OLAHRAGA

Ancaman Punah Sulaman Nareh, Anak Muda Pariaman Ajak Siswa Tunadaksa Belajar Menyulam

×

Ancaman Punah Sulaman Nareh, Anak Muda Pariaman Ajak Siswa Tunadaksa Belajar Menyulam

Sebarkan artikel ini
PELATIHAN INKLUSIF— Ananda Putriani, dosen sekaligus mahasiswa doktoral di UPI Bandung, menggagas pelatihan inklusif Sulaman Nareh yang melibatkan penyandang disabilitas, khususnya pelajar tunadaksa dari SLB Negeri 2 Pariaman, bersama masyarakat umum.

PARIAMAN, METRO–Sulaman benang emas Na­reh di Pariaman kian terancam hilang. Para pengrajinnya kebanyakan sudah lanjut usia, sementara minat generasi muda terus merosot. Tapi seorang anak muda bernama Ananda Putriani tak mau sekadar mengeluh.

ýDia bukan pengrajin senior. Ananda adalah dosen sekaligus mahasiswa doktoral di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Dari jarak itulah dia melihat masalah yang lebih besar yang nyaris punah bukan hanya sulaman, tapi juga ruang bagi generasi baru, termasuk mereka yang tak pernah dianggap sebagai pewaris budaya.

ýAnanda pun merancang langkah tak biasa. Dia menggelar pelatihan sulaman yang melibatkan penyandang disabilitas, khususnya pelajar tunadaksa dari SLB Negeri 2 Pariaman, bersama masya­rakat umum.

ýProgram ini didukung skema Dana Indonesiana, sebuah inisiatif negara untuk menghidupkan kembali warisan budaya lewat praktik di masya­rakat. Pelatihan ini juga ber­kolaborasi dengan pengrajin lokal dari kelompok Sulaman Indah Mayang di Nareh, yang selama ini menjadi penjaga teknik sulaman tradisional.

Baca Juga  Liga Voli Remaja Kota Padang 2022, Klasemen Sementara Dipimpin Tim Putri Porpen

ýPimpinan Sulaman Indah Mayang mengakui kegiatan ini memberi harapan baru. “Selama ini kami kesulitan mencari penerus. Melalui kegiatan ini, kami melihat ada semangat baru, terutama dari peserta muda dan penyandang disabi­litas,” ujarnya.

ýYang menarik adalah pen­dekatannya. Selama ini pelestarian budaya cenderung eksklusif, hanya melibatkan mereka yang dianggap “mampu”. Penyandang disabilitas lebih sering ditempatkan sebagai penerima bantuan, bukan pe­laku. Kini batas itu perlahan dipatahkan.

ýAnanda melihat banyak penyandang tunadaksa punya kemampuan motorik tangan yang baik, ketekunan tinggi, dan minat pada keterampilan me­nyulam. Yang kurang bukan kemampuan, melainkan ke­sempatan.

Baca Juga  (3) Inggris VS Jerman (3), Three Lions Terdegradasi

ýSalah satu peserta, Ani Saputri, mengaku mendapat pengalaman baru yang berarti. “Saya merasa kegiatan ini sangat bermanfaat. Saya jadi bisa belajar sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan,” ujarnya.

ýPelatihan ini tak hanya menyelamatkan sulaman Na­reh dari kepunahan, tapi juga membuka jalan bagi penyandang disabilitas dan masya­rakat untuk sama-sama menjadi bagian dari ekosistem budaya.

Sebuah pameran kecil di akhir kegiatan pun memajang karya-karya mereka, mengu­bah persepsi bahwa pelaku budaya tak harus berasal dari satu kelompok tertentu.

ý”Budaya tidak akan punah hanya karena waktu. Ia hilang ketika kita membatasi siapa yang boleh menjaganya,” begitu pesan yang coba disampaikan Ananda. (rom)