METRO PESISIR

Tradisi Basapa Dipusatkan di Kompleks Makam Syekh Burhanuddin

×

Tradisi Basapa Dipusatkan di Kompleks Makam Syekh Burhanuddin

Sebarkan artikel ini
TRADISI BASAPA—Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis memberikan arahan usai membuka pelaksanaan Tradisi Basapa 2026.

PDG.PARIAMAN, METRO Pemerintah Kabupaten Padangpariaman bersama Pemerintah Provinsi Su­matera Barat, kemarin,  resmi membuka pelaksanaan tradisi basapa 2026 yang dipusatkan di Kompleks Makam Syekh Bur­hanuddin, Nagari Ulakan, Kecamatan Ulakan Tapakis. Pembukaan tradisi religius tahunan ini disambut antusias ribuan peziarah yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat hingga luar provinsi untuk mengikuti rangkaian ziarah, doa bersama, dan kegiatan keagamaan. Tradisi Basapa merupakan salah satu warisan budaya dan religi masyarakat Minang­kabau yang telah berlangsung turun-temurun setiap bulan Safar.  Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan kepada Syekh Bur­hanuddin Ulakan, ulama besar penyebar Islam se­kaligus pengembang ta­rekat syattariyah di Minangkabau.

Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis me­ngatakan, pelaksanaan hari pertama basapa me­nunjukkan tingginya antusiasme masyarakat untuk berziarah ke makam ulama besar tersebut. “Hari ini kita membuka pelaksanaan tradisi basapa. Alhamdulillah, sebagaimana terlihat, penziarah yang datang sangat banyak, baik dari Padangpariaman, luar da­erah di Sumatera Barat, maupun dari luar provinsi. Atas nama Pemerintah Kabupaten Padangpariaman, kami mengucapkan selamat datang kepada seluruh peziarah. Semoga ziarah yang dilaksanakan mendapat ridha Allah S­WT,” ujar Bupati.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Padangpariaman berkomitmen terus melakukan pembenahan kawasan kompleks makam Syekh Burhanuddin agar semakin nyaman bagi para peziarah. Upaya tersebut akan dilakukan melalui kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, to­koh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat Ulakan Tapakis. “Kita ingin kawasan ini semakin tertata, bersih, aman, nyaman, dan tertib sehingga ma­syarakat yang datang dapat beribadah dengan khu­syuk. Semua masukan yang disampaikan hari ini akan menjadi bahan eva­luasi pemerintah untuk pembenahan ke depan,” katanya.

Baca Juga  Bupati Padangpariaman Usulkan Perbaikan Infrastruktur kepada BNPB

Bupati memperkirakan jumlah pengunjung pada hari pertama mencapai sekitar 15 hingga 20 ribu orang. Menurutnya, tingginya kunjungan tersebut tidak hanya memperkuat syiar Islam dan pelestarian tradisi, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap perputaran eko­nomi masyarakat.

“Jika setiap pengunjung membelanjakan uangnya rata-rata Rp 50 ribu saja, maka ratusan juta rupiah beredar setiap hari selama pelaksanaan basapa. Ini menjadi peluang besar untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Karena itu mari kita bersama-sama menjaga kebersihan, keamanan, dan ketertiban kawasan ini agar semakin banyak orang datang berziarah,” ungkapnya.

Tradisi basapa sendiri diperingati setiap tanggal 10 Safar sebagai momentum mengenang wafatnya Syekh Burhanuddin. Selain menjadi ritual keagamaan berupa ziarah, pembacaan Al-Qur’an, zikir, dan doa bersama, Basapa juga ber­kembang menjadi salah satu destinasi wisata religi unggulan Sumatera Barat yang memperkuat nilai budaya, sosial, dan ekonomi masyarakat.

Sementara itu, tokoh masyarakat Sumatera Ba­rat, Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag, menyebut tradisi basapa merupakan perpaduan harmonis an­tara nilai keagamaan, budaya, dan penghormatan terhadap ulama yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad. “Saya su­dah meneliti basapa selama lebih dari dua puluh tahun. Ini adalah event budaya sekaligus tradisi sebagai bentuk penghormatan kepada guru dan ulama. Tradisi ini menjadi ikon Padangpariaman bahkan Sumatera Barat karena memiliki kekuatan sejarah, budaya, dan spiritual yang sangat besar,” ujarnya.

Ia menilai dukungan pemerintah terhadap pe­nyelenggaraan basapa su­dah sangat baik, namun keberhasilannya juga sa­ngat ditentukan oleh kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan, kebersihan, serta kenyamanan kawasan ma­kam.­

Baca Juga  Pengurus Koperbam Tatap Muka dengan Tiga Pembina

Prof. Duski juga mendorong terwujudnya pembangunan Museum Syekh Burhanuddin yang terintegrasi dengan kawasan ma­kam sebagai bagian dari penguatan wisata religi, edukasi sejarah Islam, dan pelestarian warisan budaya Minangkabau. “Basapa tidak hanya membawa dampak keagamaan, tetapi juga memberikan efek ekonomi, sosial, mempererat silaturahmi, serta men­jadi bagian dari kearifan lokal yang harus terus dijaga bersama,” katanya.

Senada dengan itu, Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Su­matera Barat Edi Dharma yang mewakili Gubernur Sumatera Barat menyampaikan apresiasi atas pe­nyelenggaraan Tradisi Ba­sapa sebagai salah satu aset budaya dan keagamaan yang memiliki potensi besar untuk terus di­kem­bangkan.

Menurutnya, Basapa merupakan momentum untuk mengenang jasa Syekh Burhanuddin dalam menyebarkan ajaran Islam di Sumatera Barat sekaligus memperkuat nilai-nilai spiritual masyarakat. “Ke­giatan ini memiliki potensi besar karena memadukan aspek agama, budaya, dan ekonomi. Yang terpenting adalah membangun ko­laborasi seluruh pemang­ku kepentingan, mulai dari pemerintah, tokoh ma­sya­rakat, akademisi, buda­yawan, pelaku usaha, hingga media agar pengelolaan kawasan ini semakin baik dan memberi manfaat yang lebih luas bagi ma­syarakat,” ujarnya.

Pelaksanaan tradisi ba­sapa 2026 akan berlangsung dalam dua tahapan utama, yakni Sapa Gadang dan Sapa Ketek, yang digelar sekarang selama bulan Safar. Pemerintah Kabupaten Padangpariaman berharap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini terus menjadi simbol syiar Islam, pelestarian budaya Minangkabau, sekaligus penggerak pertumbuhan ekonomi ma­­syarakat melalui pe­ngembangan wisata religi yang berkualitas. (efa)