OLAHRAGA

Game Esports Mobile Legends jadi Ekskul SD-SMP di Surabaya, Orang Tua Buat Kesepakatan Jam Main

×

Game Esports Mobile Legends jadi Ekskul SD-SMP di Surabaya, Orang Tua Buat Kesepakatan Jam Main

Sebarkan artikel ini
ILUSTASI— Anak-anak bermain game Esport Mobile Legends.

JAKARTA, METRO–Wacana menjadikan Mobile Legends sebagai ekstrakurikuĀ­ler di sejumlah SD dan SMP di Surabaya menuai pro dan kontra. Sebagian orang tua meĀ­nyambut baik inovasi ini karena melihat potensi e-sports. Sebagian lain khawatir akan dampak negatifnya pada anak-anak, terutama risiko kecanduan.

Psikolog pendidikan dan keluarga Maulidah Muflichah menyarankan orang tua untuk tidak buru-buru menolak. PaĀ­ling tidak, ortu harus punya tiga sikap: terbuka, kritis, dan eduĀ­katif. Sebab, anak-anak zaman sekarang sudah tumbuh di era digital.

ā€œKalau orang tua langsung menolak, anak-anak bisa makin menutup diri. Justru dengan sikap terbuka, kita bisa menjadikan ini sebagai ajang mengenal anak lebih dalam,ā€ ujar Hj Maulidah Muflichah MPsi Psikolog CHt atau akrab disapa Bunda Lia.

Setelah terbuka, sikap kritis juga penting. Ortu perlu menggali tujuan dari kegiatan ekstrakurikuler tersebut. ā€œTanyakan, untuk apa sih ekskul ini? Apakah untuk peningkatan kemampuan strategi, kerja sama tim, atau memang hanya sekadar hiburan?ā€ tutur psikolog di Biro Psikologi Talenta Mulia Sidoarjo itu.

Baca Juga  Polo Air Nasional Bangkit!, Kejurnas 2025 Buktikan Potensi Anak Negeri

Terkait kekhawatiran akan kecanduan main game, peran ortu untuk mengawasi dan meĀ­ngontrol sangat penting. Terlebih, kontrol diri anak remaja masih berkembang dan perlu bimbingan konsisten dari orang tua.

ā€œJangan sampai anak pakai alasan ā€˜ini kan ekskul, Bu’ untuk bisa main terus-terusan sampai di rumah. Orang tua harus punya kesepakatan waktu yang tegas,ā€ imbuh Bunda Lia.

Ia menyarankan agar diĀ­buat aturan main yang jelas, seperti durasi satu jam per hari, dengan evaluasi berkala. Apabila anak konsisten mematuhi kesepakatan, bisa diberi reward. Namun, jika anak melanggar kesepakatan, orang tua harus tegas memberi konseĀ­kuensi.

ā€œMisalnya cabut WiFi atau kurangi akses ke gawai. Anak perlu belajar bahwa setiap peĀ­langgaran ada akibatnya,ā€ tegas Bunda Lia.

Baca Juga  Seluruh Atlet Sumbar Sudah Terdaftar di PON XX Papua

Ia juga mengingatkan pentingnya memantau tanda-tanda awal kecanduan, seperti sulit berhenti meski sudah diberi batas waktu, marah saat dilarang, atau mulai menarik diri dari pergaulan nyata. ā€œKalau sudah begini, orang tua harus segera ambil peran, jangan biarkan anak larut dan jangan ragu mencari bantuan profesional jika ortu sudah kewalahan,ā€ lanjutnya.

Pihak sekolah juga perlu memberikan edukasi tentang etika bermain, manajemen waktu, dan kesehatan digital bila wacana tersebut jadi direalisasikan. Agar tidak sekadar dimaknai sebagai pembenaran untuk bermain game, tetapi juga membentuk karakter dan kedisiplinan siswa.

ā€œJangan sampai karena ingin mengikuti tren, sekolah malah melegitimasi anak untuk bermain tanpa kontrol. Harus tetap ada nilai edukatif yang dipegang,ā€ tegas psikolog yang juga aktif memberikan edukasi parenting itu. (jpg)