PADANG, METRO— Bank Indonesia (BI) mencatat ketersediaan pasokan cabai merah di wilayah Sumatra Barat (Sumbar) masih terjaga seiring dengan berlanjutnya aktivitas panen dari sentra lokal maupun pasokan dari luar daerah, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumbar, Mohamad Abdul Majid Ikram mengatakan, pasokan cabai merah dari petani lokal berdampak mestabilkan harga dan mengendalikan tekanan inflasi.
“Di Kabupaten Solok, Kelompok Tani Sumber Rezeki melaksanakan panen kelima pada 2 Oktober 2026 dengan hasil mencapai 40 kilogram dari lahan seluas 500 meter persegi,” kata Abdul Majid, Minggu (4/10).
Selanjutnya, ungkap Abdul Majid,Kelompok Tani Alam Berkah melaksanakan panen ke-9 pada 28 September 2026 dengan hasil panen sebesar 150 kg dari luas tanam 2.000 meter persegi.
“Selain itu, Kelompok Tani Merapi Millennial di Kabupaten Agam juga melakukan panen ke-15 pada 21 September 2026 dengan hasil panen 86 kg dari luas lahan 0,13 Hektare,” ungkap Abdul Majid.
Menurut Abdul Majdi, berlanjutnya panen pada ketiga kelompok tani tersebut mengindikasikan pasokan cabai di tingkat petani masih terjaga sehingga berpotensi menahan tekanan inflasi yang lebih tinggi.
“Sedangkan pasokan cabai dari luar daerah seperti dari Jawa Tengah dan Jawa Timur masih menjadi dukungan terhadap ketersediaan pasokan cabai merah di pasar,” tutur Abdul Majid.
Abdul Majid menegaskan, meskipun pasokan cabai Jawa varietas TKX yang menjadi cabai konsumsi utama di Kota Padang relatif terbatas, kebutuhan masyarakat tetap dapat dipenuhi melalui pasokan dari varietas lain.
“Di sisi lain, cabai Kerinci (cabai darek lokal) mengalami peningkatan harga seiring tingginya permintaan dari Sumatra Utara dan Pekanbaru. Selain itu, masuknya cabai varietas Imperial, TW, CMK, dan NVI dari Jawa Timur dan Jawa Tengah turut membantu menjaga kelancaran distribusi dan ketersediaan cabai merah di pasar,” pungkasnya. (rgr)






