BERITA UTAMA

Banyak Kasus Keracunan MBG, CIPS Nilai Perbaikan Tata Kelola BGN Belum Sentuh Akar Masalah

×

Banyak Kasus Keracunan MBG, CIPS Nilai Perbaikan Tata Kelola BGN Belum Sentuh Akar Masalah

Sebarkan artikel ini
KERACUNAN— Korban keracunan MBG dirawat di rumah sakit.

JAKARTA, METROCenter for Indonesian Policy Studies (CIPS) menilai kasus keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang masih terjadi di sejumlah daerah beberapa hari terakhir menunjukkan bah­wa persoalan utama MBG belum terselesaikan.

Peneliti dan Analis Kebijakan Senior CIPS, Jimmy Daniel Berlianto mengatakan, upaya perbaikan yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) sejauh ini belum menyentuh akar ma­sa­lah.

“Kasus keracunan yang menimpa ratusan penerima MBG di Sidoarjo, se­telah insiden serupa yang terjadi di Semarang dan Papua dalam beberapa waktu terakhir, membuktikan bahwa upaya perbaikan saat ini belum me­nyentuh akar masalah dari desain tata kelola dan mekanisme pengawasan MBG,” ungkap Jimmy, da­lam keterangan tertulis diku­tip Jumat (4/9).

Menurut Jimmy, desain tata kelola program MBG saat ini masih tetap menggunakan pendekatan sentralistis atau top-down.

Padahal, hasil studi terbaru CIPS (2026) menunjukkan kebijakan tersentral untuk program MBG tidak efektif karena cenderung membatasi pengawasan dan me­nyulitkan penyesuaian dengan konteks lokal.

Baca Juga  Prabowo Bakal Umumkan Pencapresannya di Rapimnas Gerindra

Perubahan yang dila­kukan BGN juga belum me­nyasar pada aspek yang seharusnya menjadi prioritas, seperti pembagian ranah serta wewenang pemerintah pusat dan aktor-aktor lokal dalam implementasi MBG.

Akibatnya, persoalan yang sama dalam implementasi MBG terus terjadi: masalah keamanan pangan serta kedisiplinan di tingkat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku unit ope­rasional pelayanan yang bertugas mengelola, menyiapkan, dan mendistribusikan makanan bergizi.

Di sisi lain, studi CIPS menemukan, tata kelola program serupa di negara lain seperti Jepang dan Tiongkok, terbukti jauh lebih efektif karena membagi kewenangan antara pemerintah tingkat pusat dan aktor daerah, sekaligus memperhatikan kebutuhan lokal yang beragam.

“Pengalaman program sejenis di berbagai negara menunjukkan bahwa efektivitas program distribusi makan bergizi seperti MBG sangat ditentukan oleh peran aktor lokal dalam desain tata kelolanya.

Ini menjadi pelajaran penting bagi Indonesia dalam memperkuat MBG,” lanjut Jimmy.

CIPS mendorong pemerintah untuk mengutamakan reformasi tata kelola MBG pada pembagian peran antara pemerintah pusat dan aktor lokal.

Baca Juga  Rumah Teroris Penyerang Mabes Polri Digeledah

Pemerintah pusat sebaiknya bertugas menentukan standar nasional, terutama untuk aspek ke­amanan pangan, kualitas layanan, standar gizi, indikator kinerja, serta mekanisme monitoring dan pelaporan.

Sementara itu, aktor lokal seperti pemerintah daerah hingga sekolah berperan menentukan pilihan bahan pangan, model operasional hingga pengadaan yang paling efektif.

Pemangku kepentingan di tingkat lokal ini juga dapat berperan dalam memilih pola distribusi yang paling efektif, seperti distribusi melalui SPPG, distribusi langsung oleh sekolah, atau melalui komunitas tertentu.

“Tidak semua daerah menghadapi tantangan yang sama. Karena itu, aktor lokal perlu diberi ruang yang lebih besar untuk menentukan model implementasi yang paling sesuai, sementara pemerintah pusat berfokus pada penetapan standar dan pengawasan.

Pendekatan berbasis komunitas ini penting agar tujuan MBG dapat tercapai secara lebih efektif,” pungkas Jimmy.(jpg)