SOLOK/SOLSEL

Bencana Hidrometeorologi Akhir 2025, Wabup Pertanyakan Kejelasan Anggaran Penanganan Sawah Rusak Berat

×

Bencana Hidrometeorologi Akhir 2025, Wabup Pertanyakan Kejelasan Anggaran Penanganan Sawah Rusak Berat

Sebarkan artikel ini
PERTANYAKAN—Wabup Solok, H. Candra saat mempertanyakan kejelasan dukungan anggaran penanganan sawah rusak berat akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Solok pada akhir 2025 lalu saat menghadiri kegiatan High Level Meeting (HLM) TPID Sumbar.

SOLOK, METRO–Wakil Bupati (Wabup) Solok, H. Candra mempertanyakan kejelasan duku­ngan anggaran penanga­nan sawah rusak berat aki­bat bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Solok pada akhir 2025 lalu.  Menurutnya, hingga saat ini masih ba­nyak lahan pertanian ma­syarakat yang belum da­pat kembali produktif karena rusak berat. Sementara dukungan anggaran rehabilitasi dari pemerintah belum tersedia.

“Pertanian adalah tulang punggung ekonomi masyarakat Kabupaten Solok. Masih ada sekitar 1.500 hektar sawah rusak berat akibat bencana dan belum tertangani, tentu ini juga akan berdampak terhadap produksi pangan dan stabilitas ekonomi ma­syarakat,” ujar Candra.

Hal ini sengaja diper­tanyakan Candra ketika menghadiri kegiatan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Dae­rah (TPID) Provinsi Suma­tera Barat yang digelar di Aula Anggun Nan Tongga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Sumatera Barat, Padang kemarin. Dalam forum itu, Pemerintah Kabupaten Solok hadir bersama perwa­kilan OPD terkait untuk memperkuat sinergi pe­ngendalian inflasi sekaligus menyampaikan sejumlah persoalan daerah yang berdampak langsung terhadap sektor pangan dan ekonomi masyarakat.

Baca Juga  Ketua Kwarcab Sambut Kwarda Sumbar

Ia menegaskan, persoalan pascabencana tidak hanya menyangkut bantuan darurat, tetapi juga keberlanjutan ekonomi warga, terutama petani yang kehilangan sumber penghasilan akibat rusaknya lahan pertanian.

Forum HLM TPID Sumbar kali ini sendiri menekankan penguatan strategi 4K dalam pengendalian inflasi daerah, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Berdasarkan data yang dipaparkan, inflasi Suma­tera Barat pada periode terbaru berada di angka 1,97 persen secara year on year (yoy), atau mengalami kenaikan harga rata-rata sebesar 1,97 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut dinilai ma­sih berada dalam kategori terkendali dan sehat karena berada dalam rentang target nasional.

Baca Juga  Pemerintah Usulkan Perubahan dan Penyesuaian SOTK Bappeda dan BPBD

Dalam pembahasan stra­­­tegi pengendalian inflasi, sejumlah langkah menjadi perhatian bersama, mulai dari pelaksa­naan Gerakan Pangan Murah (GPM), penguatan stok pangan melalui Bulog, redistribusi komoditas antar daerah, hingga penguatan sistem informasi harga berbasis digital untuk men­cegah panic buying di te­ngah masyarakat dan juga peluncuran aplikasi KIAT SUMBAR.

Wabup Candra menilai, sinergi lintas daerah sa­ngat penting dilakukan, terutama bagi daerah penghasil pangan seperti Kabupaten Solok yang juga ren­tan terdampak bencana alam.  “Stabilitas harga tidak cukup hanya dijaga dari sisi pasar. Produksi petani juga harus diselamatkan. Karena itu persoalan sawah rusak pascabencana ini perlu menjadi perhatian bersama,” ka­tanya. (vko)