BUKITTINGGI, METRO–Dalam rangka peringatan 100 Tahun Jam Gadang, Pemerintah Kota Bukittinggi bersama Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi menggelar Seminar Nasional bertajuk Bukittinggi Kota Perjuangan di Balairung Rumah Dinas Wali Kota Bukittinggi, Kamis (18/6).
Gubernur Sumatera Barat yang diwakili Staf Ahli Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Jasman, menyampaikan, peringatan satu abad Jam Gadang menjadi momentum untuk mengenang sejarah panjang perjuangan bangsa. Menurutnya, Bukittinggi memiliki peran penting dalam sejarah Indonesia, terutama saat menjadi pusat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada masa Agresi Militer Belanda II.
“Bukittinggi bukanlah kota biasa. Kota ini pernah menjadi salah satu pusat perjuangan nasional. Karena itu, Bukittinggi layak disebut sebagai Kota Perjuangan,” ujarnya.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, menegaskan, peringatan 100 Tahun Jam Gadang bukan sekadar perayaan, melainkan upaya mengangkat kembali peran strategis Bukittinggi dalam menjaga eksistensi Republik Indonesia.
“Melalui seminar nasional ini, kami berharap lahir kajian akademis dan rekomendasi yang semakin memperkuat identitas Bukittinggi sebagai Kota Perjuangan serta menjadi dasar bagi pemerintah pusat untuk memberikan pengakuan yang lebih luas terhadap nilai sejarah dan kontribusi Bukittinggi bagi Republik Indonesia,” ungkapnya.
Direktur Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan, Agus Mulyana, mengapresiasi kepedulian Pemko Bukittinggi dalam melestarikan sejarah. Ia menilai peran Bukittinggi sebagai pusat PDRI dan keberadaan Jam Gadang merupakan bagian penting dari sejarah bangsa yang harus terus diwariskan kepada generasi muda.
Seminar nasional tersebut juga menghadirkan sejumlah tokoh, akademisi dan sejarawan, di antaranya Prof. Anhar Gonggong, Prof. Gusti Asnan, Dr. Sri Margana dan Dr. Zulqaiyyim. (pry)






