METRO PESISIR

Pasca Bencana Pekan Lalu, Bupati dan Satgas PRR Tinjau Jalan Putus

×

Pasca Bencana Pekan Lalu, Bupati dan Satgas PRR Tinjau Jalan Putus

Sebarkan artikel ini
TUNJUK—Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis tunjuk jembatan yantg ourtuis akibat air bah.

PARIAMAN, METRO–Dampak cuaca ekstrem yang melanda Kabupaten Padangpariaman dalam sepekan terakhir mendapat perhatian serius dari Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas P­RR) pascabencana wilayah Sumatera, khususnya Sumatera Barat. Dipimpin Ketua Tim sekaligus Ketua Tim Supervisi Satgas PRR Pascabencana Wilayah Sumatera, khusus­nya Sumatera Barat, Brigjen Pol. Yopie Indra Prasetya Se­pang, Satgas PRR turun langsung meninjau sejumlah lokasi terdampak banjir, longsor, dan pohon tumbang di Kabupaten Padangpariaman, kemarin.

Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi terkini di lapangan sekaligus memetakan kerusakan yang muncul akibat hujan lebat disertai angin kencang. Salah satu titik yang menjadi perhatian serius berada di Korong Sungai Pingai, Nagari III Koto Aur Malintang, Kecamatan IV Koto Aur Malintang, di mana badan jalan utama masyarakat terputus total akibat longsor.

Jalan tersebut tidak ha­nya menjadi akses mobilitas warga, tetapi juga merupakan jalur penting bagi aktivitas pertanian, pendidikan, serta penghubung antarkorong dan nagari hingga menuju Kabupaten Agam.

Bupati Padangpariaman John Kenedy Azis yang mendampingi peninjauan me­nyampaikan bahwa kedatangan Satgas PRR menjadi momentum penting untuk memastikan kondisi kerusakan dapat segera ditindaklanjuti. “Hari ini kami kedatangan Satgas penanggulangan bencana dari pusat yang dipim­pin oleh Brigjen Pol. Yopie Indra Prasetya Sepang. Kita melihat secara langsung kondisi Padangpariaman setelah banjir dan longsor yang terjadi satu minggu yang lalu,” ujarnya.

Baca Juga  BPBD Padangpariaman Sosialisasi Mitigasi Bencana, Kurangi Risiko di Sekolah

Menurut Bupati , bencana yang terjadi dalam sepekan terakhir merupakan rangkaian kedua setelah Kabupaten Padangpariaman sebelumnya menghadapi bencana hi­drometeorologi pada November 2025 hingga Januari 2026. “Ini bencana yang kedua. Yang pertama adalah bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025 hingga Januari 2026. Sekarang tahap keduanya, yaitu bencana yang terjadi satu minggu yang lalu,” jelasnya.

Akses Warga dan Pelajar Terputus

Bupati mengungkapkan, kondisi jalan di Korong Su­ngai Pingai terus memburuk. Jika beberapa hari sebelumnya sepeda motor masih dapat melintas, kini akses tersebut sudah terputus total dan tidak dapat digunakan. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena jalan tersebut merupakan jalur vital bagi ma­syarakat, khususnya para petani. Selain itu, akses tersebut juga menjadi penghubung menuju sejumlah wilayah di Padangpariaman hingga Ka­bupaten Agam. “Akibat cuaca ekstrem yang disertai hujan lebat dan angin kencang satu minggu lalu, jalan di titik ini putus sama sekali dan tidak bisa diakses. Ini jalur utama dan vital bagi warga dan para petani, bahkan jalan ini juga menghubungkan K­a­bupaten Padangpariaman dengan Kabupaten Agam,” ungkapnya.

Terputusnya akses juga mulai mengganggu aktivitas pendidikan. Anak-anak se­kolah dan masyarakat harus mencari jalur alternatif yang dinilai jauh lebih berisiko, termasuk melewati bagian ba­wah tebing dan menyebera­ngi sungai di sekitar lokasi. Situasi tersebut membuat peme­rintah daerah mendo­rong agar penanganan dilakukan secepat mungkin, mengingat akses jalan berkaitan langsung dengan keselamatan dan keberlangsungan aktivitas masyarakat. “Saya sangat berharap kepada Satgas Korwil Sumatera Barat agar kondisi ini dapat segera ditanggulangi dan ditindaklanjuti. Akses jalan ini betul-be­tul vital, bukan hanya menghubungkan korong dan nagari, tetapi juga menjadi akses penghubung Kabupaten Padangpariaman dengan Ka­bupaten Agam,” tegas Bupati.

Baca Juga  PKDP Berkolaborasi Membangun Ranah dan Rantau

Satgas PRR Pastikan Kerusakan Baru Dipetakan

Ketua Tim sekaligus Ke­tua Tim Supervisi Satgas PRR Pascabencana Wilayah Su­matera, khususnya Sumatera Barat, Brigjen Pol. Yopie Indra Prasetya Sepang, mengatakan peninjauan dilakukan untuk memastikan langsung kondisi lapangan sekaligus membedakan dampak bencana lama dengan kerusakan baru akibat cuaca ekstrem. “Tadi kami sudah melihat secara langsung beberapa titik longsor. Yang pertama akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025 lalu, kemudian yang ke­dua adalah titik yang terdampak cuaca ekstrem satu minggu yang lalu,” ujarnya.

Dari hasil pemantauan, Satgas PRR menemukan se­jumlah titik kerusakan baru, termasuk lokasi yang sebelumnya pernah terdampak bencana. “Kami datang ke sini untuk melihat secara langsung dampak banjir dan longsor yang terjadi. Kami ingin melihat apakah dampaknya terjadi di titik yang sebelumnya terdampak pada November atau justru di tempat yang baru. Ternyata, di beberapa titik memang ada lokasi-lokasi baru. Seperti di tempat ini, terjadi longsor lagi,” jelas Yopie. (efa)