menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Sum­bar yang cepat merespons keluhan masyarakat dengan membangun kem­bali akses penghubung tersebut.

Ucapan syukur juga datang dari warga sekitar, Reila Islamiah (26). Pemilik warung itu mengaku kini kembali membuka usahanya setelah akses jalan kembali normal.

“Alhamdulillah, se­ka­rang sudah ada lagi uang yang berputar setiap hari dari hasil jualan kami. Kami sangat berterima kasih karena jembatan ini membuat masyarakat kem­bali bisa beraktivitas seperti biasa,” katanya.

Pelaku usaha lainnya, pemilik rumah makan Elok Basamo, It (60) kini juga sudah membuka rumah makan miliknya.

“Kami juga sudah buka kembali sejak jembatan kembali beroperasi. Biasanya sopir-sopir truk yang biasa makan di­sini,­”pungkasnya.

Ia berterima kasih kepada Pemprov Sumbar dalam hal ini Gubernur Mahyeldi dan Wakil Gubernur Vasko Ruseimy karena sudah cepat membuka akses ini.

“Masyarakat sangat bersyukur dan  terbantu sekali karena sidah bisa mem­buka usaha lagi,­”pu­ng­kasnya. (AD.ADPSB)