SOLOK, METRO–Wakil Wali Kota Solok, Ramadhani Kirana Putra menilai, prospek pengembangan peternakan di Kota Solok cukup bagus dan menjanjikan. Hal ini terlihat dengan masih banyaknya masyarakat yang menjadi peternak sapi dan kambing di Kota Solok.
Namun memang, meÂnurut Ramadhani peternak selama ini cukup terkendala dengan minimnya alih teknologi soal pakan dan lainnya. Dengan adanya pakan murah komplit akan sangat membantu.
“Selain untuk memenuhi kebutuhan ternak dari para peternak yang ada di kelompok tani, nantinya juga bisa dikomersilkan untuk menambah penghasilan petani,” tutur Ramadhani.
Ketika melihat usaha pakan ternak yang dikemÂbangkan warga, RamaÂdhani menegaskan ada peluang ekonomi yang cuÂkup menjanjikan. Selain pakan silase komplit, dengÂan bimbingan penyuluh dan pembinaan kelompok tani di Kota Solok juga memproduksi pupuk organik dan juga jamu untuk ternak.
Menghemat biaya proÂduksi, sejumlah kelompok peternak di Kota Solok mengembangkan pakan silase komplit untuk ternak sapi dan kambing. Bahan yang digunakan cukup terjangkau, jerami jagung, jerami padi, rumput liar, kulit ubi kayu dan juga probiotik yang dibuat sendiri. Silase hijauan ini bisa taÂhan sampai setahun.
Dari segi biaya, dengan penggunaan silase komplit diklaim bisa menekan biaya pakan ternak hingga Rp25 ribu per ekor per hari. Sementara, kalau pakai bahan pakan lainnya rata-rata biaya pakan sehari mencapai Rp40 ribu.
Pembuatan pakan murah dan berkualitas juga tidak terlepas dari bimbiÂngan penyuluh dan sosok inspiratif pakan ternak, Delmon serta dukungan dinas terkait.
Mendapat kabar itu, Wakil Wali Kota Solok, Dr Ramadhani Kirana Putra langsung meninjau lokasi pembuatan di kawasan Gawan, kelompok tani di kawasan Gawan, Kota Solok, Kamis (30/9).
Dalam kesempatan itu, Wawako bahkan mencoba langsung proses pembuatan silase komplit yang diawali dengan pemotongan jerami dengan mesin pemotong. “Ini sangat bagus untuk dikembangkan dan akan membantu banyak peternak kita di Kota Solok untuk menekan biaya proÂduksi,” ungkap Dhani.
Sementara itu, perwaÂkilan Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Bakri meÂngatakan, pihaknya masih terkendala dengan mesin untuk pengolahan pakan. “Kapasitas mesin yang digunakan masih rendah, jadi cukup memakan waktu untuk mencacah hijauÂan,” ujar Bakri.
Selain itu, peternak juga terkendala dengan timÂbangÂan hidup untuk memantau pertumbuhan sapi. “Kita ingin ada timbangan yang bisa dimanfaatkan Peternak, sehingga bisa mengetahui pertumbuhan sapi yang dipelihara,” ujar Bakri.
Menjawab aspirasi berbagai kelompok peternak dan peternak mandiri itu, Wawako berjanji akan menÂcarikan solusi terkait kendala yang dihadapi, peralatan dan juga timÂbangÂan. “Ini sangat penÂting, kita akan fasilitasi dengÂan dinas pertanian dan pihak terkait, kita uÂsahakan dan tentunya butuh proses dan ada mekanismenya,” tegas Bakri. (vko)






