PASAMAN, METRO— Memasuki hari keempat pencarian, Tim SAR gabungan masih belum menemukan korban terseret arus banjir bandang yang terjadi di Kampung Parit, Jorong Tonang Raya, Nagari Simpang Tonang, Kecamatan Duo Koto, Kabupaten Pasaman, Senin (21/9).
Korban diketahui bernama Amri Anto (51), yang terseret arus akibat banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada Jumat (18/9) lalu. Sejak dilaporkan hilang, Tim SAR gabungan sudah berupaya melakukan pencarian terhadap korban, namun belum membuahkan hasil.
Koordinator Pos SAR Pasaman, Novi Yurandi, menjelaskan bahwa operasi pencarian pada hari ketiga, dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan mengerahkan Tim SAR gabungan.
“Pencarian pada hari ketiga ini kami bagi ke dalam dua Search and Rescue Unit (SRU) dengan luas area pencarian sekitar dua kilometer persegi,” ujar Novi Yurandi saat dikonfirmasi, Minggu malam.
Novi merinci, unsur yang terlibat dalam operasi SAR gabungan ini terdiri dari personel Pos SAR Pasaman, Unit Siaga SAR Agam, Polres Pasaman, BPBD Pasaman, Kodim 0305, local hero, serta masyarakat setempat dengan total puluhan personel.
“Selain itu, Tim SAR juga mengerahkan berbagai peralatan utama (alut) dan peralatan SAR (palsar) pendukung, di antaranya Rescue Car Double Cabin, Rescue Truck, ambulans, LCR, palsar air, peralatan medis dan komunikasi, Aqua Eye, drone thermal, hingga alat berat ekskavator untuk membantu penyisiran material banjir,” kata Novi.
Meski demikian, ungkap Novi, hingga penutupan sementara operasi pada pukul 18.00 WIB, hasil pencarian masih nihil.
“Operasi SAR dihentikan sementara pada sore tadi karena kondisi mulai gelap dan akan dilanjutkan kembali besok pagi, Selasa, 22 September 2026, mulai pukul 07.00 WIB,” pungkas Novi.
Musibah banjir bandang ini sendiri bermula ketika hujan lebat mengguyur wilayah Kabupaten Pasaman pada Jumat (18/9) sekitar pukul 16.00 WIB. Tingginya intensitas hujan memicu banjir bandang pada pukul 17.15 WIB yang merendam kawasan tersebut dan menyeret satu orang warga.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pasaman, Mardianto, mengatakan banjir juga menyebabkan satu rumah rusak dan tidak dapat ditempati. Selain itu, sejumlah fasilitas umum, lahan pertanian, kolam ikan hingga jaringan air bersih warga ikut terdampak.
“Terendam banjir sebanyak 17 unit, yakni tujuh rumah di Kampung Parit dan 10 rumah di Tolang Dolok. Sementara satu rumah di Kampung Parit rusak dan tidak dapat ditempati,” ungkap Mardianto pada wartawan, Sabtu (19/9).
Dikatakan Mardianto, banjir juga mengakibatkan satu jembatan di Pasar Simpang Tonang mengalami kerusakan ringan. Untuk sektor pertanian, sekitar lima hektare tanaman padi berusia dua minggu di Kampung Parit tertimbun pasir, batu dan pohon kayu berukuran besar. Kondisi tersebut membuat lahan tidak dapat ditanami kembali.
Selain itu, tanaman jagung seluas sekitar 10 pancang yang berusia dua bulan juga terdampak setelah tertimbun material dan sampah banjir. Banjir turut menghanyutkan ikan dari 12 kolam milik warga. Sebanyak 10 kolam berada di Kampung Parit, satu di Jembatan Pasar Simpang Tonang dan satu lainnya di Tolang Dolok.
Dampak lainnya terjadi pada jaringan air bersih warga Kampung Parit. Hulu sumber air bersih mengalami kerusakan berat, sementara bendungan Aek Koronok Gunung Ledang di Kampung Parit runtuh akibat diterjang banjir.
“Akibatnya, pasokan air bersih untuk warga Kampung Parit terputus,” terangnya.
BPBD Pasaman juga mencatat satu warga dilaporkan hilang dalam peristiwa tersebut. Korban merupakan warga Tolang Dolok, Jorong Tonang Raya, yang diduga terseret arus di Sungai Aek Koronok, Kampung Parit.
Selain itu, rumah milik warga bernama Ndek Adit di Kampung Parit mengalami kerusakan berat hingga tidak dapat dihuni. Rumah tersebut dihuni empat orang, terdiri dari kepala keluarga, istri dan dua anak.
Keluarga tersebut saat ini mengungsi. Selain rumah, padi serta sejumlah barang rumah tangga milik korban juga dilaporkan hanyut terbawa banjir. Rumah warga lainnya, milik Ndek Yoga di kawasan Jembatan Pasar Simpang Tonang, juga terdampak. Bagian teras rumah runtuh dan hanyut diterjang banjir.
“Rumah tersebut untuk sementara tidak dapat dihuni karena berada sangat dekat dengan bibir sungai dan kondisi arus masih deras. Diperlukan pembangunan dinding penahan untuk mengantisipasi abrasi susulan yang berpotensi mengancam bangunan rumah,” ujarnya. (ped)






