BERITA UTAMA

Soroti Tantangan Era Digital dan Derasnya Arus Informasi Digital, BEM Nusantara Serukan Pentingnya Jaga Persatuan

×

Soroti Tantangan Era Digital dan Derasnya Arus Informasi Digital, BEM Nusantara Serukan Pentingnya Jaga Persatuan

Sebarkan artikel ini
FORUM DISKUSI— Sejumlah pimpinan organisasi mahasiswa menyerukan pentingnya menjaga persatuan dan memperkuat peran strategis mahasiswa di tengah dinamika geopolitik global dan derasnya arus informasi digital.

JAKARTA, METRO–Beberapa pimpinan organisasi mahasiswa menyerukan pen­tingnya menjaga persatuan dan memperkuat peran strategis mahasiswa di tengah dinamika geopolitik global dan derasnya arus informasi digital.

Hal itu diutarakan dalam forum Konsolidasi dan Diskusi Kebangsaan bertajuk “Merawat Persatuan, Menjaga Indonesia: Suara Pemuda di Tengah Krisis Global”, yang mempertemukan berbagai elemen mahasiswa lintas organisasi.

Koordinator Pusat BEM Nusantara, Muhammad Sardani, menyoroti tantangan era digital yang dipenuhi arus informasi tak selalu akurat. Ia menilai mahasiswa harus berperan sebagai penyampai informasi yang benar sekaligus penyeimbang di te­ngah masyarakat.

“Kita tidak hanya jadi pe­nyampai suara, tapi juga harus memastikan informasi yang kita bawa valid dan bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Sardani juga menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan publik terhadap mahasiswa melalui kontribusi nyata.

“Mahasiswa harus hadir sebagai kawan masyarakat, bukan sekadar pengkritik, tapi juga bagian dari solusi,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Pusat BEM SI, Muzammil Ihsan, mengingatkan bahwa situasi geopolitik global yang tidak menentu berdampak langsung terhadap kondisi dalam negeri, termasuk sektor ekonomi.

Baca Juga  Pisah Ranjang dengan Istri, Ayah Cabuli Putri Kandung hingga Pendarahan

“Geopolitik dunia hari ini sangat memengaruhi kita, termasuk potensi kenaikan harga kebutuhan seperti BBM. Mahasiswa harus bisa menjelaskan ini ke masyarakat, tapi tetap kritis terhadap kebijakan,” jelasnya.

Ia juga menyoroti maraknya disinformasi di media sosial yang kerap memicu perpecahan di kalangan mahasiswa.

“Jangan sampai kita mudah terpecah hanya karena narasi yang tidak jelas. Kita harus verifikasi setiap informasi,” tegas­nya.

Sedangkan, Bendahara Umum Presidium Nasional Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), Tirta Gangga Listiawan, menegaskan mahasiswa harus mampu memahami substansi isu, bukan sekadar mengikuti arus yang sedang viral.

“Mahasiswa harus paham posisi Undang-Undang Dasar sebagai norma dasar. Jangan sampai ikut menggiring opini tanpa memahami mekanisme konstitusi yang benar,” ujarnya.

Menurut Tirta, literasi hukum dan politik menjadi kunci agar mahasiswa tidak terjebak dalam narasi yang berpotensi memecah belah. Ia juga mengingatkan bahwa ketidakstabilan nasional dapat berdampak luas, mulai dari ekonomi hingga kea­manan.

Baca Juga  Parah! Pungli di Klinik Hewan Dinas Peternakan Sumbar Rp1 Juta/Hari

“Kalau persatuan terganggu, dampaknya ke mana-mana—investasi menurun, ekonomi terganggu, hingga stabilitas negara terancam,” tegasnya.

Di sisi lain, Koordinator Nasional BEM PTMAI, Yogi Syahputra Alaydrus, menekankan bahwa persatuan tidak boleh hanya menjadi slogan, tetapi harus diwujudkan dalam sikap nyata.

“Persatuan itu bukan sekadar berkumpul, tapi bagaimana kita menjaga kesatuan berdasarkan konstitusi,” ujarnya.

Yogi juga menyoroti ketimpangan pembangunan antarwilayah yang perlu menjadi perhatian dalam kebijakan nasio­nal. Ia menilai mahasiswa harus kritis, namun tetap memahami tujuan besar dari setiap kebijakan pemerintah.

“Kebijakan adalah alat untuk menciptakan kesejahteraan. Maka kita harus kritis, tapi juga objektif melihat konteksnya,” katanya.

Para narasumber sepakat, kekuatan utama mahasiswa terletak pada persatuan dan kemampuan berpikir kritis. Tanpa itu, gerakan mahasiswa dinilai akan mudah terpecah dan kehilangan arah. (jpg)