OLAHRAGA

Rekor Tak Berpihak, Garuda Andalkan Magis SUGBK

×

Rekor Tak Berpihak, Garuda Andalkan Magis SUGBK

Sebarkan artikel ini
MOMEN EPIK— Timnas saat berhadapan dengan Bangladesh di babak grup FIFA ASEAN Cup 2026. Menang dengan skor 9-2, Tim Garuda berhasil melangkah ke partai final dan akan melawan Thailand, Senin (5/10) pukul 20.00 WIB di SUGBK, Jakarta.

JAKARTA, METRO— Timnas Indonesia akan menghadapi tantangan berat saat berjumpa Thailand pada partai final FIFA ASEAN Cup 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Senin (5/10/2026) pukul 20.00 WIB. Skuad Garuda bertekad memanfaatkan keuntungan bermain di kandang untuk merebut gelar juara pada edisi perdana turnamen tersebut.

Namun, ambisi Indonesia tidak akan mudah diwujudkan. Thailand memiliki catatan pertemuan yang lebih baik dan selama beberapa tahun terakhir kerap menjadi lawan sulit bagi Merah Putih.

Berdasarkan catatan pertemuan kedua tim, Indonesia dan Thailand telah berhadapan sebanyak 78 kali. Dari jumlah tersebut, Indonesia membukukan 25 kemenangan, sedangkan Thailand mengoleksi 37 kemenangan. Selebihnya berakhir dengan hasil imbang.

Rivalitas kedua negara sudah berlangsung sejak lama. Pertemuan pertama mereka tercatat pada Merdeka Tournament, 31 Agustus 1957, ketika Indonesia sukses mengalahkan Thailand dengan skor telak 4-0.

Indonesia bahkan sem­pat menikmati periode dominasi atas Thailand. Pada awal pertemuan ke­dua negara, Garuda mampu meraih empat keme­nangan beruntun, termasuk kemenangan dengan skor 6-3. Tren positif serupa kembali tercipta pada periode 1984 hingga 1985, saat Indonesia empat kali berturut-turut menundukkan Thailand.

Akan tetapi, catatan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan situasi da­lam beberapa tahun terakhir. Thailand justru lebih sering unggul ketika kedua tim bertemu. Dalam 10 pertandingan terakhir, Indonesia hanya meraih dua kemenangan, sementara Thailand menang lima kali dan tiga laga lainnya berakhir imbang.

Bahkan, Indonesia telah melewati tujuh pertemuan terakhir tanpa kemenangan atas Thailand. Catatan ini menjadi tantangan ter­sendiri bagi John Herdman dan anak asuhnya menjelang pertandingan penentuan gelar.

Kemenangan terakhir Indonesia atas Thailand dalam catatan tersebut terjadi pada leg pertama final Piala AFF 2016. Ketika itu, Indonesia yang bermain di Stadion Pakansari, Bogor, sempat tertinggal setelah Teerasil Dangda mencetak gol pada menit ke-33.

Namun, Garuda berhasil membalikkan keadaan pada babak kedua. Rizky Pora menyamakan skor pada menit ke-65, sebelum Hansamu Yama mencetak gol yang memastikan kemenangan Indonesia 2-1 lima menit kemudian.

Sayangnya, hasil tersebut tidak cukup untuk mengantarkan Indonesia menjadi juara. Pada leg kedua di Stadion Rajamangala, Bangkok, Thailand menang 2-0 melalui dua gol Siroch Chatthong. Hasil itu membuat Thailand keluar sebagai juara dengan keunggulan agregat 3-2.

Baca Juga  Satpol PP Padang Bekali Personel Beladiri Aikido

Pertemuan berikutnya juga belum memberikan kemenangan bagi Indonesia. Pada Piala AFF 2022 di Jakarta, kedua tim bermain imbang 1-1. Marc Klok membawa Indonesia unggul melalui titik penalti, tetapi Sarach Yooyen kemudian mencetak gol penyeimbang bagi Thailand.

Meski memiliki catatan pertemuan yang kurang menguntungkan, Indonesia tetap mempunyai alasan untuk percaya diri. Dua kemenangan dalam 10 pertemuan terakhir tersebut sama-sama diraih ketika Garuda bermain di kandang sendiri.

Selain kemenangan pada final Piala AFF 2016, Indonesia juga pernah menundukkan Thailand de­ngan skor 2-1 pada fase grup Piala AFF 2010 di SUGBK. Saat itu, Garuda lebih dahulu tertinggal setelah Surat Sukha mencetak gol untuk Thailand.

Bambang Pamungkas kemudian menjadi penentu kemenangan Indonesia lewat dua gol pada menit ke-82 dan 90+1. Kenangan tersebut menjadi pengingat bahwa dukungan publik Jakarta bisa menjadi modal penting bagi Garuda dalam menghadapi Thai­land.

