METRO BISNIS

OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga di Tengah Ketegangan geopolitik

×

OJK: Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Terjaga di Tengah Ketegangan geopolitik

Sebarkan artikel ini
PAPARAN—Dewan Komisioner OJK menyampaikan hasil rapat bulanan terkait perkembangan Sektor Jasa Keuangan di Indonesia.

JAKARTA, METRO–Otoritas Jasa Keua­ngan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keua­ngan Indonesia tetap terjaga meski ketegangan geopolitik dan per­lam­batan ekonomi glo­bal­ ma­sih membayangi, seba­gaimana disampaikan da­lam Rapat Dewan Komisioner Bulanan pada 29 Juli 2026, dilansir dari Detik Finance.

Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia dan premi risiko global. Dana Mo­neter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3% akibat perang berkepanjangan, tetapi investasi di bidang ke­cerdasan buatan dipandang dapat menopang pertumbuhan ekonomi dunia.

Ketua Dewan Komisio­ner OJK, Friderica Wi­dya­sari Dewi, menjelaskan bahwa kebijakan tarif baru Amerika Serikat terhadap 60 negara mitra dagang juga menambah tekanan di pasar global, sehingga vo­latilitas harga komoditas diperkirakan masih berlanjut.

“Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan pada 29 Juli 2026 menilai stabilitas sektor jasa keuangan terjaga. Ketegangan geopolitik di kawasan timur tengah kem­bali meningkat me­nyu­sul gagalnya gencatan sen­jata antara Amerika Serikat dan Iran di awal Juli lalu. Eskalasi konflik kem­bali mendorong kenaikan harga minyak,” ujar Friderica.

Friderica juga me­ngung­­kapkan adanya perbedaan kondisi eko­nomi antarnegara. Aktivitas ma­nufaktur di negara maju menunjukkan perbaikan, sementara negara ber­kembang masih terbatas. Inflasi di AS mulai melandai dengan aktivitas eko­nomi stabil, dan ekonomi China pada kuartal II 2026 mencatat pertumbuhan terendah sejak akhir 2022.

“Sementara di Tiong­kok, rilis data kuartal II menunjukkan level pertumbuhan ekonomi terendah sejak akhir 2022 dengan konsumsi dan investasi swasta yang masih lemah dan ekspor tetap menjadi penopang utama,” kata­nya.

Baca Juga  Dilaunching secara Virtual, Menara Agung Kenalkan Honda All New CBR150R

Meski pasar keuangan global bergerak beragam akibat konflik di Timur Tengah, arus keluar dana asing mulai menunjukkan moderasi. Di dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dengan inflasi Juli 2026 sebesar 2,88% secara tahunan dan konsumsi kelompok menengah atas yang solid.

“Di sisi domestik, tekanan harga meredah dengan inflasi di bulan Juli 2026 tercatat sebesar 2,88% year-on-year. Permintaan menunjukkan pola konsumsi kelompok mene­ngah atas tetap solid, sementara aktivitas manufaktur di bulan Juli 2026 kembali memasuki zona ekspansi,” tutup Friderica.

Perkembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon (PMDK)

Pasar saham domestik menunjukkan arah pe­ngu­atan pada Juli 2026. Indeks Harga Saham Gabu­ngan (IHSG) ditutup pada level 6.236,13, mengalami penguatan 10,51 persen secara mtm, namun masih terkoreksi 27,88 persen secara ytd. Adapun resiliensi dan likuiditas pasar modal da­lam negeri secara umum tetap terjaga dengan baik.

Tekanan jual oleh investor asing di pasar saham domestik mereda pada Juli 2026, di mana tercatat a­danya net buy investor asing senilai Rp1,62 triliun (Juni 2026: net sell Rp19,63 triliun).

Dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread di pa­sar saham domestik me­nyempit ke level 1,33 persen sejalan dengan arah recovery pergerakan pasar di bulan Juli 2026 (Juni 2026: 1,75 persen). Sementara itu, Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) pada bulan Juli 2026 di pasar saham tercatat sebesar Rp­14,31 triliun (Juni 2026: Rp­22,23 triliun).

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) pada akhir Juli 2026 ditutup pada level 430,46, naik 0,14 persen mtm dan terkoreksi 2,35 persen ytd. Adapun yield Surat Berharga Negara (SBN) pada periode yang sama secara rata-rata me­ngalami kenaikan sebesar 6,15 bps mtm atau 102,37 bps ytd, dipengaruhi oleh dinamika persepsi risiko akibat ketidakpastian global.

Baca Juga  15 Pebalap Belia Timba Ilmu di AHRS

Sejalan dengan pergerakan pasar, kinerja industri pengelolaan investasi tetap terjaga baik di bulan laporan. Seiring inisiatif-inisiatif pendalaman pasar yang konsisten dilakukan oleh OJK, Self-Regulatory Organizations (SRO), dan para pelaku usaha, serta penguatan ekosistem digital di industri pasar modal, jumlah investor di pasar modal dalam negeri terus menunjukkan tren pe­ning­katan.

Penghimpunan dana oleh korporasi domestik di pasar modal domestik terpantau tetap kuat. Untuk penggalangan dana oleh dunia usaha melalui Securities Crowdfunding (SCF), sepanjang Juli 2026 (mtd) terdapat 17 Efek baru serta 8 penerbit baru, dengan dana dihimpun senilai Rp­25,79 miliar. Dengan per­kembangan tersebut, total nilai dana dihimpun melalui SCF secara agregat telah mencapai Rp2,01 triliun.

Di pasar keuangan derivatif, sejak 10 Januari 2025 hingga 31 Juli 2026, terdapat 113 pihak yang telah memperoleh persetujuan prinsip dari OJK.

Dalam rangka penegakan ketentuan dan pelindungan konsumen di PMDK, pada tahun 2026 (ytd per 31 Juli 2026), OJK telah mengenakan Sanksi Administratif atas pemeriksaan kasus di bidang PMDK yang terdiri dari Sanksi Admi­nistratif berupa Denda sebesar Rp91,09 miliar kepada 104 Pihak, 2 sanksi Pencabutan Izin, 1 sanksi Pembatalan Surat Tanda Terdaftar (STTD), 6 sanksi Pembekuan Izin, 9 sanksi Peringatan Tertulis, serta 8 Perintah Tertulis. (rel)