Terbongkarnya sindikat prostitusi online anak di bawah umur oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumbar, saat penggrebekan sebuah kamar di hotel berbintang di Kota Padang, harus menjadi perhatian khusus dari Pemprov Sumbar dan aparat terkait.
“Pemerintah setempat harus melakukan pengawasan intensif terhadap hotel berbintang yang dijadikan lokasi transaksi para pejaja seks dan pria hidung belang. Hal tersebut untuk memutuskan rantai aktivitas malam yang selama ini terjadi,” kata Pengamat Sosiolog yang juga dosen FISIP Unand, Rinaldi Ekaputra, Kamis (31/1).
Menurut Rinaldi, keberadaan prostitusi secara online telah membuat banyak warga resah, terutama para orangtua yang memiliki anak perempuan yang menginjak dewasa. Maka, prostitusi terselubung yang menggunakan media sosial harus diberantas.
“Prostitusi online ini tidak hanya membuat resah warga, namun juga telah merusak moral anak bangsa. Oleh karena ini, pemerintah dan aparat kepolisian bertindak cepat, dan menindak tegas para perantara maupun mucikari prostitusi online tersebut,” kata Rinaldi lagi.
Penyebab para pelaku menyasar para pelajar SMK, menurut Rinaldi pula, karena di usia SMK para pelajar secara fisik sudah cukup matang dan secara psikologi anak di usia SMK masih mencari jati diri dan mudah terpengaruh. Maka tak heran sebagian mereka mengalami proses kegagalan dalam menginjak usia remaja.
“Sebagian saat anak di usia SMK kebutuhan atau gaya hidup terdapat banyak godaan. Misalnya, gengsi sesama teman sebayanya relatif tinggi. Sehingga bagi pelaku untuk memberikan iming-iming finansial lebih besar,” terang Rinaldi.
Hanya saja, sebut Rinaldi, prostitusi tersebut dilakukan secara terselubung dan sudah merambah ke transaksi online. Rinaldi menjelaskan, para pelajar yang terjun di dunia itu karena berbagai hal. Salah satunya, karena pernah dipaksa melakukan hubungan dengan pacar atau orang lain.
“Nah, ketika mereka merasa kotor atau tidak suci lagi, akhirnya mereka memilih terjun ke dunia prostitusi. Namun, ada juga yang dibujuk oleh kaki tangan pelaku untuk terjun ke dunia itu dengan dijanjikan finansial yang menggiurkan untuk anak-anak di usia mereka,” tutur Rinaldi.
Prostitusi online ini dilakukan para pelaku, tambah Rinaldi, tidak hanya di hotel bahkan di mana saja, bisa di kos-kosan ataupun tempat yang dirasa aman buat mereka. Ketika mereka bertemu lalu pergi menuju ke temoat yang mereka hendaki untuk melakukan hal negatif tersebut.
“Maka saya berharap kepada pemerintah daerah untuk terua melakukan koordinasi dengan semua pihak. Baik sekolah, dinas pendidikan, dinas kesehatan dan intansi terkait untuk memberikan informasi terkait kesehatan reproduksi, dan sanksi sosial bila mereka melanggar norma-norma yang ada,” papar Rinalni.
Selain itu, Rinaldi mengingatkan, kepada orang tua untuk memperhatikan tumbuh kembang anaknya. Pergaulan anaknya agar diperhatikan. Anak-anak ini terlibat kasus prostitusi online juga akibat kurangnya perhatian orang tua. Karena, orang tua saat ini hanya berperan sebagai pencari nafkah utama secara finansial.
“Dengan adanya kasus prostitusi online ini menunjukkan kondisi moral anak muda-mudi kita sudah sangat memperihatinkan. Oleh karena itu, orangtua perlu awasi anak-anak gadisnya dalam bergaul, agar kehormatan diri merema tetap terhaga dengan baik,” pungkas Rinaldi.
Seperti diberitakan, kasus prostitusi ini terjadi di Hotel Axana yang berada di Jalan Bundo Kanduang, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, Rabu (30/1) sekira pukul 22.00 WIB. Dalma penggerebekan dalam kamar 314, 322, dan 324 petugas berhasil mengamankan 10 orang.
Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, hanya 3 orang yang diduga terlibat jaringan prostitusi anak di bawah umur tersebut yaitu, pemuda berinisial F (18) yang berperan sebagai mucikari bersama dengan pasangannya DM (22), mahasiswi swasta di Kota Padang. Sedangkan, korban dari praktik prostitusi di bawah umur ini berinisial GLV (16) pelajar di SMK di Kota Solok. (mil)






