BERITA UTAMA

Urgensi I’tikaf di Masjid 10 Malam Terakhir Ramadhan

×

Urgensi I’tikaf di Masjid 10 Malam Terakhir Ramadhan

Sebarkan artikel ini
Oleh: Ustadz Muhaimin Yasin (Pegiat Kajian Keislaman)

Tidak terasa Ramadan sudah di penghujung kepergiannya. Sebentar lagi, bulan penuh keberkahan, rahmat dan ampunan itu hendak berlalu. Tentu saja di sisa-sisa terakhirnya kita tidak ingin menyia-nyiakan masa. Di momen ini, ada satu ibadah yang sangat dianjurkan, yakni i’tikaf di masjid.

Sudah sepantasnya kita sebagai insan yang beriman, selalu menampilkan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah swt. Karena berkat segala karunia-Nya, kita dapat aman, tentram, dan nyaman dalam beraktivitas ibadah selama bulan suci Ramadhan.

Begitu pula kepada Ba­ginda Nabi Muhammad saw yang telah berjuang, sepatutnya kita selalu me­ng­haturkan shalawat dan salam. Sebab berkat tetesan keringat beliau dalam mendakwahkan Islam, kita bisa selamat di dunia dan akhirat. Tidak lupa juga kepada para sahabat, kerabat, dan ulama.

Hari demi hari telah berlalu, pekan demi pekan telah terlewatkan, tidak terasa kita sudah berada di penghujung Ramadan. Bulan suci yang selama satu musim dinantikan, sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita. Di sisa-sisa waktu yang masih ada ini, sebaiknya kita manfaatkan dengan maksimal.

Adapun cara terbaik dalam memanfaatkan ma­sa akhir Ramadhan ini, adalah dengan tetap berpedoman kepada amaliah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad saw. Salah satu kebiasaan beliau da­lam mengisi sepuluh ma­lam akhir Ramadhan ialah dengan beri’tikaf di masjid, sebagaimana dije­laskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bersumber dari Aisyah, istri Rasulullah SAW: “Sungguh Nabi Muhammad Saw (selalu) beri’tikaf pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, hingga beliau wafat. Kemudian para istrinya beri’tikaf juga setelah beliau.”

Baca Juga  Rampok Tembak Pekerja PNPM Limapuluh Kota

Badruddin al-‘Aini da­lam kitab ‘Umdatul Qari, jilid XI halaman 143, menjelaskan, hadits ini adalah dalil tegas yang menetapkan anjuran melaksanakan i’tikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadan. Ter­khu­sus, ini sangat dianjurkan bagi laki-laki.

Berdasarkan hadits ini pula, i’tikaf diperkenankan bagi perempuan. Al-‘Aini memaparkan, dengan me­ngutip pendapat Imam An-Nawawi:”An-Nawawi berkata, ‘Dalam hadits (riwayat Aisyah) ini juga, dapat dijadikan landasan tentang keabsahan I’tikaf bagi wanita. Sebab Nabi saw telah mengizinkan mereka’.”

Banyak alasan mengapa Nabi Muhammad saw gemar ber’itikaf di 10 ma­lam terakhir bulan suci Ramadan. Di antaranya adalah bahwa di waktu tersebut Lailatul Qadar tiba. Dengannya Nabi beritikaf, sembari memburu malam istimewa yang lebih baik dari seribu bulan tersebut.

Sayyidah Aisyah ra me­riwayatkan: “Rasulullah saw sering beri’tikaf pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda: ‘Beri’tikaflah kalian pada Lailatul Qadar di 10 malam terakhir bulan Ramadhan’.” (Al-Bukhari)

Baca Juga  Siswi SMA Korban Pemerkosaan Melahirkan di Ruang Kelas, Pelakunya Ternyata Paman Sendiri, akut Cerita karena Diancam Dibunuh

Sebab Lailatul Qadar itu terdapat di sepuluh ma­lam terakhir bulan Ramadhan, maka ketika kita memaksimalkan diri untuk beribadah kepada Allah dengan beri’tikaf di masjid, maka potensi segala dosa kita diampuni akan semakin besar.

Sebagaimana disebutkan oleh Nabi Muhammad saw dalam haditsnya: “Siapa saja yang beribadah pada Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan berniat karena Allah, maka akan diampuni dosa-dosa­nya yang telah lalu.” (HR Al-Bukhari)

Beri’tikaf di masjid pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan sangat dianjurkan bagi seorang laki-laki dan perempuan. Nabi saw memberikan contoh kepada kita bahwa betapa pentingnya memaksimalkan waktu terakhir di bulan suci ini.

Dalam hadits diterangkan, bahwasanya Nabi Mu­ham­mad saw tidak pernah luput dari i’tikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Alasannya adalah karena di malam-malam terakhir ter­sebut terdapat Lailatul Qadar, yakni suatu masa yang apabila seorang hamba beribadah di dalamnya, maka nilai pahalanya setara dengan beribadah selama seribu bulan.

Selain itu, di 10 malam terakhir ada Lailatul Qadar, maka dengan memfokuskan diri beribadah melalui i’tikaf, akan membuka potensi kita untuk diampuni oleh Allah SWT atas segala dosa yang telah berlalu. (*)