BERITA UTAMA

Kasus Ledakan Bom Rakitan di MAN 3 Padang, Polisi Ungkap Pelaku 4 Bulan Belajar Autodidak untuk Merakit

×

Kasus Ledakan Bom Rakitan di MAN 3 Padang, Polisi Ungkap Pelaku 4 Bulan Belajar Autodidak untuk Merakit

Sebarkan artikel ini

PADANG, METROPihak Kepolisian terus mendalami kasus bom rakitan yang dibawa dan diledakkan seorang siswa MAN 3 Padang berinisial R (17). Hingga saat ini, 12 saksi telah diperiksa untuk mengungkap motif serta kronologi lengkap peristiwa tersebut.

Kabid Humas Polda Sum­bar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, mengatakan pemeriksaan saksi dilakukan secara bertahap. Pada hari pertama kejadian pada Selasa (14/7), penyidik memeriksa tujuh orang saksi. Lalu, pada Rabu (15/7), penyidik kembali memeriksa lima saksi.

“Pemeriksaan saksi te­rus dilakukan untuk melengkapi proses penyidikan. Sampai saat ini sudah ada 12 orang yang dimintai keterangan,” kata Kombes Pol Susmelawati kepada wartawan, Kamis (16/7).

Kombes Pol Susmelawati menjelaskan, para saksi yang diperiksa berasal dari berbagai pihak yang dinilai mengetahui aktivitas maupun kondisi R sebelum insiden terjadi. Saksi itu di antaranya wali kelas, guru bimbingan konseling atau BK, kepala se­kolah, orang tua siswa, satpam sekolah, serta beberapa siswa yang merupakan teman satu angkatan dengan R.

Baca Juga  Diduga Dianiaya Sipir di LP Muaro Padang, Luka Napi Diberi Asam

“Penyidik masih mendalami berbagai aspek, mulai dari aktivitas R sebelum kejadian, proses pembuatan bom rakitan secara autodidak, hingga dugaan perundungan yang dialami siswa tersebut,” tutur dia.

Menurut Kombes Pol Susmelawati, berdasarkan pengakuan dari yang bersangkutan, dia belajar secara mandiri atau autodidak dari YouTube, Instagram, dan internet. Dia belajar mandiri secara autodidak lebih kurang selama empat bulan.

“Sampai saat ini, belum ada informasi terkait adanya pihak atau orang lain yang membimbingnya. Da­ri hasil pemeriksaan terhadap pelaku, memang dia itu mengaku belajar autodi­dak secara mandiri sen­diri,” ungkapnya.

Kombes Pol Susmelawati menambakan, R belajar merakit bom  dari bulan Ramadan sampai se­ka­rang. Kepada penyidik, R mengaku sudah dibully sejak kelas II dan sekarang dia sudah kelas III. Sejak pertama duduk di kelas II, ia kerap dibully oleh teman-teman kelasnya.

“Jadi, tindakan ini kemungkinan merupakan aku­mulasi dari beban teka­nan psikologis yang men­da­lam sehingga dia dari bulan Ramadan sudah belajar secara autodidak, kemudian melihat internet, melihat instagram itu ia lakukan, itu ia akui sendiri,” tambahnya.

Baca Juga  Gegara Truk Rem Blong di Kabupaten Solok, 4 Kendaraan Tabrakan Beruntun, Korban Luka-luka Dilarikan ke RS

Sejauh ini, kata Kombes Pol Susmelawati, R tidak terafiliasi dengan jaringan terorisme. Saat ini R tengah menjalani rehabilitasi psi­kologis. Pihak kepolisian berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait pemulihan R.

“Jadi, kita juga butuh merehab (pemulihan) supaya merehabilitasi psikologis si anak ini agar tidak terpapar lebih jauh. Saat ini, Kapolres sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan OPD setempat untuk pemulihan dan rehabilitasi korban. Ini yang sedang menjadi prioritas utama,” tuturnya.

Kombes Pol Susmelawati menjelaskan, saat ini pemeriksaan terhadap R ma­sih berjalan. Namun Polisi masih berfokus pada pe­mulihan R.

“Saat ini masalah pemeriksaan sedang berjalan. Masalah penetapan (status) atau apa itu belum ada, karena fokus saat ini adalah pemulihan bagi korban. Pemulihan atau pendampingan psikologis bagi korban menjadi hal yang paling utama,” pung­kasnya. (*)