PAYAKUMBUH/50 KOTA

Pemko Payakumbuh Bekali Generasi Muda, Jaga Peradaban Minangkabau

×

Pemko Payakumbuh Bekali Generasi Muda, Jaga Peradaban Minangkabau

Sebarkan artikel ini
PELESTARIAN ADAT— Pemerintah Kota Payakumbuh terus memperkuat pelestarian adat sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Adat Tingkat Kota Payakumbuh bertema “Rang Mudo Mengawal Peradaban” yang diikuti rang mudo dan puti bungsu dari 10 nagari se-Kota Payakumbuh.

PAYAKUMBUH, METRO–Pemerintah Kota Pa­yakumbuh terus memperkuat pelestarian adat sebagai fondasi pembentukan karakter generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus globalisasi.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Adat Tingkat Kota Payakumbuh bertema “Rang Mudo Mengawal Peradaban” yang diikuti rang mudo dan puti bungsu dari 10 nagari se-Kota Payakumbuh.

Kegiatan yang diselenggarakan Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kota Payakumbuh itu dibuka oleh Wali Kota Payakumbuh Zulmaeta melalui A­sisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Nofriwandi, di Au­la Gedung Serbaguna Sa­wah Padang Aua Kuniang, Selasa (7/7).

Pelatihan tersebut men­jadi ruang pembelajaran sekaligus penguatan nilai-nilai adat Minangkabau agar tetap hidup, ber­kembang, dan mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Mewakili Wali Kota Zulmaeta, Nofriwandi me­nyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi me­nyelenggarakan pelatihan tersebut.

Menurutnya, pelestarian adat membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar nilai-nilai luhur Minangkabau terus diwariskan kepada generasi penerus.

“Atas nama Pemerintah Kota Payakumbuh, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Semoga pe­latihan ini menjadi langkah nyata dalam menjaga, merawat, dan mewariskan nilai-nilai adat kepada generasi pe­ne­rus,” kata­nya.

Ia mengatakan falsafah Adat Basandi Sya­rak, Syarak Basandi Kitabullah merupakan landa­san utama kehidupan ma­syarakat Minangkabau yang tidak hanya menjadi identitas budaya, tetapi juga pedoman dalam mem­bentuk karakter, etika, dan kepribadian ge­nerasi muda.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga kesenian maupun tradisi seremonial, tetapi juga memastikan nilai-nilai adat tetap menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  Ajang Olahraga Momen Kembangkan Minat dan Bakat Siswa

Nofriwandi menjelaskan Minangkabau memiliki pedoman etika melalui Kato Nan Ampek yang mengajarkan tata krama berkomunikasi sesuai de­ngan posisi dan usia lawan bicara. “Kita harus memahami kapan menggunakan Kato Mandaki kepada yang lebih tua, Kato Manurun kepada yang lebih muda, Kato Mandata kepada sesama, dan Kato Malereng kepada tokoh yang dihormati. Jika etika komunikasi ini runtuh, maka salah satu jembatan persatuan masyarakat juga akan ikut runtuh,” ujarnya.

Selain itu, ia juga me­ngingatkan pentingnya mengamalkan nilai Sumbang Duo Baleh sebagai pedoman etika dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari cara duduk, berdiri, berjalan hingga bertutur kata. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, menjadi ben­­teng moral yang mam­pu membentuk generasi muda berkarakter di tengah perubahan zaman.

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa menjaga adat bukan berarti menolak kemajuan. Justru, ma­syarakat Minangkabau telah lama diajarkan untuk mampu beradaptasi terhadap perubahan tanpa kehilangan identitas budaya. “Orang tua-tua kita telah mengingatkan melalui pepatah Sakali aia ga­dang, sakali tapian ba­rubah. Hari ini, perubahan itu hadir dalam bentuk digitalisasi, kecerdasan buatan, dan globalisasi. Karena itu, kita harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan akar budaya,” katanya.

Ia menambahkan, tek­nologi digital dan ekonomi kreatif harus dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan adat, seni, dan budaya Minangkabau kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk ge­nerasi muda.

Menurutnya, pelestarian adat hanya dapat berhasil apabila pemerintah, lembaga adat, bundo kan­duang, tokoh masyarakat, dan generasi muda berjalan bersama.

Baca Juga  Jelang Lebaran 1442 H, Iwapi Bagikan Paket Sembako

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, lembaga adat

tidak bisa bergerak sendiri, dan generasi mu­da tidak boleh menjadi penonton di tanahnya sen­diri. Kita harus memegang teguh prinsip Barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang. Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.  Melalui semangat kebersamaan itulah kita dapat mengangkat kembali marwah adat Minangkabau,” tegasnya.

Ia berharap seluruh peserta mampu menjadi generasi yang tidak hanya cakap menghadapi perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki etika, sopan santun, dan kebanggaan terhadap identitas budayanya.

Pelatihan adat tersebut berlangsung selama tiga hari, 7–9 Juli 2026. Para peserta mendapatkan ma­­teri dari unsur Pemerintah Kota Payakumbuh, niniak mamak, buda­ya­wan Kota Payakumbuh, serta budayawan Provinsi Sumatera Barat me­ngenai falsafah adat Minangkabau, ke­pe­mim­pi­nan, etika bermasyarakat, pelestarian budaya, hingga peran generasi muda dalam mengawal peradaban di era digital. Pembukaan kegiatan turut dihadiri pengurus Kerapatan Adat Nagari (KAN) dari 10 nagari se-Kota Payakumbuh, Bundo Kanduang dari 10 nagari, serta perwakilan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Payakumbuh.

Melalui pelatihan ini, Pemerintah Kota Payakumbuh berharap lahir generasi muda yang mam­pu menjaga nilai-nilai adat Minangkabau sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Bagi masyarakat, penguatan adat diharapkan mam­pu memperkokoh karakter, menjaga keharmonisan sosial, serta mendukung pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis budaya sebagai salah satu kekuatan pembangunan daerah. (uus)