METRO SUMBAR

Purbaya Yudhi Sadewa Berlian Diantara Pecahan Kaca

×

Purbaya Yudhi Sadewa Berlian Diantara Pecahan Kaca

Sebarkan artikel ini
Onzukrisno,SH.,M.Si Dosen Adm Negara Fisipol Unes Padang

Oleh : Onzukrisno,SH.,M.Si (Dosen Adm Negara Fisipol Unes Padang)

Tulisan ini tidak sedang bermaksud untuk membahas tentang perhiasan sebagaimana mestinya, akan tetapi adalah sebuah metafora untuk membaca fenomena yang terjadi beberapa minggu belakangan ini,dimana Purbaya Yudhi Sadewa di tengah lanskap pejabat publik, yang lebih dikenal dengan metafora politik, terlihat peta besarnya adalah me­ru­pakan potret secara keseluruhan dari dunia pejabat Publik di suatu Negara, pada suatu dalam kurun waktu tertentu..

Apa itu berlian..? Secara geologi, berlian adalah karbon murni yang ditempa oleh tekanan ekstrim dan suhu yang sangat tinggi pada kedalaman 150 kilometer di dalam perut  bumi, yang berlangsung selama ribuan tahun. Ia tidak terbentuk di permukaan yang nyaman. Ia lahir dari penderitaan dan te­kanan geologis alam yang panjang. melalui proses demikian, ia menjadi benda alam paling keras di dunia nyata.

Bagaimana pula  denganpecahan kaca..? Pecahan kaca adalahberbanding terbalik dengan ber­lian.Berlian terbentuk seca­ra instan, sebab Kaca di­buat dari pasir yang dilelehkan sebentar lalu didinginkan cepat.Ia terlihat sangat bening dan berkilau dari kejauhan, seperti berlian. Tapi iasangat rapuh. Sekali jatuh, langsung pe­cah.­Bila sudah pecah, ia menjadi serpihan-serpihan tajam yang tidak berharga, dan akan melukai siapa saja orang yang menginjaknya, pada akhir  disapujadilah sampah yang tidak berguna.

Inilah perbedaan yang sangat mendasar antara Berlian disatu sisi punya nilai intrinsik, sementara pecahan kaca hanya punya nilai pantulan. Berlian akan tetap berharga bahkan di dalam lumpur se­kalipun, walau tanpa cahaya, sedangkan pecahan kaca hanya terlihat berkilau bila ada cahaya yang memantul, tanpa cahaya ia hanyalah bagaikan sampah transparanyang tak berguna.

Jika kitasingkronisasikanke dalam Ilmu Hukum dan Ilmu Pemerintahan ini hanya sekedar ilustrasi Penulis saja, bahwa pecahan kaca adalah merupakan potret mayoritas pejabat kita hari ini. Mereka berkilau di media sosial, berbinar di baliho, berkilau karena pencitraan dengan jargon-jargon kosong. Me­reka terlihat seperti berlian dari kejauhan,akantetapi begitu tersentuh dengan tekanan, integritas diuji dengan krisis, mereka pe­cah berantakan bagaikan serpihan kaca yang tidak punya arti apa-apa.

Arti pecahan kaca yang pertama adalah berisik tapi rapuh.Ketika jatuh, pecahan kaca menimbulkan sua­ra yang sangat keras. Begitu juga pejabat pecahan kaca, retorikanya keras, janjinya besar, marah-marah di depan kamera, tapi fondasi keilmuannya kosong. Sekali diajak debat substansi tentang fiskal, moneter, dan hukum, ia pe­cah berserakan dan akan melukai siapa saja orang yang menginjaknya

Maksud pecahan kaca yang kedua, yaitu melukai. Pecahan kaca yang berserakan dimanapun, tidak pernah memberi manfaat, ia hanya akan melukai kaki orang kecil yang lewat. Pejabat pecahan kaca melukai rakyat dengan kebijakan yang tidak berbasis data, menjadikan pajak sebagai pondasi utama untuk memperoleh pendapatan disegala lini, sedangkan rakyat hidup brada dalam kesulitan yang akut,­me­nam­bah utang yang ugal-uga­­lan, dengan regulasi yang me­nindas si lemah de­mi si kuat.

