METRO SUMBAR

Semarakan Ramadhan 1443 H, Wabup Pessel Hadiri Balimau Paga

×

Semarakan Ramadhan 1443 H, Wabup Pessel Hadiri Balimau Paga

Sebarkan artikel ini
BALAIMAU--Wabup Pessel Rudi Hariyansyah menghadiri balimau paga di Kenagarian Lakitan Utara.

PESSEL, METRO–Wakil Bupati Pesisir Selatan, Rudi Hariyansyah SSi hadiri prosesi balimau paga di Kenagarian Lakitan Utara yang diselenggarakan di Lapangan Sepakbola Kampung Padang Cupak, Jumat (1/4). Balimau paga yang sudah menjadi tradisi masyarakat setiap memasuki bulan suci Ramadhan yang memiliki makna tersirat, yakni mempererat tali persaudaraan antar sesama umat Muslim.

“Kearifan lokal yang sudah membudaya secara turun temurun ini, harus tetap dipertahankan. Tradisi dengan berbagai keunikan itu, juga dapat dijadikan sebagai salah satu kekayaan adat dan budaya,” ujar Wabup Rudi Hariyansyah.

Dihadapan penghulu suku, para datuak, imam katik, bundo kanduang, suluah bendang dalam nagari, serta para anak kemenakan, dan urang su­mando yang hadir dalam balimau paga di salah satu kenagarian di Kecamatan Lengayang itu, Wabup Ru­di Hariyansyah mengatakan Air limau yang terbuat dari bahan pengharum yang berasal dari bunga-bungaan, seperti bunga rampai, kumango dan lainya itu, diusapkan ke rambut atau kepala sebagai simbol pensucian diri.

Baca Juga  Program 23 Hari Hafal 30 Juz, Sembilan Santri Lakukan Tasmi’

Ia mengharapkan, tradisi balimau paga tersebut juga merupakan bagian motivasi hidup bernagari menurut langgam, atau a­dat istiadat yang dimiliki tidak hilang. Untuk itu, tetap  dipertahankan sampai kapan pun.

“Walau secara lahir yang diusapkan dengan air limau itu rambut atau kepala, tapi secara batin adalah jiwa atau rohani. Se­bab yang harus dibersihkan dari berbagai noda yang bisa menghambat dan merusak ibadah puasa itu adalah jiwa. Karena begitu dalamnya makna yang tersirat pada prosesi balimau paga ini, sehingga saya berharap ini bisa dipertahankan,” harapnya.

Baca Juga  Warga Alang Laweh Bahagia, Malam Puncak Peringatan HUT RI di Gelar

Seperti disampaikan Walinagri Lakitan Utara, Aprizal, melalui kegiatan itu, para anak kemenakan disemua kaum atau suku, menyediakan air limau untuk para ninik mamak pada kaum masing-masing secara bersamaan di lapa­ngan sepakbola .

Air limau yang terbuat dari bahan pengharum yang berasal dari bunga-bungaan, seperti bunga rampai, kumango dan lainnya itu, diusapkan ke rambut atau kepala sebagai simbol pensucian diri.

Secara bersamaan ju­ga dilakukan salam-salaman sambil mengucapkan mohon maaf, agar dalam menjalankan ibadah puasa nanti, hati benar-benar bersih dan suci. (rio)