OLAHRAGA

The Three Lions Tantang Juara Bertahan, Inggris Incar Sejarah, Argentina Kejar Gelar Beruntun

×

The Three Lions Tantang Juara Bertahan, Inggris Incar Sejarah, Argentina Kejar Gelar Beruntun

Sebarkan artikel ini

SEMIFINAL Piala Dunia 2026 akan menyajikan salah satu laga paling bergengsi dalam sejarah sepak bola ketika Inggris menghadapi Argentina. Pertandingan akan berlangsung di Mer­cedes-Benz Stadium, Atlanta, Amerika Serikat, Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WIB. Satu tiket menuju partai puncak men­jadi taruhan dalam duel dua raksasa yang telah lama bersaing di panggung dunia.

Pertemuan ini bukan sekadar perebutan tempat di final. Inggris dan Argentina memiliki rivalitas panjang yang telah melahirkan banyak pertandingan bersejarah di Piala Dunia. Setiap perjumpaan kedua tim hampir selalu meng­hadirkan tensi tinggi dan drama yang sulit dilu­ pakan.

Bagi Inggris, laga ini menjadi kesempatan emas untuk mengakhiri penantian panjang menuju final Piala Dunia. The Three Lions terakhir kali tampil di partai puncak sekaligus menjadi juara pada edisi 1966. Sejak saat itu, mereka belum pernah lagi berhasil mencapai pertandingan perebutan gelar.

Sebaliknya, Argentina datang dengan status sebagai juara bertahan. Tim asuhan Lionel Scaloni ber­tekad mempertahankan mah­­kota yang diraih di Qatar empat tahun lalu. Jika ber­hasil, La Albiceleste akan menjadi tim pertama yang mampu mempertahankan gelar juara dunia sejak Brasil melakukannya pada 1962.

Perjalanan Inggris me­nuju semifinal tidaklah mu­dah. Tim besutan Thomas Tuchel harus melewati serangkaian pertandingan berat sejak fase grup hingga babak delapan besar. Mental juara mereka ber­kali-kali diuji sebelum akhir­nya mampu berdiri di an­tara empat tim terbaik dunia.

Pada babak perempat final, Inggris menunjukkan karakter luar biasa saat menghadapi Norwegia. Sem­pat tertinggal lebih da­hulu, mereka bangkit melalui dua gol Jude Bellingham untuk mengamankan kemenangan 2-1. Hasil tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa Inggris memiliki mental bertanding yang sangat kuat.

Sebelumnya, The Three­ Lions juga sukses melewati berbagai ujian. Mereka menyingkirkan Republik Demokratik Kongo, kemudian mengalahkan tuan rumah Meksiko meski harus bermain dengan 10 orang. Rentetan kemenangan itu menunjukkan kedalaman skuad yang dimiliki Thomas Tuchel.

Di kubu lawan, Argentina juga tampil konsisten sepanjang turnamen. Mereka memastikan tempat di semifinal setelah menaklukkan Swiss dengan skor 3-1 melalui babak perpanjangan waktu. Keme­nangan itu memperpanjang tren positif La Albiceleste sejak fase gugur dimulai.

Sebelum menghadapi Swiss, Argentina harus bekerja keras menyingkirkan Cape Verde dan Mesir. Dua pertandingan ter­sebut berlangsung sengit dan menguras tenaga para pemain. Meski demikian, pasukan Lionel Scaloni tetap mampu menjaga pro­­­duktivitas dengan selalu mencetak sedikitnya dua gol di setiap laga.

Baca Juga  147 Atlet Sumbar Dikirim ke Popnas

Ketajaman lini depan menjadi kekuatan utama Argentina. Lionel Messi masih menjadi pusat permainan sekaligus mesin gol tim dengan koleksi delapan gol sepanjang turnamen. Ketajaman sang kap­ten didukung oleh Julian Alvarez dan Lautaro Martinez yang siap memberikan ancaman dari berbagai situasi.

Meski produktif di lini depan, Argentina masih memiliki pekerjaan rumah di sektor pertahanan. Da­lam tiga pertandingan fase gugur, gawang mereka sudah kebobolan lima gol. Transisi bertahan beberapa kali terlihat rapuh sehingga memberikan ruang bagi lawan untuk menciptakan peluang.

Secara statistik, lini belakang Argentina sebenarnya masih tergolong solid. Sepanjang turnamen, mereka hanya menghadapi sekitar 45 tembakan dari lawan. Namun efektivitas penyelesaian akhir lawan membuat gawang Emi­­liano Martinez telah kebobolan enam kali.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Lionel Scaloni. Lini pertahanan yang dikomandoi Cristian Romero dan Lisandro Martinez dituntut tampil lebih disiplin saat menghadapi Inggris. Kesalahan kecil dapat dimanfaatkan lawan yang memiliki banyak pemain cepat di sektor sayap.

