SIJUNJUNG, METRO— Tim Ekspedisi Patriot Institut Pertanian Bogor (IPB) bersama Pemerintah Kabupaten Sijunjung menyusun feasibility study (FS) dan business plan pengembangan hilirisasi kelapa sawit berbasis koperasi di Kawasan Transmigrasi Muara Takung–Kamang Baru.
Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian kajian Tim Ekspedisi Patriot IPB untuk meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan sekaligus mendorong pengembangan ekonomi kawasan transmigrasi.
Penyusunan kajian tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Aula Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Kabupaten Sijunjung.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot IPB, Dr.Veralianta Br. Sebayang mengatakan penyusunan FS dilakukan untuk mengukur kelayakan pengembangan usaha dari berbagai aspek, baik finansial maupun nonfinansial.
“Kajian tersebut mencakup aspek manajemen, kelembagaan, pasar, produksi, hingga ketersediaan bahan baku,” ujarnya.
Menurutnya, kelapa sawit ditetapkan sebagai salah satu komoditas unggulan berdasarkan pemetaan yang dilakukan tim pada 2025. Pada tahun kedua, kajian diarahkan untuk melihat peluang hilirisasi sehingga komoditas tersebut dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat dan kawasan.
“Tahun lalu kami melakukan pemetaan untuk melihat komoditas unggulan yang ada di lokus transmigrasi. Dari hasil pemetaan tersebut, kelapa sawit menjadi komoditas unggulan utama di Kawasan Muara Takung–Kamang Baru,” tuturnya.
Ia mengatakan hasil kajian 2026 nantinya akan menjadi rekomendasi untuk tahapan implementasi pada 2027. “Selain aspek usaha, pengembangan sumber daya manusia juga menjadi perhatian karena keberlanjutan kawasan dinilai membutuhkan SDM yang memiliki kapasitas dalam mengelola usaha,” terangnya.
Koperasi Jadi Penghubung Petani dan Industri
Sementara itu, narasumber pada FGD, Dr.Rasidin Karo Karo Sitepu, menekankan pentingnya memastikan ketersediaan bahan baku sebelum membangun unit pengolahan kelapa sawit.
Menurutnya, potensi produksi tandan buah segar (TBS) perlu dihitung secara rinci dan disesuaikan dengan kemampuan koperasi dalam menghimpun pasokan. Kepastian bahan baku menjadi salah satu faktor penting agar unit pengolahan dapat beroperasi secara berkelanjutan.
“Secara konsep, dari sisi input sebenarnya cukup. Tetapi yang harus kita pastikan adalah apakah koperasi mampu menangkap pasokan tersebut. Ini penting, karena kalau pabrik tidak berjalan sesuai kapasitasnya, maka secara bisnis akan mengalami kerugian,” kata Rasidin.
Ia menilai koperasi dapat berperan sebagai penghubung antara petani dan unit pengolahan, terutama dalam mengonsolidasikan pasokan TBS, menjaga kualitas, mengatur logistik, hingga membangun mekanisme pemasaran yang lebih terorganisasi.
“Koperasi menjadi penting karena menyangkut orang banyak. Dengan koperasi, pasokan dapat dikonsolidasikan, kualitas TBS dapat dikontrol, logistik bisa diatur, dan harga juga lebih terorganisasi,” ungkapnya.
Kelembagaan tersebut dapat memanfaatkan koperasi yang sudah ada atau dilakukan melalui pembentukan maupun revitalisasi koperasi, sesuai kondisi di lapangan. Untuk mendukung penyusunan FS, Tim Ekspedisi Patriot IPB telah melakukan wawancara dengan sejumlah koperasi dan kelompok tani guna memetakan kondisi kelembagaan, aktivitas ekonomi, serta pola pemasaran TBS.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Sijunjung, Aprizal, M.Si., mengapresiasi kajian yang dilakukan Tim Ekspedisi Patriot IPB.
Ia berharap pengembangan kawasan transmigrasi tidak hanya menghasilkan aktivitas usaha baru, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kami berharap investasi ini nantinya bisa memberikan lonjakan terhadap perekonomian. Karena itu, kajiannya perlu dipertajam, termasuk bagaimana dampaknya terhadap pendapatan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi Sijunjung,” katanya.
Aprizal juga meminta agar perencanaan mempertimbangkan karakteristik wilayah dan kearifan lokal sehingga program yang dirancang dapat diterima masyarakat dan berkelanjutan.
Dalam FGD tersebut, pemerintah daerah juga mendorong agar hilirisasi kelapa sawit tidak berhenti pada produksi crude palm oil (CPO).
Sejumlah produk turunan seperti minyak goreng, margarin, kosmetik, dan produk lainnya dinilai perlu masuk dalam kajian untuk melihat peluang peningkatan nilai ekonomi komoditas sawit.
“Kalau pabrik CPO sudah ada beberapa, kita perlu melihat lebih jauh apa yang bisa dikembangkan di Sijunjung. Hilirisasi CPO itu baru tahap awal. Produk turunannya bisa dikembangkan menjadi minyak goreng, margarin, kosmetik, dan lainnya,” ungkanya.
Masukan tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan kajian. Ia menyebut tim sebelumnya telah mencoba mengkaji pengembangan produk turunan dari CPO hingga minyak goreng.
“Kami menerima masukan dari bapak dan ibu semua. Sebelumnya kami juga sudah mencoba pengembangan dari CPO sampai minyak goreng. Ke depan, bukan hanya minyak goreng, tetapi bisa melihat margarin, kosmetik, dan produk turunan lainnya,” ujarnya.
Sementara, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sijunjung menilai FS yang komprehensif juga dapat menjadi dokumen pendukung dalam menawarkan potensi hilirisasi daerah kepada investor.
Selain potensi komoditas, kepastian bahan baku, pasar, dan informasi usaha dinilai perlu disajikan secara jelas agar investor memiliki gambaran yang lebih lengkap mengenai peluang investasi.
“Kalau FS ini sudah jelas, kita lebih gampang menjual kepada investor. Investor sebenarnya banyak yang berminat, tetapi kami masih minim informasi dan data. Tidak hanya potensi, tetapi pasar dan market juga harus jelas supaya investor tidak ragu lagi,” ujar DPMPTSP Sijunjung.
Selain kelapa sawit di Muara Takung–Kamang Baru, Tim Ekspedisi Patriot IPB juga melakukan pendampingan terhadap komoditas pisang kepok di Padang Tarok yang diarahkan untuk pengembangan tepung pisang.
Berbagai masukan dari pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam FGD tersebut selanjutnya akan menjadi bahan penyempurnaan FS dan business plan. Dokumen tersebut diharapkan menjadi dasar rekomendasi pengembangan hilirisasi kelapa sawit berbasis koperasi di Kawasan Transmigrasi Muara Takung–Kamang Baru. (ndo/rel)






