AGAM/BUKITTINGGI

Bukittinggi Gelar Perayaan 100 Tahun Jam Gadang Bertaraf Internasional

×

Bukittinggi Gelar Perayaan 100 Tahun Jam Gadang Bertaraf Internasional

Sebarkan artikel ini
SEABAD JAM GADANG— Peringatan 100 Tahun Jam Gadang akan digelar secara meriah melalui rangkaian kegiatan seni, budaya dan literasi bertaraf internasional yang melibatkan puluhan negara.

BUKITTINGGI, METRO–Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias menegaskan peringatan 100 Ta­hun Jam Gadang akan di­ge­lar secara meriah me­lalui rangkaian kegiatan seni, budaya dan literasi ber­taraf internasional yang melibatkan puluhan negara.

Menurut Ramlan, momentum satu abad Jam Gadang bukan lagi sekadar agenda lokal maupun nasional, melainkan ajang untuk memperkenalkan Bukittinggi ke panggung dunia.

“Jam Gadang tidak perlu dikenalkan secara nasional lagi, sudah harus dikenalkan di tingkat internasional. Ada dua puluh kegiatan dimulai awal Juni hingga puncak di 21 Juni. Sebanyak 36 delegasi dan duta besar dari beragam negara dijadwalkan hadir,” kata Ramlan, Kamis (28/5).

Rangkaian kegiatan ter­­sebut dikemas dalam International Minangkabau Literacy Festival 2026 atau IMLF-4 yang mengusung tema “100 Years of Jam Gadang – From Literacy to Legacy: Building Weal­th, Peace and Sustainability Learning”.

Festival literasi dan kebudayaan internasional itu akan berlangsung selama lima hari, mulai 3 hingga 7 Juni 2026 dan diikuti 259 delegasi dari 36 negara.

Negara-negara yang dipastikan berpartisipasi di antaranya Australia, Inggris, Jerman, Rusia, India, Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat, Spanyol, Palestina hingga Yaman.

Ramlan menjelaskan, para peserta terdiri dari berbagai unsur, mulai dari delegasi umum, pembicara seminar, peluncur bu­ku, pembaca puisi hingga pelaku seni budaya.

Baca Juga  Total Kesembuhan Pasien Covid-19 Mencapai 1.008 Orang

“Para peserta terbagi ke dalam beberapa kategori, meliputi 122 peserta biasa, 20 pembicara, 19 pengisi peluncuran buku, 63 pembaca puisi dan 35 pelaku pertunjukan seni,” ujar­nya.

Berbagai kegiatan nantinya akan dipusatkan di kawasan Pasar Atas dan pelataran Jam Gadang, mulai dari pameran buku, bazar UMKM hingga aksi live painting.

Selain itu, seminar utama juga akan digelar di Balai­rung dengan pem­ba­ha­san seputar sejarah dan eksistensi Jam Gadang dari berbagai perspektif.

Para delegasi internasional juga dijadwalkan mengikuti aksi penanaman 100 pohon secara simbolis, pembacaan puisi bertema lingkungan serta kunjungan wisata ke Tabiang Ba­ra­sok.

“Malam harinya, penonton akan dihibur dengan Festival Randai dan pertunjukan seni tradisional di area Jam Gadang. Selanjutnya pembukaan kaligrafi melukis sepanjang 100 meter, peluncuran 100 judul buku serta Seminar Kebudayaan,” lanjut Ramlan.

Tak hanya itu, kegiatan juga akan diisi diskusi pariwisata dan ekonomi kreatif untuk mendorong pe­ngem­bangan sektor wisata Sumatera Barat.

Para delegasi internasional juga akan mengikuti program IMLF Goes to School serta Wisata Edukasi Terintegrasi (WIDURI) dengan mengunjungi Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta.

Baca Juga  29 Tahun Lubuk Basung Jadi Ibukota, Tingkatkan Persatuan Kesatuan Bangun Daerah

Kemegahan budaya Mi­nang­kabau juga akan ditampilkan melalui Parade 1.000 Perempuan Berbusana Adat Minangkabau dan Parade 100 Penyair Dunia Membaca Puisi atau World Poetry Reading.

Sebelum kegiatan ditutup, panitia juga akan meng­gelar IMLF Jam Ga­dang Fun Run yang ditargetkan diikuti 1.500 hingga 2.000 peserta, serta lomba mewarnai bagi anak-anak.

Ramlan optimistis perhelatan internasional ter­sebut akan memberikan dam­pak besar terhadap per­tumbuhan ekonomi krea­tif masyarakat, khu­sus­nya pelaku UMKM di Kota Bukittinggi.

“Melalui estimasi kunjungan mencapai 500 hingga 1.000 penonton per hari, perhelatan IMLF-4 diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif lokal,” katanya.

Saat ini, Pemerintah Kota Bukittinggi bersama panitia terus mematangkan berbagai persiapan teknis, mulai dari pembangunan panggung utama, sistem pencahayaan hingga pengamanan kegiatan.

Ramlan berharap, peringatan 100 Tahun Jam Ga­dang tidak hanya menjadi seremoni budaya, tetapi juga meninggalkan warisan literasi dan sejarah yang berkelanjutan bagi Sumatera Barat dan dunia internasional. “Tujuan utamanya adalah agar Bukittinggi segera dijadikan sebagai daerah khusus di Indonesia,” tegasnya. (pry)