METRO SUMBAR

Sumbar Masuk 12 Daerah Prioritas Pengembangan Ekonomi Kreatif

×

Sumbar Masuk 12 Daerah Prioritas Pengembangan Ekonomi Kreatif

Sebarkan artikel ini
KETERANGAN PERS— Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Luhur Budianda jelaskan pada wartawan terkait pengembangan pariwisata ekonomi kreatif.

PADANG, METRO–Provinsi Sumatera Ba­rat (Sumbar) masuk 12 daerah yang menjadi prioritas pengembangan eko­nomi kreatif (ekraf) oleh pemerintah pusat.  “Pemerintah pusat mengkluster pengembangan ekraf. Se­telah mengikuti rapat de­ngan Kementerian Eko­nomi Kreatif  dan disetujui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapppenas), sepertinya, Sumbar masuk 12 prioritas pe­ngembangan ekraf. Dari 38 provinsi, pemerintah hanya memilih 12 wilayah prioritas. Sumbar masuk di dalamnya,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Sumbar, Luhur Budianda, Selasa (5/11).

Dengan masuknya Sumbar dalam 12 daerah prioritas pengembangan ekraf, akan berdampak cukup besar bagi pengembangan ekraf di daerah ini. “Jika masuk 12 prioritas ini, tentu perhatian pemerintah ke Sumbar cukup besar melalui program kegiatan untuk meningkatkan ekraf di Sumbar ini,” harapnya.

Terkait pengembangan ekraf ini, Luhur Budianda menambahkan, pada ta­hun 2023, Pemprov Sumbar sudah menyelesaikan peraturan daerah (perda) tentang pengembangan ekraf. Termasuk juga menyiapkan peraturan gubernur (pergub) tentang pengembangan ekraf.

Baca Juga  Rangkaian HUT TNI AL, Danlantamal II Pimpin Ziarah

“Payung hukum dan teknisnya sudah ada. Ta­hun depan kita siapkan rencana induk dan roapmap. Ini bisa jadi pondasi panduan menyelenggaraan ekraf,” ucapnya.

Luhur Budianda mengatakan, ekraf memiliki 17 sub sektor. Berbeda de­ngan UMKM. Ekraf itu da­pat dikatakan ekraf apabila ada nilai tambah suatu produk yang memiliki ke­kayaan intelektual. Ada, kuliner, fesyen kriya, film, game, desain grafis, arsitektur dan lainnya.

Di Sumbar, ada tiga sub sektor unggulan ekraf yang telah masuk dalam roapmap yang telah disiapkan. Yakni, kuliner, kriya dan fesyen. Selain itu juga ada subsektor lokomotif, sisa­nya 12 pendukung.  Secara bersama sub sektor ekraf ini akan diperluas.

Baca Juga  Wawako Buka Training Problem Solving and Decision Making

“Kita juga sedang siapkan aplikasi untuk pendataan ekraf. Karena pendataannya susah. Misal­nya ada kuliner rendang, ada produknya ada yang memproduksinya jelas. Tapi bagaimana dengan ekraf seperti arsitektur karya punya diri sendiri. Musik yang berkarya sen­diri. Ini perlu pendataan,” terangnya.

Luhur Budianda me­ng­ungkapkan, data tahun 2022, ada 1.944 pelaku ekraf di Sumbar. Tahun 2023 meningkat menjadi 2.469 pelaku ekraf. “Untuk mendatanya, perlu pendataan secara digitalisasi. melalui handphone sudah bisa pe­laku ekraf mendaftar de­ngan memasukkan data pribadi dan produk mereka. Kita juga bisa masukkan ekraf dalam E Catalog pengadaan barang ajsa, sehingga bisa meningkatkan perekonomian pelaku ekraf,” terangnya.(fan)