BUKITTINGGI, METRO–Karya kaligrafi monumental sepanjang 100 meter hasil goresan seniman dan kaligrafer internasional asal China, Prof. Yusuf Liu Baojun, menjadi salah satu daya tarik utama dalam rangkaian International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) dan peringatan 100 Tahun Jam Gadang di Kota Bukittinggi.
Pameran yang digelar di Ruang Rapat Istana Bung Hatta itu menghadirkan perpaduan seni, literasi, budaya, dan nilai-nilai spiritual yang dapat dinikmati masyarakat luas. Kehadiran karya tersebut sekaligus menambah semarak perayaan satu abad ikon kebanggaan Kota Bukittinggi.
Wakil Wali Kota Bukittinggi, Ibnu Asis, memberikan apresiasi kepada Prof. Yusuf Liu Baojun atas dedikasinya dalam menghadirkan karya seni kaligrafi Islam yang tidak hanya bernilai artistik tinggi, tetapi juga sarat dengan pesan keagamaan dan kemanusiaan.
Menurutnya, setiap karya yang ditampilkan mampu menerjemahkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Al-Qur’an melalui sentuhan estetika yang memukau.
“Makna-makna suci yang terkandung dalam Al Qur’an dapat diungkapkan melalui karya kaligrafi yang megah dan penuh estetika. Pameran ini tidak hanya menunjukkan kekayaan seni Islam yang luar biasa, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya dan pariwisata Bukittinggi sebagai pusat peradaban dataran tinggi Minangkabau,” kata Ibnu Asis, Jumat (5/6).
Ia menambahkan, penyelenggaraan pameran tersebut sejalan dengan semangat IMLF yang bertujuan memperkenalkan kekayaan budaya Minangkabau sekaligus mempromosikan potensi pariwisata Bukittinggi kepada masyarakat internasional.
Sementara itu, Bunda Literasi Sumatera Barat, Harneli Mahyeldi, mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kesempatan langka tersebut dengan mengunjungi pameran selama masih berlangsung.
Menurutnya, karya-karya yang dipamerkan tidak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga mengandung nilai edukatif dan spiritual yang dapat memperkaya wawasan pengunjung.
“Kami mengajak dunsanak dan seluruh masyarakat untuk datang dan menyaksikan langsung karya-karya kaligrafi yang indah dan sarat makna ini. Pameran ini menjadi bagian dari peringatan 100 Tahun Jam Gadang dan rangkaian kegiatan IMLF yang berlangsung,” ujar Harneli.
Ibnu Asis dan Harneli Mahyeldi tampak antusias saat meninjau area pameran. Keduanya mengamati secara langsung kaligrafi raksasa sepanjang 100 meter yang menjadi pusat perhatian pengunjung.
Mereka juga melihat lebih dekat sejumlah karya lainnya sembari mendengarkan penjelasan mengenai makna, filosofi, dan pesan yang terkandung dalam setiap goresan kaligrafi.
Prof. Yusuf Liu Baojun sendiri merupakan penulis dan seniman kaligrafi internasional asal China yang kini menetap di Malaysia. Sepanjang kariernya, ia telah menghasilkan sedikitnya 37 judul buku dan ratusan karya seni kaligrafi yang dikenal di berbagai negara.
Sebelum hadir di Bukittinggi, Yusuf Liu juga pernah memperagakan pembuatan kaligrafi sepanjang 25 meter pada ajang Wara-Wiri Festival Ekonomi Kreatif (Feskraf) di Jakarta.
Tidak hanya menghadirkan pameran kaligrafi, dalam rangkaian peluncuran 100 buku pada IMLF 2026, Prof. Yusuf Liu Baojun turut meluncurkan karya terbarunya yang berjudul Satu Jiwa Abadi di Sumatra.
Kehadiran seniman internasional tersebut semakin memperkuat posisi IMLF sebagai ajang literasi dan kebudayaan bertaraf global yang mempertemukan beragam gagasan, karya seni, dan nilai-nilai budaya dari berbagai negara di Kota Bukittinggi. (pry)






