PADANG, METRO – Italia dikenal dunia lewat pizza. Kuliner khas yang lahir dari dapur-dapur tradisional itu bukan hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga magnet kuat yang menarik jutaan wisatawan mancanegara setiap tahun.
Data Visit Italy Tourism Observatory mencatat, sebanyak 146,3 juta wisatawan berkunjung ke Italia sepanjang 2025.
Sektor pariwisata dan gastronomi pun menjadi salah satu penopang ekonomi negeri itu, dengan kontribusi sekitar 13 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau setara Rp4.900 triliun berdasarkan data Credence Research Inc.
Fenomena serupa juga terlihat di Asia. Thailand dan Jepang berhasil menjadikan kuliner sebagai wajah pariwisata mereka di mata dunia. Dari makanan jalanan hingga sajian tradisional, sektor gastronomi mampu menghidupkan rantai ekonomi masyarakat, mulai dari UMKM lokal, industri kreatif, transportasi, hingga sektor akomodasi.
Kini, Indonesia mulai menapaki jalan yang sama. Aroma rempah dari dapur-dapur nusantara perlahan mendapat tempat di panggung global. Kekayaan kuliner Indonesia yang berakar pada tradisi, budaya, dan filosofi kehidupan mulai dilirik dunia internasional.
Momentum itu semakin terasa setelah Indonesia menerima penghargaan New Destination Champion Award 2026 dari La Liste, lembaga pemeringkat gastronomi global asal Prancis. Penghargaan tersebut diterima di Paris pada 24 November 2025 lalu.
Menteri Pariwisata RI Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, capaian tersebut menjadi penanda bahwa gastronomi Indonesia memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai kekuatan baru sektor pariwisata nasional.
“Pencapaian ini bukan hanya untuk dirayakan semata, tetapi menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh,” kata Widiyanti, Jumat (15/5/2026).
Menurut dia, pengembangan gastronomi tidak lagi sekadar berbicara tentang budaya dan cita rasa, melainkan strategi ekonomi yang memiliki dampak luas bagi masyarakat.
“Ketika masakan Indonesia dikenal dunia, maka permintaan terhadap bahan baku lokal, produk rempah, hingga pengalaman wisata berbasis kuliner juga akan meningkat,” ujarnya.
Ia menilai, efek berganda dari sektor gastronomi akan menggerakkan pertanian, memperkuat pelaku UMKM, membuka peluang kerja bagi talenta kuliner lokal, hingga memperluas kehadiran restoran Indonesia di luar negeri.
Pada akhirnya, geliat itu diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi yang lebih merata bagi masyarakat.
Tak dipungkiri, Indonesia kini tidak hanya menawarkan keindahan alam dan budaya. Dari sepiring rendang, semangkuk soto, hingga aroma rempah dari dapur tradisional, perlahan membangun jalan menuju panggung gastronomi dunia. (Jef)







