MENTAWAI, METRO— Setelah pencarian hari pertama tertunda gegara cuaca, Tim SAR Gabungan akhirnya berhasil menemukan kapal nelayan KM Rafa 02 yang sebelumnya dilaporkan mengalami mati mesin di perairan Kabupaten Kepulauan Mentawai, pada Jumat pagi (18/9).
Tiga nelayan yang berada di atas kapal ditemukan dalam kondisi selamat. Tim SAR gabungan menarik kapal nelayan KM Rafa 02 dan tiba di Pelabuhan Tuapeijat sekitar pukul 16.00 WIB.
Kepala Kantor SAR Mentawai, Benteng Hilton Telaumbanua mengatakan, KM Rafa 02 ditemukan sekitar 9 nautical mile (NM) dari lokasi kejadian terakhir yang diketahui atau Last Known Position (LKP).
“Penemuan ini menjadi titik akhir operasi pencarian yang dilakukan setelah kapal mengalami gangguan mesin dalam perjalanan pulang dari aktivitas mencari ikan di perairan Mentawai,” kata Benteng.
Dijelaskan Benteng, sebelumnya, kapal tersebut dilaporkan mengalami mati mesin pada Kamis (17/9) malam. Laporan yang diterima Kantor SAR Mentawai menyebutkan KM Rafa 02 membawa tiga orang, yakni Aciak (45), Budi Candra (43), dan Siin (40).
“Peristiwa yang menimpa KM Rafa 02 bermula dari laporan Rido selaku pemilik kapal kepada Kantor SAR Mentawai. Informasi tersebut diterima melalui Com Centre pada Kamis (17/9) malam pukul 23.00 WIB. Kapal dilaporkan mengalami mati mesin ketika sedang menuju Dermaga Tuapeijat setelah sebelumnya melakukan aktivitas mencari ikan di perairan Mentawai,” ungkap Benteng.
Benteng menegaskan, gangguan tersebut membuat penanganan perlu segera dilakukan, mengingat lokasi kejadian berada di wilayah Samudra Hindia. KM Rafa 02 diketahui memiliki panjang sekitar 17 meter dengan warna biru dan merah. Kapal itu membawa tiga nelayan yang keberadaannya belum dapat dipastikan secara langsung oleh petugas ketika laporan awal diterima.
“Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Rescue Kantor SAR Mentawai melakukan koordinasi dengan unsur-unsur terkait. Persiapan operasi pencarian dan pertolongan kemudian dilaksanakan untuk menentukan langkah penanganan terhadap kapal yang mengalami mati mesin,” tutur Benteng.
Menurut Benteng, pelaksanaan pergerakan menuju lokasi kejadian belum dapat dilakukan pada hari pertama. Kondisi cuaca dan posisi KM Rafa 02 yang berada di wilayah Samudra Hindia menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan operasi SAR.
“Dalam penanganan awal, Kantor SAR Mentawai berkoordinasi melalui VTS Teluk Bayur. Koordinasi tersebut disertai penyampaian Maklumat Pelayaran (MAPEL) untuk menginformasikan kejadian kepada kapal-kapal yang melintas di sekitar wilayah pencarian,” ujar dia.
Benteng menambahkan, penyampaian MAPEL dilakukan sebagai bagian dari upaya memperluas informasi mengenai kapal yang mengalami gangguan. Kapal-kapal yang berada di sekitar area pencarian diharapkan dapat mengetahui kejadian tersebut dan memberikan pertolongan apabila menemukan KM Rafa 02.
“Operasi Pencarian dan Pertolongan kembali dilanjutkan pada Jumat (18/9) sekitar pukul 06.00 WIB. Kapal RIB 02 bersama kapal masyarakat bergerak dari Dermaga Tua Pejat menuju area pencarian KM Rafa 02. Pergerakan tersebut dilakukan setelah pada hari pertama tim belum dapat menuju lokasi akibat pertimbangan kondisi cuaca dan wilayah kejadian,” ungkap dia.
Dikatakan Benteng, RIB 02 bersama kapal masyarakat kemudian menyusuri area yang menjadi sasaran operasi pencarian. Upaya tersebut membuahkan hasil pada pukul 09.10 WIB. Tim SAR Gabungan berhasil menemukan KM Rafa 02 bersama tiga orang survivor. Kapal dan ketiga nelayan ditemukan dalam kondisi selamat di sekitar koordinat 2°07’55″S 99°13’25″E.
“Penemuan kapal sekaligus memastikan bahwa Aciak, Budi Candra, dan Siin berhasil ditemukan dalam keadaan selamat. Setelah KM Rafa 02 ditemukan, proses penanganan dilanjutkan dengan membawa kapal tersebut kembali ke Pelabuhan Tuapeijat,” kata dia.
Dengan ditemukannya KM Rafa 02, kata Benteng, operasi yang dilakukan Tim SAR Gabungan berlanjut pada tahap membawa kapal dan para survivor menuju lokasi yang aman. Proses penarikan dilakukan menggunakan kapal masyarakat yang turut terlibat dalam operasi.
“Kami nelayan agar memperhatikan perlengkapan keselamatan saat berlayar. Kami juga mengingatkan pentingnya membawa perangkat penentu lokasi darurat, termasuk Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) dan Personal Locator Beacon (PLB). Sehingga apabila terjadi kondisi darurat, titik lokasi keberadaan kapal bisa segera ditemukan,” tutupnya. (*)