Pecahan kaca yang ketiga, tidak akanmampu bertahan terhadap panas dan tekanan. Kaca akan meleleh jika dipanaskan. Pejabat pecahan kaca akan meleleh jika ditekan oleh oligarki, akan berubah pendirian jika ditekan oleh kepentingan politik,  membatalkan kebijakan pro-rakyat jika ditekan oleh pengusaha hitam.

Baca Juga  Wakil Bupati Kunjungi Yayasan Nurul Ilmi Tahfiz

Lalu bagaimana dengan Berlian..? Berlian memiliki 4 ciri utama dalam gemologi yang disebut 4C.Gemologi adalah Ilmu yang mempelajari tentang batu per­mata.­Istilah 4C itu adalah Carat, Clarity, Color, dan Cut.­Di­mana keempatnya C tersbut ada melekat pada sosok seorang yang bernama Purbaya Yudhi Sa­dewa.

Clarity atau Kejernihan,  Berlian itu asli jernih, tidak ada inklusi, tidak ada kabut di dalamnya. Purbaya adalah pejabat yang jer­nih.­Jejak karirnya jernih sebagai ekonom, Ketua Komite Pengawas Perpajakan, Ekonom Senior.Ia tidak datang dari jalur politik transaksional yang keruh dan berlumpur. Omongannya jernih, tidak berbelit-belit, sesuai data based dan cara seperti ini­lah yang paling sangat tidak disukai oleh mereka yang berseberangan dengan niat tulus Purbaya.

Berlian tidak berwarna, berlian terbaik adalah yang tidak berwarna, dengankebeningan sempurna, tidak memantulkan warna ke­pen­tingan.­Pur­baya tidak berwarna poli­tik.­Ia tidak terikat pada warna partai A atau partai B. Ia adalah teknokrat. War­na satu-satunya yang­ ia pantulkan adalah warna merah putih kepentingan Negara, dan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

Harga berlian akanmenjadi mahal bukan ka­rena mentah, tapi karena potongannya presisi. Potongan itu adalah keahlian dan skiil yang dimiliki oleh seorang  Purbaya dipotong oleh pengalaman panjang dalam mengelola Dana­rek­sa, memahami pasar modal, memahami APBN, memahami sektor keuangan. Potongannya presisi, sehingga ketika ia berbicara tentang pasar, ia tidak sedang meraba-raba, akan tetapi berbicara kondisi riil yang terjadi di negeri ini.

Bobot berlian menentukan nilainya.Bobot seorang pejabat adalah bobot integritasnya. Berlian te­tap berlian meski ditimbun tanah, berada dalam lumpur maupun di atas bara api sekalipun. Purbaya tetap menjadi Purbaya meski bertahun-tahun tidak berada di jabatan mentereng. Ia tidak haus dan rakus akan jabatan, tetapijabatanlah yang memanggilnya karena bobot yang dimilikinya.

Mengapa Purbaya ter­­­lihat begitu paradoks..? Karena ia berada di antara pecahan kaca. Di antara pejabat yang sibuk memoles citra, menjual kepalsuan, sementara Purbaya sibuk memoles kebijakan.Pecahan kaca si­buk membuat pernya­taan agar terlihat pintar.­Se­mentara berlian lebih banyak diam, tapi sekali berbicara, semua orang akan mengetahui mana yang asli.

Lihatlah cara Purbaya menjawab pertanyaan wartawan tentang eko­nomi. Tidak ada jargon po­pulis.­Tidak ada marah-marah.Ia menjawab dengan angka, dengan kurva, dengan logika supply and demand, dengan hukum ekonomi yang tidak bisa dibohongi. Itu adalah kekerasan berlian  setiap kata demi kata  yang di ucapkan dengan keras itu semata karena apa yang disampaikan selalu  berdasarkan fakta.

Sementara pecahan kaca akan selalu berusaha terlihat seperti berlian dengan cara menempelkan lampu sorot ke dirinya sendiri. Ia butuh buzzer, butuh infografis palsu, butuh tagar yang dibeli. Berlian tidak butuh lampu sorot.Ia memantulkan cahayanya sendiri. Purbaya tidak butuh buzzer untuk terlihat pintar, namun dengan kepintaran yang dimilikinya akan membuat orang pada berdatangan.

