BERITA UTAMA

Kesabaran, Ramadan dan Pertolongan Allah

×

Kesabaran, Ramadan dan Pertolongan Allah

Sebarkan artikel ini
Oleh: Syifaul Qulub Amin

Pada bulan suci Ramadan seorang Muslim tidak hanya bisa memanfaatkan waktu dengan ibadah puasa. Tidak hanya bisa me­­man­faat­kan de­ngan memp­er­ba­nyak mem­ba­ca Alquran, dan amal ke­baikan lain­nya.

Namun, bi­sa juga un­tuk me­ma­ha­mi hal-hal yang kita ti­dak sadari se­belumnya, ta­pi sebe­nar­nya hal ter­se­but meru­pa­kan hal yang perlu dipa­ha­mi karena merupakan bagian tak terpisahkan dari bulan Ramadan.

Di antara hal tersebut adalah “kesabaran”. Ia tak terpisahkan dari bulan suci. Hal ini bisa kita lihat pada kewajiban berpuasa Ramadan. Kewajiban ini merupakan salah satu cara untuk melatih kesabaran dalam semua aspek kehidupan.

Bahkan, bulan Ramadan bukan hanya sekedar momen yang tepat melatih kesabaran menahan haus dahaga dan lapar saat berpuasa, tapi juga bisa kita manfaatkan untuk memahami beberapa topik penting tentang “kesabaran”.

Salah satu yang penting untuk kita pahami adalah bahwa kesabaran sangat berkaitan erat dengan bulan Ramadan dan kesabaran merupakan awal dari pertolongan Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 153, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).

Dalam menafsirkan ayat ini, Imam Abu Hayyan dalam tafsir Al-Bahrul Muhith memaparkan beberapa pendapat para mufassir terkait makna sabar. Di antaranya seperti redaksi berikut: “Sebagian ulama mengartikan sabar dalam ayat ini dengan kesabaran atas cacian orang-orang kafir soal perpindahan kiblat (yang sebelumnya shalat menghadap ke Baitul Maqdis) lalu berganti ke Ka’bah. Sebagian lagi ada yang mengartikan sabar dalam melaksanakan kewajiban. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan sebagian ulama, ia berkata, ‘sabar itu adalah kinayah dari puasa, ada juga yang mengartikan bahwa Ramadhan bulan kesabaran.” (Imam Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith, [Beirut: Darul Fiqr, 1420 H], jilid II, hal. 51).

Baca Juga  Maling Sikat 150 Ekor Itik

Jadi, antara kesabaran dan Ramadan merupakan dua unsur yang sangat berkaitan, tak terpisahkan, hingga dikatakan bahwa Ramadan merupakan bulan kesabaran, sebagaimana penafsiran paling akhir.­ Selain itu, kesabaran juga tak terpisahkan dari pertolongan Allah SWT. Hal ini juga tersirat dalam ayat di muka. Secara tegas Allah SWT memerintah orang-orang Mukmin meminta pertolongan dengan kesabaran dan shalat.

Di samping itu, Rasulullah SAW pun memosisikan kesabaran yang kita punya sebagai rezeki yang sangat berharga, bahkan sampai disebut pemberian yang paling baik dan luas. Berikut bunyi haditsnya: “Seorang hamba tidak diberikan rezeki yang lebih baik dan luas daripada rezeki kesabaran.” (HR Imam Hakim).

Dalam riwayat yang lain disebutkan: “Siapa saja menjaga kesucian dirinya, maka Allah akan menjaga kesuciannya, siapa saja mencukupkan dirinya tanpa meminta-minta, maka Allah akan menjadikannya kaya, dan siapa yang berlatih untuk bersabar, Allah akan beri kesabaran, dan tidaklah seseorang diberi pemberian yang lebih baik daripada kesabaran.” (HR Imam Bukhari)

Dalam dua hadits di muka terdapat diksi “ash-shabru”, kesabaran dan “yatashabbar”, berlatih bersabar. Artinya, yang dimaksud pemberian yang paling baik dan luas tersebut adalah kesabaran. Da­lam konteks ini, kesabaran itu murni pemberian/rezeki dari Allah SWT. Ini makna dari hadits pertama dan kalimat terakhir dari hadits kedua.

Baca Juga  Patuhi Hukum, Mahyeldi Datangi Bawaslu

Bagaimana cara men­da­patkannya? Dengan be­rusaha bersabar, seba­gaimana tersurat dalam kalimat awal dalam hadits kedua yang memakai diksi “yatashabbar”.

Dalam ilmu gramatika Arab, setiap kata yang mengikuti wazan tafa’alah-yatafa’alu, tashabbara-yatashabbaru, berfaedah “takalluf”. Artinya, harus ada usaha untuk mendapatkan hal tersebut, dalam konteks ini adalah mendapatkan kesabaran.

Kenapa kesabaran di­kate­gorikan sebagai rezeki paling baik dan luas?  Dalam hadits dikatakan, ‘siapa saja berusaha bersabar niscaya Allah akan berikan kesabaran. Dan ketika ia diberi rezeki kesabaran, hal tersebut lebih luas daripada seluruh kenikmatan yang luas. Karena kesabaran akan mempermudah melaksanakan segala kebaikan, meninggal kemungkaran, dan sekaligus meringankan semua beban perkara yang tidak disukai tapi ditakdirkan.” (Syekh Zainuddin Al-Munawi, Faidhul Qadir, [Mesir, Maktabah at-Tijariyyah al-Kubra, 1356 H], jilid V, hlm. 447).

Dari semua pemaparan di atas bisa kita simpulkan bahwa bulan Ramadan me­rupakan momen yang sangat tepat untuk melatih bersabar dalam segala aspek kehidupan, baik secara vertikal dengan bersabar dalam menjalankan amal yang diperintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya, atau secara horizontal dengan bersabar dari hal-hal yang tidak kita suka yang bersumber dari sesama manusia.

Latihan bersabar tersebut merupakan ikhtiar kita agar diberi rezeki kesabaran yang menjadi kunci untuk membuka gembok-gembok, bisa menyingkirkan kesulitan yang sedang menimpa. Jika kesulitan itu tak kunjung pergi, yakinlah bahwa pertolongan-Nya akan datang di waktu yang tepat berkat kesabaran kita. Wallahu a’lam. (**)