METRO SUMBAR

Sembelih Bantai Adat, Jalin Silaturahmi saat Sembelih Daging Balonggok

×

Sembelih Bantai Adat, Jalin Silaturahmi saat Sembelih Daging Balonggok

Sebarkan artikel ini
PERSIAPAN—Terlihat sejumlah panitia mempersiapkan penyerahan daging balonggok.

PDG.PARIAMAN, METRO–Masyarakat Kabupaten Padangpariaman, dalam merayakan lebaran melaksanakan tradisi sembelih kerbau untuk dijual kepada masyarakat dengan baonggok. Pada suasana  hari raya lebaran Idul Fitri 1443 Hitjriah kemarin masyara­kat menggelar membantai kerbau dengan namanya bantai adat.  Saat itu juga terjalin komunasi dua arah, sehingga ada orang rantau pulang kampung dapat bertemu dalam lokasi pem­batai kerbau. “Kemudian daging kerbau tersebut kita jual secara baonggok ( dimasukan satu kantong plastik asoy ) kepada masyarakat, namun sebelumnya kita data dulu na­ma nama orang yang akan membeli,” kata Zulzaldi Labai Mang­kuto, kemarin.

Zulzaldi salah seorang alim ulama Nagari Paritmalintang, Kecamatan Enam Lingkung, Padangpariaman menyatakan lebih jauhnya, tradisi ini telah turun temurun sejak dahulunya. Makanya, dalam kaumnya di lebaran kali me­nyem­belih satu ekor kerbau, namun sebelumnya semua pembayaran lunas dengan melakukan pendatan siapa saja yang akan membelinya.

“Kita melakukan hal itu untuk pastikan berapa uang­ awal terkumpul untuk membeli ternak kerbau. Pengurus sebelumnya su­dah meninjau ternak yang akan dibeli di pasar ternak,” ujarnya.

Baca Juga  Ramadan Momentum Pererat Silaturahmi, BRI BO Padang Gelar Berbuka Bersama

Katana, bantai adat ini dilaksanakan di setiap korong atau surau dalam Nagari paritmalintang. Ada korong yang hanya mela­ku­kan bantai adat di masjid (maksudnya pengurus mas­jid), ada pula di satu ko­rong terdapat beberapa surau yang juga melakukan bantai adat.

“Tapi kita di Nagari Paritmalintang, di tempatkan satu tempat dengan kesepakatan nagari,  sehingga satu korong ada yang melakukan bantai adat satu ek sampai tiga ekor,” ujarnya.

Dikatakan, usai shalat Idul Fitri, ternak yang su­dah dibeli kaum atau korong dibantai di satu lokasi. Lokasi pembantaian yang telah disediakan sebelumnya, sengaja diga­bungkan korong – korong se Nagari Paritmalintang agar lebih memudahkan penyelenggaraannya.

Setelah dibantai, daging tersebut dionggok (dionggokan) sesuai dengan jumlah yang sudah disepakati se­belumnya. Pembagian da­ging tersebut bukan de­ngan sistem berat per kilogram, melainkan onggok (long­gokan).  “Satu orang mi­­ni­mal memesan 1 onggok. Ada pula yang memesan le­bih dari satu onggok, misalnya sampai 10 onggok,” ujarnya.

Akan tetapi katanya, seseorang yang memesan daging baonggok (berlonggok) lebih dari satu, berarti selain untuk kebutuhan dirinya sendiri, juga diberikan kepada orang lain.

Baca Juga  Lagi, Pemkab Tanahdatar Raih WTP

Lebih jauh disampaikan walinagari Paritmalintang Sudriman,  seorang mamak memberikan satu ong­gok untuk kemenakan, atau sebaliknya seorang kemenakan kepada mamaknya, seorang kakak memberikan kepada adik atau sebaliknya, adik mem­berikan kepada kakak­nya. Ada juga diberikan kepada karyawan tertentu bagi seseorang yang memperkerjakan  orang lain dalam usahanya.

“Dengan pemberian daging tersebut, seseorang yang ikut bantai adat semakin meningkatkan silaturrahmi dan tali persaudaraan. Baik antara orang yang memberi dengan yang menerima, maupun peserta bantai adat balonggok sesamanya. Seseorang yang turut bantai adat ini juga sebagai tanda bersedia hidup bakorong bakampung (bermasyarakat),” ujar Walinagari Paritmalintang Sudirman.

Sudirman katanya, se­ka­lipun sudah membeli da­ging baonggok,  seseorang juga membeli daging di pasar bebas untuk keperluan menjelang lebaran.

“Sekarang rata-rata per onggok daging tahun ini dikenai sebesar Rp 140.000 sampai Rp 150 ribu. Semua jenis tubuh kerbau tersebut, diberi rata masing-masing per onggok. Seperti daging, hati, kulit, usus, tulang dan sebagainya yang bisa dimasak dan dimakan,” tandasnya meng­­akhiri.(efa)