SIJUNJUNG, METRO–Komunitas Bank Sampah Hope Sijunjung merumuskan skema baru dalam pengelolaan sampah. Dengan mengintegrasikan tata kelola limbah sisa operasional dapur agar tidak menjadi beban baru bagi lingkungan. Pengelolaan sampah dari program berskala masif (MBG), menemukan titik terang lewat kolaborasi lokal yang digagas Bank Sampah Hope yang bekerjasama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dapur Badunsanak Nagari Sijunjung, Kabupaten Sijunjung.
Upaya ini dirancang untuk memastikan sisa kemasan maupun bahan baku dari program pemenuhan gizi dapat dipilah sejak dari hulu. Hasilnya, sinergi antara pihak pengelola bank sampah dan petugas dapur yang mulai mengumpulkan material daur ulang kemasan telur dan kardus dalam jumlah besar.
Pendiri (Founder) Bank Sampah Hope, Govvinda Yuli Effendi, menjelaskan bahwa inisiatif ini lahir dari kesadaran akan besarnya potensi sampah yang muncul dari aktivitas dapur umum. Jika tidak dikelola dengan tepat sejak awal, sisa operasional tersebut dikhawatirkan dapat memicu penumpukan di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Dalam teknisnya, guna mempermudah mitra dapur dalam menyalurkan material yang telah mereka pilah tanpa mengganggu aktivitas masak-memasak harian. Bank Sampah Hope juga menerapkan skema jemput bola. Petugas akan mendatangi lokasi SPPG Dapur Badunsanak Nagari Sijunjung setidaknya satu kali dalam sebulan untuk mengangkut tabungan sampah yang sudah terkumpul. Atau bersifat kondisional dan tergantung permintaan.
Menariknya, pola Bank Sampah Hope Sijunjung itu tidak hanya sekedar berorientasi pada kebersihan lingkungan semata, melainkan juga menghadirkan siklus ekonomi baru.
Lewat mekanisme yang disepakati, setiap kilogram sampah bernilai ekonomis yang diserahkan akan dikonversi menjadi saldo tabungan digital. Pencatatan saldo tabungan tersebut kini dilakukan secara modern terintegrasi. Govvinda Yuli Effendi mengungkapkan bahwa penambahan saldo digital mitra akan langsung masuk melalui aplikasi resmi buatan internal mereka yang bernama HOPE Eco. “Melalui aplikasi HOPE Eco tersebut, pengelola dapur gizi dapat memantau akumulasi volume sampah yang telah disetorkan beserta nilai konversi rupiahnya,” tuturnya.
Digitalisasi ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi dan memotivasi pengelola dapur untuk lebih konsisten memilah sampah. “Selain menghasilkan tabungan sampah yang bernilai ekonomis, kolaborasi hilirisasi limbah organik dari sisa bahan baku dapur juga berpotensi dikembangkan secara optimal,” ujarnya.
Menurut Govvinda, kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disokong oleh Badan Gizi Nasional memang menuntut kesiapan pengelolaan lingkungan yang ekstra. Sisa-sisa sirkulasi logistik dapur masakan harus mampu diurai secara tuntas di tingkat lokal. Berdasarkan publikasi edukasi yang dibagikan oleh Bank Sampah Hope, jenis material yang menjadi fokus penjemputan utama meliputi kategori kertas atau kardus, botol maupun kemasan plastik, hingga material berbahan logam. “Ketiga jenis sampah kering inilah yang paling mendominasi sisa kemasan logistik dari dapur gizi. Langkah taktis yang diinisiasi di Nagari Sijunjung ini rencananya tidak akan berhenti di satu titik saja,” ungkapnya.
Bank Sampah Hope telah menyusun peta jalan jangka panjang untuk mereplikasi model kerja sama serupa ke berbagai fasilitas dapur umum lainnya di wilayah sekitar. Govvinda menegaskan bahwa perluasan jangkauan ini penting demi menciptakan ekosistem hijau yang merata di Kabupaten Sijunjung. “Semakin banyak dapur pemenuhan gizi yang terlibat, maka volume sampah padat yang bermuara ke lingkungan terbuka akan semakin berkurang drastis,” terangnya. Gerakan kolektif yang mengusung jargon pilah sampah, tabung manfaat, dan raih berkah bersama ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi daerah lain. Atau dalam bentuk pola yang berbeda dalam menyiasati dampak sampah terhadap lingkungan dari sirkulasi program yang masif. (ndo)






