BUKITTINGGI, METRO – Masyarakat Canduang Koto Laweh, Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, dikagetkan dengan turunnya hujan es di kawasan Kaki Gunung Marapi Kamis (28/3). Fenomena alam berlangsung sekitar 10 menit.
Kejadian ini berlangsung sekitar pukul, 14,37 Wib hingga 10 menit ke depan. Yogi, (25), petugas Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang sedang berada di Kantor Wali Nagari Canduang Koto Laweh mengatakan, dia melihat fenomena alam ini secara tidak sengaja.
”Saya dan empat orang teman saya, sedang bertugas di Kantor Wali Nagari Canduang Koto Laweh. Tiba-tiba mendengar suara keras dari atap kantor. Lalu saya menoleh ke arah rumput, ternyata sumber suara itu dari butiran es,” ujar Yogi.
Ia menambahkan, karena penasaran, dia dan keempat temannya keluar kantor, lalu menoleh ke arah kolam ikan dan melihat butiran hujan es telah menumpuk di atas jala kolam ikan tersebut.
”Ada sekitar dua ember kecil butiran es menumpuk di atas jala kolam ikan yang terletak di samping kantor. Lalu, karena merasa aneh, saya dan empat teman saya mengabadikan serta membagikan ke dunia maya,” ujarnya.
Hal yang senada juga disampaikan oleh Usma (26), yang merupakan petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang sedang berada di Kantor Wali Nagari Canduang Koto.
“Fenomena alam ini pernah terjadi di sini, tapi saya masih kecil, tapi tidak sebanyak yang saya lihat hari ini. Karena ini aneh, saya sempat mengumpulkan butiran es ini ke dalam gelas,” jelasnya.
Karena Awan Beku
Badan Metreologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, hujan es yang terjadi di Gunung Marapi karena adanya awan konvektif tebal atau dinamakan awan cumulonimbus yaitu, yang berwarna abu-abu dan agak kehitaman. Bahkan, awan cumulonimbus itu bisa terjadi dimana saja.
”Jadi hujan es ini bisa terjadi ketika awan hujan yang bewarna abu-abu kehitam-hitaman atau disebut awan cumulonimbus kondisinya sangat jenuh dan beku,” kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Minangkabau Padang Pariaman, Yudha Nugraha, Kamis (28/3).
Yudha menambahkan, awan cumulonimbus bisa menyebabkan terjadinya hujan lebat disertai angin kencang dan petir serta tumbuh menjadi butiran es. Seiring terdapat aliran udara naik dan turun di dalam awan, ukuran butiran es menjadi lebih besar hingga sampai ke permukaan bumi.
”Biasanya awan-awan cumulonimbus terbentuk akibat pemanasan di permukaan bumi yang tinggi serta adanya dorongan udara naik yang kuat secara vertikal, sehingga dapat tumbuh hingga ketinggian 10-15 kilometer,” ujar Yudha.
Selain itu, Yudha mengingatkan, pada masa peralihan musim, baik musim kemarau ke musim hujan atau pun sebaliknya dapat berpotensi terjadinya hujan es. Sebab, panas terik di siang hari, dan menjelang malam potensi cuaca buruk mulai terjadi. Sebagaimana yang terjadi di Gunung Merapi.
“Kalau waktu masa transisi atau peralihan musim baik dari musim kemarau ke musim hujan ataupun dari musim hujan ke musim kemarau. Memang sering terjadi hujan es,” sebut Yudha.
Lebih lanjut, kata Yudha, bahwa jika satu sampai tiga hari berturut-turut tidak ada hujan pada masa transisi atau pancaroba serta penghujan, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang pertama kali turun diikuti angin kencang baik yang masuk dalam kategori puting beliung maupun yang tidak.
Oleh karena itu, Yudha mengimbau, kepada masyarakat agar selalu waspada apabila terlihat awan cumulonimbus, dimana dengan adanya awan dimaksud, tentunya akan ada fenomena meteorologi tertentu yang akan terjadi. Seperti potensi hujan, baik itu hujan es atau bukan, angin kencang dan petir.
“Kita kan tidak tau kapan datangnya hujan es. Namun, kita dapat mewaspadai terhadap keberadaan awan cumulonimbus ini berdasarkan ilmu meteorologi. Kewaspadaan ini perlu dilakukan, mengingat wilayah Sumbar akhir-ahir ini cukup panas. Jadi pada saat hujan pertama berpotensi diikuti juga angin kencang dan petir,” tukasnya. (u/mil)