Berlian tidak akanpernah takut kehilangan jabatan karena nilainya tidak berasal dari jabatan itu. Jabatan Menteri Keuangan bagi pecahan kaca adalah tujuan akhir, sumber kilau, sementaraoleh Purbaya Yudhi Sadewa, jabatan sebagai Menteri Keuangan  hanyalah sebagai etalase untuk meletakkan berlian yang sudah ada sejak lama.

Baca Juga  Sengketa Pilgub Sumbar masih Berlangsung, Gubernur Sumbar bakal Dijabat Pjs

Secara hukum tata ne­gara, kehadiran Purbaya adalah anomali yang me­nyehatkan.Kita terlalu la­ma dipimpin oleh pecahan ka­ca dan pejabat yang pro­duknya adalah kebisingan regulasi yang tumpang tindih. Satu pecahan kaca membuat aturan, pecahan kaca lain membuat regulasi yang saling bertentangan. Atas kebijakan semua ini Rakyat jugalah yang akanluka.

Fungsi utama kehadiran berlian dalam industri adalah untuk memotong kaca.Hanya berlian yang bisa memotong kaca, kaca tidak bisa memotong berlian. Purbaya Yudhi Sade­wa diharapkan menjadi pemotong mata rantai pe­ca­han kaca itu: memotong birokrasi yang berbelit, memotong anggaran yang bocor, memotong kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang.

Kalau kita boleh beranologi, Bila Pecahan kaca  di­­kumpulkan sebanyak apa­­­pun tetap menjadi sam­­­pah. Seribu pecahan ka­ca tidak akan pernah men­jadi satu ber­lian. Tapi satu berlian sa­ja udah cukup untuk mem­beli seribu pe­cahan kaca.

Itulah mengapa publik tiba-tiba merasa lega ketika Purbaya muncul dipanggung Publik. Karena naluri publik itu jujur: meski awam tidak memahami itu ge­mo­logi, namun mata awam pun bisa membedakan ma­­na kilau berlian dan mana kilau pecahan kaca di bawah sinar matahari.

Pecahan kaca berbahaya jika dipungut dengan tangan kosong, ia akan melukai, sementara berlian aman selalu aman di tangan siapa pun, bahkan di tangan anak kecil se­kalipun. Kebijakan pecahan kaca akanmelukai rakyat kecil. Kebijakan berlian, karena ia keras, jernih, dan presisi, akan terasa keras di awal bagi para mafia, tapi aman dan menyejahterakan bagi rakyat kecil dalam jangka panjang.

Purbaya Yudhi Sadewa diibaratkan seperti berlian bukan karena ia sempurna tanpa cacat. Berlian pun juga ada mempunyai cacat mikro.Akan tetapi cacat berlian tetap jauh lebih berharga daripada kesempurnaan palsu pecahan kaca.­Pecahan kaca harus selalu terus dipoles agar terlihat tetap berkilau.Jika tidak dipoles sehari saja, debunya terlihat. Berlian tidak perlu dipoles setiap hari, ia tetap berkilau bahkan setelah disimpan bertahun-tahun di brankas kilaunya tidak akan pernah pudar.

Tugas kita sebagai rak­yat bukan untuk mengu­bah bagaimana pecahan kaca bisa menjadi berlian, ka­rena itu adalah sesuatu yang mustahil secara hukum alam.Namun yang per­lu kita lakukan adalah ba­gaimana menjaga agar ber­lian itu tidak ikut pecah karena terus-menerus di­ben­turkan dengan pecahan kaca.Caranya adalah dengan selalu menjaganya untuk tetap berada di tempat yang seharusnya berlian berada,yaitu di pusat pengambilan keputusan strategis, bukan di pinggiran sebagai hiasan.

Sejarah ekonomi Indonesia selalu mencatat, setiap kali negara ini hampir tenggelam oleh pecahan kaca, selalu muncul satu-dua berlian sebagai penyelamat seperti Bapak Widjojo Nitisastro, dan Bapak Ali Wardhana. Hari ini, di antara kebisingan pecahan kaca yang berserakan di mana-mana, kita melihat sa­tu berlian itu kem­bali­yai­tu Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, yang perlu diingat dan menjadi catatan khu­sus kita bahwa berlian tidak akan pernah datang dua kali dalam tumpukan kaca yang sama. Tidak ada orang yang hidup tanpa masalah, oleh karenanya jadikanlah masalah sebagai suatu kewajaran agar kita ikhlas menghadapinya..!!!