Inggris memiliki kekuatan yang bisa mengeksploitasi kelemahan tersebut. Bukayo Saka maupun Noni Madueke dikenal memiliki kecepatan dan kemampuan menusuk dari sisi lapangan. Keduanya diprediksi menjadi senjata utama untuk membongkar pertahanan Argentina.

Thomas Tuchel sendiri masih harus memikirkan komposisi terbaik di sektor belakang. Bek Jarell Quansah dipastikan absen karena menjalani hukuman larangan bermain. Sementara kondisi Reece James masih dipantau sehingga Djed Spence atau Ezri Konsa berpeluang mengisi posisi bek kanan.

Persoalan Inggris tidak berhenti di situ. Jordan Henderson hampir pasti absen setelah menjalani operasi pergelangan tangan. Selain itu, Declan Rice juga masih dipantau kondisinya setelah mengalami gangguan kesehatan pada laga sebelumnya.

Di lini depan, Harry Kane akan kembali menjadi tumpuan. Penyerang Bayern Munchen itu berpeluang mencatatkan penampilan ke-121 bersama tim nasional Inggris. Kane juga telah mengoleksi enam gol dan masih bersaing dalam perebutan Sepatu Emas.

Jude Bellingham menjadi sosok yang tak kalah penting bagi The Three Lions. Gelandang Real Madrid tersebut juga telah mencetak enam gol sepanjang turnamen. Kontribusinya tidak hanya dalam mencetak gol, tetapi juga mengatur ritme permainan dan membuka ruang bagi rekan-rekannya.

Baca Juga  Dari Warung ke Smartphone, dari Permainan Rakyat ke Cabor, Domino Mulai Bergeliat di Era Digital

Argentina tetap mengandalkan pengalaman Lionel Messi. Meski telah berusia 39 tahun, kapten La Albiceleste masih memperlihatkan kualitas luar biasa. Delapan gol dan dua assist menjadi bukti bahwa pengaruh Messi belum memudar pada Piala Dunia terakhir dalam kariernya.

Lionel Scaloni diyakini tidak akan banyak mengubah susunan pemain. Julian Alvarez dan Lautaro Martinez sama-sama me­miliki peluang men­dam­pingi Messi di lini de­pan. Fleksibilitas kedua penyerang tersebut memberi Argentina banyak pilihan ketika menghadapi tekanan lawan.

Semifinal kali ini juga menjadi pertemuan pertama Inggris dan Argentina pada era Lionel Messi di Piala Dunia. Terakhir kali kedua negara bertemu terjadi dalam laga persahabatan pada 2005. Karena itu, duel di Atlanta dipastikan menjadi momen bersejarah bagi generasi baru kedua tim.

Rivalitas kedua negara selalu menghadirkan cerita besar. Publik sepak bola masih mengingat gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona pada Piala Dunia 1986. Begitu pula insiden kartu merah David Beckham pada Piala Dunia 1998 yang hingga kini masih menjadi bagian dari sejarah panjang kedua negara.

Meski sejarah penuh emosi menyelimuti pertandingan ini, Lionel Scaloni menegaskan timnya hanya ingin fokus pada sepak bola. “Pesannya, ini adalah laga sepak bola. Kami akan meng­hadapi lawan yang sangat kuat, punya pelatih luar biasa. Ini laga sepak bola, bukan yang lain,” ujar Scaloni. Pernyataan tersebut menunjukkan keinginan Argentina untuk meninggalkan seluruh sentimen di luar lapangan.

Dari sisi permainan, pertandingan diperkirakan berlangsung sangat menarik. Inggris mengandalkan kedalaman skuad, kecepatan serangan balik, serta kekuatan fisik para pemainnya. Sebaliknya, Argentina bertumpu pada kreativitas Lionel Messi, kecerdasan taktik Lionel Scaloni, dan pengalaman para pemain yang telah merasakan gelar juara dunia.

Laga ini diprediksi berjalan ketat hingga menit-menit akhir. Inggris memiliki peluang mengakhiri penantian selama enam dekade menuju final, sedangkan Argentina ingin mempertahankan status sebagai penguasa sepak bola dunia. Apa pun hasilnya, duel di Mercedes-Benz Stadium diyakini akan menjadi salah satu per­tan­dingan paling berkesan dalam Piala Dunia 2026 dan menentukan siapa yang berhak melaju ke final menghadapi pemenang laga Prancis kontra Spanyol. (*rom)