BERITA UTAMA

Penyebab Ratusan Siswa Keracunan MBG di Palupuh Terungkap, Ada Bakteri Bacillus Cereu di Cabai dan Tahu

×

Penyebab Ratusan Siswa Keracunan MBG di Palupuh Terungkap, Ada Bakteri Bacillus Cereu di Cabai dan Tahu

Sebarkan artikel ini
KERACUNAN— Siswa yang mengalami keracunan usai menyantap MBG di Palupuh, Kabupaten Agam dilarikan ke Puskesmas untuk mendapatkan perawatan.

AGAM, METROPenyebab keracunan ratusan siswa dan guru usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Palupuh, Ka­bu­paten Agam, terung­kap setelah keluarnya hasil uji laboratorium BPOM terhadap sampel makanan yang diikonsumsi para korban.

Hasilnya,  pemeriksaan Laboratorium BPOM­ menemukan bakteri Bacillus Cereus pada sampel makanan berupa tahu dan cabe yang di­kon­sumsi para siswa dan guru dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh.

Bupati Agam Benni Warlis mengungkapkan hasil pemeriksaan laboratorium sampel menu MBG di Kecamatan Palupuh ditemukan adanya bakteri Bacillus Cereus. Menurutnya, bakteri tersebut ditemukan pada cabai dan tahu yang digunakan dalam menu semur.

“Dari hasil laboratorium ditemukan bakteri Bacillus Cereus pada cabai dan tahu, termasuk semurnya. Sampel yang diperiksa berasal dari makanan yang telah dikonsumsi siswa maupun bahan makanan mentah,” kata Benni, Kamis (10/9).

Dijelaskan Benni, pemerintah kabupaten sebelumnya telah memastikan dapur penyedia makanan ditutup dan hasil pemeriksaan dilaporkan kepada dinas terkait. Pengawasan terhadap dapur tersebut akan diperketat dengan melibatkan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

“SPPG tersebut sudah kita tutup sementara, kemudian laporan kita sampaikan dan kita serahkan kepada dinas terkait. Selanjutnya kita akan me­la­kukan pengawasan di tempat ini,” jelasnya.

Baca Juga  Posko Perbatasan Padang Tetap Beroperasi hingga 7 Juni

Ditegaskan Benni, pengawasan akan melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Pangan, serta OPD terkait lainnya. Pemkab Agam juga akan memperketat pengawasan terhadap da­pur yang belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).

“Kalau ada yang belum memiliki SLHS, akan kita awasi lebih ketat. Saat ini dapur penyedia makanan tersebut masih ditutup selama satu bulan. Terkait sanksi, menjadi kewenangan BGN. Siswa yang terdampak keracunan kini telah pulih dan kembali me­ngi­kuti kegiatan belajar di sekolah,” tegas dia.

Terpisah,Kepala Dinas Kesehatan Agam, Hendri Rusdian, mengatakan hasil tersebut diketahui setelah tim Laboratorium BPOM melakukan pemeriksaan terhadap kandungan bakteri dalam sampel makanan yang diolah Dapur SPPG Pasie Laweh Palupuh.

“Hasil uji lab sampel makanan keracunan Pangan dari Dapur SPPG Pasie Laweh Palupuh yang telah dikeluarkan BPOM Payakumbuh ditemukan Bakteri Ba­cillus Cereus dalam sam­pel makanan tahu dan cabai,” ungkapnya.

Hendri mengatakan, dari total 237 siswa yang sebelumnya mendapat p­e­nanganan di puskesmas dan pustu, sebanyak delapan orang sempat dirawat di sejumlah rumah sakit di sekitar Bukittinggi.

“Penderita keracunan yang berjumlah 8 orang yang dirawat di RS sekitar Bukittinggi sudah pulang semuanya. Meski hasil uji laboratorium BPOM telah keluar, dapur SPPG Pasie Laweh Palupuh masih belum beroperasi dan ditutup sementara,” pungkasnya.

Baca Juga  Parah! Guru Ngaji Cabuli Murid di Mushala,5 Kali Beraksi hingga Dipergoki Warga

Sebelumnya, kasus keracunan akibat menyantap Ma­kan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Agam. Kali ini, ratusan siswa dan guru di Kecamatan Palupuah, dilarikan ke Puskesmas hingga rumah sakit untuk men­da­patkan perawatan medis.

Hingga Rabu sore (2/9), jumlah korban keracunan MBG ini mencapai 334 orang. Angka itu bertambah dari pendataan awal yang bejumlah 237 orang setelah tim gabungan dari pemerintah dan kecamatan melakukan pengecekan ke sejumlah sekolah serta fasilitas kesehatan di Kecamatan Palupuah.

Dari total 334 orang tersebut, 273 di antaranya merupakan siswa sekolah dasar (SD) se-Kecamatan Palupuah dan 19 guru SD. 40 korban lainnya berasal dari siswa dan dua guru SMP Negeri 1 Palupuh. Mirisnya, dua siswa harus dirujuk ke RSUD Bukittinggi dan satu di RST Bukittinggi untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif.

Gejala yang dilaporkan beragam, mulai dari pusing, demam, mual, sakit perut hingga diare. Sedangkan menu MBG yang disantap para korban terdiri dari nasi putih, sayur timun selada, telur puyuh, serta tahu. Pascakejadian, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh yang dikelola Yayasan Affa Adicitta Mitra Berjaya, dihentikan.(*)