Selain persaingan an­tarpemain, final kali ini juga menghadirkan duel menarik antara dua pelatih, John Herdman dan Anthony Hudson. Keduanya pernah berada dalam situasi berseberangan ketika Her­d­man menangani tim nasional Kanada, sedangkan Hudson menjadi bagian dari staf kepelatihan Amerika Serikat.

Herdman mengakui dirinya cukup mengenal pendekatan permainan yang biasa diterapkan Hudson. Pengalaman menghadapi tim yang ditangani Hudson menjadi salah satu bekal bagi pelatih asal Kanada tersebut dalam mempersiapkan strategi Indonesia.

“Dia tahu bagaimana saya bermain. Dia mempelajari Kanada ketika kami menghadapi Amerika Serikat dalam banyak pertandingan,” kata Herdman.

Menurut Herdman, final tersebut akan menarik karena kedua pelatih sama-sama berasal dari Inggris dan telah memiliki pemahaman mengenai karakter permainan masing-masing. Tantangannya kini adalah menerjemahkan pengetahuan tersebut menjadi strategi yang efektif di lapangan.

Dari sisi komposisi pemain, Indonesia diperkirakan tetap mengandalkan formasi 3-4-3. Kevin Diks berpeluang mengisi posisi penting di lini belakang sekaligus memimpin rekan-rekannya, sedangkan Joey Pelupessy dan Ivar Jenner diproyeksikan menjadi pengatur permainan di sektor tengah.

Di bawah mistar ga­wang, Maarten Paes dan Emil Audero menjadi opsi yang tersedia. Paes di­perkirakan berpeluang tam­pil sejak awal dengan mempertimbangkan kebugaran serta penampilannya sepanjang fase grup.

Sektor pertahanan kemungkinan diisi tiga pemain. Justin Hubner, Elkan Baggott dan Rizky Ridho menjadi nama yang berpeluang tampil untuk mengawal pertahanan Garuda, meskipun Herdman masih memiliki alternatif seperti Jordi Amat dan Shayne Pattynama.

Baca Juga  Jadwal Premier League Musim 2023/2024, Chelsea vs Liverpool Jadi Suguhan Pekan Pertama

Pada sektor sayap, Kevin Diks dan Calvin Verdonk diperkirakan membantu menjaga keseimbangan antara pertahanan dan serangan. Sementara itu, trio Mitchel Bakker, Ole Romeny dan Ragnar Oratmangoen berpotensi menjadi andalan untuk membongkar perta­hanan Thailand.

Indonesia dipastikan tidak dapat menurunkan Thom Haye karena masih menjalani hukuman lara­ngan bermain setelah menerima kartu merah langsung ketika menghadapi Malaysia. Absennya gelandang tersebut membuat Herdman perlu memaksimalkan pilihan pemain lain di lini tengah.

Sementara itu, akumulasi kartu kuning Elkan Baggott dan Ragnar Oratmangoen disebut tidak menghalangi keduanya tampil pada final. Berdasarkan informasi yang tercantum dalam materi pertandingan, akumulasi kartu kuning dihapuskan setelah matchday kedua fase grup pada setiap divisi sesuai ketentuan Pasal 9.2 FIFA.

Di kubu Thailand, Anthony Hudson diperkirakan menurunkan sejumlah pemain berpengalaman. Pelatih tersebut sebelumnya mengistirahatkan beberapa pemain utama pada pertandingan terakhir fase grup melawan Filipina, sehingga mereka berpeluang tampil lebih bugar dalam laga final.

Patiwat Khammai di­prediksi menjadi pilihan di posisi penjaga gawang. Sementara itu, Manuel Bihr dan Nattapong Sayriya berpeluang mengisi jantung pertahanan, dengan Suphanan Bureerat serta Chaiyapon Otton menempati posisi bek sayap.

Di lini tengah, Sarach Yooyen, Kritsada Kaman dan Seksan Ratree berpotensi menjadi motor permainan Thailand. Ketiga­nya diharapkan mampu menjaga penguasaan bola sekaligus mendukung serangan tim.

Thailand juga mempunyai sejumlah pemain berbahaya di sektor depan. Chanathip Songkrasin dan Kakana Khamyok berpeluang berperan dalam membangun serangan, sedangkan Supachai Jaided di­proyeksikan menjadi ujung tombak. Pilihan lain seperti Teerasak Poeiphimai dan Supachok Sarachat turut memberi variasi bagi lini serang Gajah Perang.

Dengan kualitas pemain dan pengalaman kedua tim, final diperkirakan berlangsung ketat. Indonesia harus mampu menjaga konsentrasi, mengantisipasi serangan Thailand, serta memaksimalkan setiap peluang di depan gawang.

Bermain di SUGBK menjadi kesempatan bagi Garuda untuk mematahkan tren negatif sekaligus membuktikan perkembangan tim di bawah arahan Herdman. Jika mampu mengatasi Thailand, Indonesia tidak hanya mengakhiri penantian panjang atas rivalnya tersebut, tetapi juga berpeluang mencatat sejarah sebagai juara pertama FIFA ASEAN Cup. (*/rom)