Oleh: Firdaus Abie (Dirut POSMETRO PADANG)
SAYA tergelitik dengan kalimat ini; jagolah la-i! Kalimat itu muncul ketika Semen Padang FC (SPFC) dipastikan berada di Liga 2, musim depan. Apakah dimusim 2026/2027, PT Semen Padang sang pemilik SPFC masih mampu dan mampu membiayai tim? Adakah suporter “gila bola” yang mau ikut membiayai? Kalau tidak, tim ini bisa terus meluncur. Bisa juga dijual, lalu ganti nama, kemudian dibawa keluar. Selesai!
Ya, jikalau tim ini terpaksa harus dijual, habislah tim yang pernah bermain dan punya nama diera galatama. Tak ada lagi identitas sepakbola dari Sumatera Barat di pentas nasional. Berharap kepada PSP Padang, klub cikal bakalnya sudah ada sejak 1928, masih sangat jauh. Saat ini baru juara Liga 4 Sumbar. Sangat panjang jalan yang harus ditempuhnya.
Kekhawatiran terhadap nasib tim ini, bukan tanpa alasan. Setidaknya bisa diamati dari beberapa peristiwa berikut sebagai refleksi.
Pertama; SPFC sudah mengalami kesulitan pendanaan sejak 2017. Saat itu, menjadi kesulitan paling berat sejak tim tersebut hadir ditahun 1980. Musim tersebut, SPFC degradasi. Tahun 2018, berhasil promosi. Tahun 2019, kondisi keuangan semakin sulit. Tersiar kabar, tim ini hendak dijual, setidaknya akan melepas sebagian saham yang dimiliki. Tak ada peminat. Tak ada orang gila bola di Sumbar. Tak ada langkah nyata dari barisan suporter untuk menyelamatkan tim. akhirnya, SPFC kembali degradasi.
Ada seorang suporter setia SPFC. Sejak kecil dirinya sudah mencintai Kabau Sirah. Ketika dirinya menjadi anggota parlemen di Senayan, kecintaan itu tidak hilang. Dirinya membuktikan dengan kerja nyata. Ia turut pasang badan. Membantu mencarikan dana.
Musim 2021, SPFC berada di peringkat 4 grup A, Liga 2. Tahun berikutnya kompetisi tak selesai. Baru dimusim 2023-2024 promosi ke Liga 1 setelah tampil sebagai runner up.
Situasi ternyata berubah. Ketika SPFC sudah dipastikan ke Liga 2, bola liar bergulir kencang. Andre Rosiade dipersalahkan sebagai orang yang harus bertanggungjawab. Andre Rosiade dituduh sebagai orang yang terlalu ikut campur dalam mengurus tim. Disinggung-singgung pula tentang kapasitasnya sebagai politisi yang mengurus sepakbola!
Hmmm! Terhadap hal ini perlu diinaprenungkan. Dimana salahnya orang politik mengurus sepakbola, atau mengurus olahraga? Dimana? Toh mayoritas olahraga di negeri ini tak bisa dipisahkan dari politisi, birokrat, pengusaha dan lain-lain. Masih ada yang mau mengurus, sudah untung. Apakah yang melarang punya kemauan dan kemampuan mengurus dan meluangkan waktu, pikiran dan dana?
Ketika tim degradasi, bagai paduan suara. Isinya koor mempersalahkan, tidak mencarikan jalan keluar. Lalu dimana saat tim mengalami kesulitan?
Kedua; potensi kesulitan keuangan masih membayangi SPFC, walau musim depan tampil di Liga 2. Hal ini disebabkan dua faktor.
Faktor Pertama; seperti diungkapkan Andre Rosiade tentang kemampuan PTSP membiayai tim. musim ini hanya Rp 15 miliar dari Rp 20 Miliar yang direncanakan. Dirinya mendapatkan bantuan Rp 20 Miliar. Faktor Kedua; SPFC tak akan bermain di Stadion H. Agus Salim karena stadion direnovasi. Secara dukungan suporter akan berkurang. Ketika main di kandang saja, pendapatan dari tiket masuk tak memadai. Kontribusi dari suporter SPFC hanya rata-rata Rp 30 juta, suporter umum rata-rata 130 – 180 juta. Setiap laga kandang butuh biaya rata-rata Rp 211 juta. Pendapatan dari tiket tak bisa membiayai laga kandang. Penjualan jersey dan merchandise juga tidak maksimal.
Ketiga; masihkah suporter atau fans SPFC ada? Tak ada maksud macam-macam. Bagi pecinta sejati, tak hanya senang saat bahagia, tidak pula luntur darahnya jika sosok yang dicintainya menderita. Tak akan mundur ketika kondisi memburuk. Selalu ada dalam berbagai situasi.
Sebagai introspeksi diri, tak ada salahnya membandingkan dengan apa yang dilakukan suporter tim lain. Tidak hanya menuntut tim memiliki pemain mumpuni, pelatih disegani. Tak hanya bersuara ketika tim terpuruk, minta ganti pemain atau minta ganti pelatih, minta ganti manajemen, tapi juga memberikan kontribusi memberikan dukungan moril dan materil.
Ke-empat; dimusim depan, tentu saja kita berharap PT Semen Padang selaku pemilik SPFC tetap dapat membiayai tim. Sponsor tidak menghindar walau SPFC terdegradasi. Memiliki manajemen yang solid. Tidak keliru menetapkan pelatih. Tim kepelatihan yang paten, tidak membeli “kucing dalam karung” sehingga mendapatkan pemain berkualitas dan berkelas. Tidak sekadar asal pemain asing. Memiliki suporter yang bijaksana dan mendukung luar dalam, tidak hanya menuntut tim bagus saja!
Ke-lima. Cukup musim 2026-2027 saja di Liga 2, setelah itu kembali ke Liga 1 untuk selamanya. Atau, tidak selamanya ke Liga 1. Jangan seperti Sriwijaya FC. Pernah juara, lalu musim ini terlempar ke Liga 3.
Ya, seperti yang diungkapkan Andre Rosiade; Jago lah la-i!
Pesan dan peringatan untuk semua orang. Pesan untuk semua yang mengakui pecinta Semen Padang! (*)






