BERITA UTAMA

Kemenperin Bidik Pasar Kerja Global untuk Serap Lulusan Sekolah Vokasi

×

Kemenperin Bidik Pasar Kerja Global untuk Serap Lulusan Sekolah Vokasi

Sebarkan artikel ini
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

JAKARTA, METRO–Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperluas pasar kerja hingga ke luar negeri sebagai salah satu strategi menjaga penyerapan lulusan sekolah vokasi. Kualitas lulusan sekolah vokasi Kemenperin telah mendapat pengakuan dari dunia industri.

“Hingga Juli 2026, sebanyak 1.483 orang atau 63,70 persen dari total 2.369 lulusan telah terserap bekerja di berbagai perusahaan industri. Capaian ini menunjukkan bahwa kompetensi lulusan SMK Kementerian Perindustrian sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri,” kata Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Doddy Rahadi dilansir dari Antara.

Menurut dia, BPSDMI akan terus mendampingi lulusan yang masih dalam proses pencarian kerja. Para lulusan yang masih dalam proses rekrutmen, BPSDMI bersama SMK akan memberi asistensi selama tiga bulan untuk pencarian kerja.

“Apabila dalam enam bulan masih belum terserap, akan diberikan program penguatan kompetensi spesifik maupun fasilitasi pemaga­ngan guna mempercepat penempatan kerja,” jelas Doddy.

Selain memiliki tingkat penyerapan kerja yang tinggi, menurut Doddy, se­kolah vokasi Kemenperin semakin diminati ma­syarakat. Pada tahun ajaran 2026, rasio pendaftar terhadap daya tampung mencapai 1:12,2, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1:10,7.

Doddy menegaskan ting­ginya animo ma­syarakat tersebut menjadi motivasi bagi BPSDMI untuk terus menjaga kualitas pendidikan vokasi industri.

Doddy Rahadi mengatakan, peluang kerja di pasar internasional menjadi salah satu solusi untuk menjaga daya saing lulusan di tengah perlambatan industri manufaktur dalam negeri akibat kondisi ekonomi global.

“Kalau sektor jasa tentu penyerapannya cukup besar. Sementara sektor manufaktur memang sedikit melemah karena kondisi pasar dunia. Tetapi kita tidak boleh berhenti,” ujar Doddy.

Menurut Dia, Kemenperin mulai memperluas kerja sama dengan sejumlah negara yang masih membutuhkan tenaga kerja terampil. Pelatihan pun disiapkan agar lulusan mampu memenuhi kebutuhan industri di berbagai negara, termasuk kawasan Eropa Timur.

Baca Juga  Rumah Gadang Bundo Kanduang Minangkabau, Pelihara dan Tingkatkan Nilai-nilai Kebudayaan di Sumbar

“Misalnya ada peluang ke Eropa Timur, kita juga menyiapkan pelatihan bagi tenaga kerja untuk kebutuhan pasar di Belarus, Rusia, Slovakia, dan negara lainnya. Kita terus bekerja sama dengan kementerian lain untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja tersebut,” ungkap Doddy Rahadi.

Selain Eropa Timur, Jepang masih menjadi negara tujuan utama penempatan lulusan sekolah vokasi Kemenperin. Melalui Politeknik ATI Makassar, setiap tahun sekitar 70 hingga 200 peserta dikirim mengikuti program magang di berbagai industri.

“Iya, masih banyak dari Jepang. Ada juga yang ke China, tetapi jumlahnya tidak sebanyak Jepang,” ujar Doddy Rahadi.

Dia menjelaskan, program magang tersebut tidak hanya menjadi sarana peningkatan kompetensi, tetapi juga membuka peluang bekerja secara permanen. “Kalau memang hasilnya bagus dan industrinya membutuhkan tenaga kerja, biasanya mereka akan direkrut menjadi pekerja tetap,” ungkap Doddy Rahadi.

Kemenperin juga menyiapkan program peningkatan keterampilan (reskilling) bagi pekerja yang terdampak PHK agar tetap kompetitif ketika kembali memasuki pasar kerja. “Lulusan tetap kami cetak setiap tahun. Kalau memang ada yang belum terserap, kami lakukan reskil­ling,” terang Doddy.

Menurut Dia, pekerja yang kehilangan pekerjaan dapat mengikuti pelatihan di balai pendidikan dan pelatihan milik Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan maupun lembaga pelatihan lain. Begitu juga bagi pekerja yang terkena PHK, mereka mengikuti pelatihan kembali di balai diklat Kementerian Perindustrian, Kementerian Ketenagakerjaan, maupun lembaga pelatihan lainnya.

“Artinya dilakukan reskilling selama masa belum bekerja agar waktunya tetap produktif,” papar Doddy Rahadi.

Meski industri manufaktur menghadapi tantangan, penyerapan lulusan sekolah vokasi Kemenperin tetap terjaga. Dalam satu bulan setelah kelulusan, lebih dari separuh lulusan SMK binaan Kemenperin telah memperoleh pekerjaan.

Baca Juga  Edarkan Sabu dan Ganja, Petani Ditangkap

“Untuk lulusan SMK binaan Kemenperin, dalam satu bulan pertama setelah lulus, tingkat penyerapannya sudah mencapai 52,22 persen,” ujar Doddy Rahadi.

Doddy menambahkan, lulusan sekolah vokasi Kemenperin kini telah bekerja di sedikitnya 21 negara. Hal itu didukung kerja sama dengan berbagai lembaga sertifikasi internasional sehingga kompetensi lulusan diakui industri global.

“Lulusan kami juga bekerja di 21 negara. Artinya, kita bisa bersaing sampai ke tingkat internasional,” tandas Doddy Rahadi.

Saat ini sekolah dan politeknik di bawah Kemenperin menghasilkan sekitar 9.300 lulusan setiap tahun dengan jumlah peserta didik aktif mencapai sekitar 34 ribu orang.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan prospek kerja lulusan sekolah vokasi Kemenperin masih sangat terbuka. Berdasar data pada 2025, hampir seluruh lulusan telah terserap ke dunia kerja, melanjutkan pendidikan, berwirausaha, atau sedang menjalani proses rekrutmen.

“Anak-anak dari se­kolah kejuruan Kementerian Perindustrian banyak dari mereka anak-anak yang datang dari keluarga sederhana, sama seperti sebagian besar menandatangani hasil uji dan menjaga mutu produk di lima benua. Itu bukan mimpi yang saya janjikan. Itu jejak yang sudah ada, ditinggalkan oleh kakak-kakak,” sebut Agus.

Agus menilai kebutuhan tenaga kerja industri tetap besar meski terjadi PHK di sejumlah perusahaan. Dia merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan industri pengolahan tumbuh 5,04 persen pada triwulan I 2026, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen.

Sektor tersebut juga menyumbang 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja, dan berkontribusi sekitar 82 persen terhadap total nilai ekspor nasional sepanjang Januari–Mei 2026. (jpg)